Sutima, Nenek Sebatang Kara Asal Kemuning Lor

Sekarang Hari Apa, kok Banyak Orang ke Rumah?

Tak ada yang ingin hidup miskin dan tinggal sendiri. Tapi jika takdir sudah berkata lain, manusia hanya mampu mengikuti. Inilah hidup Sutima, lansia asal Desa Kemuning Lor, Arjasa. Dia tetap tegar menjalani hidupnya walau sebatang kara.

HIDUP SENDIRI: Sutima saat membersihkan tempat tidurnya. Lansia itu hidup sebatang kara di Desa Kemuning Lor, Arjasa.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mata Sutima menerawang. Tatapannya kosong. Entah apa yang dipikirkan perempuan yang usianya lebih dari 60 tahun ini. Bahkan, saat ada orang yang menyapa, Sutima hanya diam saja. Dia seolah larut dalam lamunannya sendiri.

IKLAN

Rupanya, lansia yang kini tinggal sebatang kara tersebut pendengarannya memang sudah berkurang. Karena itu, butuh ucapan lantang untuk sekadar menyapanya. “Agak terganggu pendengarannya, jadi butuh keras. Kalau bicara dengan dekat baru dengar,” ucap Abdul Wafi, Sekretaris Desa Kemuning Lor, yang saat itu keliling kampung membagikan sembako.

Desa yang dikenal dengan keindahan panorama alam wisata Rembangan ini memang punya daya pikat tersendiri. Tapi menurut Wafi, sejak wabah korona merebak, desanya menjadi sepi. Sebab, jarang ada wisatawan yang berkunjung. Di sisi lain, jumlah penduduknya bertambah banyak. Sebab, beberapa warga yang sebelumnya pergi merantau telah kembali ke kampung halaman akibat wabah Covid-19. Kebanyakan, warga Desa Kemuning Lor mengadu nasib di tanah rantau dan bekerja sebagai tukang atau kuli bangunan.

Hantaman wabah korona, tentu saja berdampak pada Sutima. Selain hidup miskin, dirinya juga tak memiliki keluarga inti. Tak punya anak dan telah ditinggal suami. “Suaminya itu meninggal sekitar empat tahun lalu,” ujar Saini, tetangga Sutima.

Selama ini, Sutima kerap kali dibantu oleh cucu kemenakannya yang bekerja di Bali. Saat korona seperti ini, cucunya tersebut kembali ke Kemuning Lor dan tidak ada lagi pemasukan yang bisa diberikan ke Sutima. “Alhamdulillah, saat ini banyak orang yang memberi sembako. Jadi, bisa membantu untuk kebutuhan makan  sehari-hari,” ucapnya.

Hari mulai siang, Sutima yang awalnya duduk di teras kembali masuk ke rumahnya. Saat berdiri, Sutima tidak bisa tegak. Dia harus membungkukkan tubuhnya agar bisa berjalan. Saat memasuki rumahnya, ada perasaan yang teriris. Lantainya masih tanah, banyak cahaya yang masuk ke dalam rumahnya melalui lubang kecil dinding yang terbuat dari gedek. Rumah itu juga cukup sepi, tak ada suara televisi ataupun radio yang menemani kesehariannya.

Sementara itu, satu-satunya kamar miliknya tak lagi ditempati. Sejak hidup sendiri, tempat tidur Sutima digotong dan dipindahkan ke ruang tamu. Sutima yang berbicara dengan bahasa daerah dengan Saini pun, bertanya. “Hari apa ini, kok banyak orang ke rumah?” ucap Sutima kepada Saini. Dia tak menyangka jika orang-orang yang datang ke rumahnya tersebut untuk memberikan bantuan.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih