Tuding Limbah Tambak Racuni Ternak

Warga dan Nelayan Protes Pengelola

TENANGKAN MASSA: Kepala Desa Kepanjen Saiful Mahmud dan petugas Polsek Gumukmas menemui puluhan warga yang mendatangi lokasi tambak. Warga protes karena menganggap tambak membuang limbah sembarangan dan memutus jalan desa.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tomari masih teringat saat kerbau milik salah seorang warga tiba-tiba tewas pada Februari lalu. Tak diketahui pasti apa yang menjadi penyebab meninggalnya hewan ternak itu. Tapi, kabar yang beredar, kerbau itu mati setelah meminum air sungai yang ditengarai tercemar limbah. Warga menuding, tambak yang berdiri persis di bibir Kalimalang itu menjadi musabab petaka tersebut.

IKLAN

Pria asal Dusun Jeni, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, ini lantas bercerita, tak hanya sekali itu kasus kerbau mati mendadak. Beberapa bulan sebelumnya, pada 2019 lalu, kasus serupa juga sempat terjadi. Dia tak ingat persis kapan peristiwa itu berlangsung. Tapi, kata dia, ada dua ekor kerbau yang juga bernasib sama. Tewas setelah meminum air sungai. “Total ada tiga ekor kerbau milik warga yang tewas. Tapi waktunya tidak bersamaan,” ucapnya.

Awalnya, warga hanya diam karena tak memiliki bukti untuk menuduh pengelola tambak, PT Anugerah Tanjung Gumukmas (ATG). Hingga kemudian, mereka menyelidiki sendiri dan menemukan ada aktivitas mencurigakan. Saat tengah malam, ada gelontoran air yang keluar dari dalam empang. Air itu keluar melalui dua saluran pembuangan yang terhubung langsung dengan sungai.

Untuk meyakinkan, warga dan nelayan mengajak juru warta melihat langsung letak saluran pembuangan yang berada di sisi belakang kawasan tambak. Mereka menyiapkan dua perahu bermesin tempel. Untuk menuju ke sana memang tak bisa ditempuh melalui jalur darat dan harus menyusuri sungai. Bangunan tambak itu cukup panjang. Ini bisa terlihat dari pagar tembok yang dibangun mengelilingi empang. Bangunannya persis berada di sempadan sungai. “Itu saluran yang diduga sebagai jalur pembuangan limbah,” tutur Sulaiman, warga yang lain.

Sekitar 500 meter pagar tambak itu berdiri, terlihat ada beberapa saluran pembuangan. Dua di antaranya cukup besar, seukuran gorong-gorong drainase. Satu saluran ada semacam pintu penutup yang terbuat dari kayu. Warga tak mengetahui apa fungsi papan kayu yang menutup gorong-gorong itu. Dugaannya, sebagai alat bendungan agar air tak masuk ke tambak. Atau sebaliknya, papan kayu itu dibuka jika tambak akan membuang limbah ke sungai.

Selain dua saluran itu, masih ada beberapa pipa berukuran sedang dan kecil yang menjorok ke sungai. Satu ujung pipa tersebut tidak tampak dari luar, karena berada dalam bangunan tambak. Tak jelas apa fungsi pipa itu. Sebab, saat wartawan melihat, tak ada air yang mengalir dari pipa-pipa tersebut. Hanya saja, saat mengecek kondisi air di area saluran pembuangan, warnanya berbeda dengan arus air yang mengalir. Warnanya lebih hijau mirip bahan bakar jenis pertalite. Meski tak tercium bau menyengat.

Menurut Tomari, awalnya warga tak bereaksi meski ada kecurigaan limbah tambak mencemari sungai. Sampai kemudian, ada perluasan kawasan tambak hingga memakan jalan yang biasanya dilalui warga dan nelayan ke laut. Melihat itu, warga melakukan protes. “Akhirnya kami memberanikan diri mendatangi tambak,” katanya, yang saat itu bersama puluhan warga yang lain.

Namun, aksi protes warga tak sampai berlanjut. Sebab, beberapa saat kemudian petugas kepolisian dari Polsek Gumukmas bersama Pemerintah Desa Kepanjen datang ke lokasi. Aparat meminta warga tak menggelar aksinya dan mengirim perwakilan ke kantor desa. Mereka akan dipertemukan dengan pihak manajemen yang mengelola tambak.

“Karena saat ini lagi ada wabah korona, warga dilarang kumpul-kumpul. Besok saja kirim perwakilan untuk menyampaikan aspirasi ke kantor desa,” ujar Ipda Danu Prasetyo, Kanit Sabhara Polsek Gumukmas, di lokasi.

Kepala Desa Kepanjen Saiful Mahmud mengakui, gesekan antara warga dengan tambak tidak hanya kali ini saja. Beberapa waktu lalu, kata dia, warga juga sempat melayangkan protes. “Rencananya akan kami pertemukan antara warga dengan perusahaan tambak. Kami juga akan berkirim surat ke bupati dan dinas terkait, termasuk ke dinas lingkungan hidup terkait keluhan warga terhadap limbah tersebut,” tuturnya.

Selain itu, Mahmud menjelaskan, pemerintah desa juga akan berkirim surat ke Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP) untuk mengevaluasi perizinan tambak. Sebab, selama ini, dia berkata, limbah yang diduga mencemari sungai itu tak hanya mengakibatkan ternak mati, tapi juga membuat nelayan yang bekerja mencari kerang di sungai terserang gatal-gatal.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekuriti PT ATG Imam Rohani menganggap, sebenarnya tidak ada masalah antara warga dengan pengelola tambak. Sebab, sejak awal warga memang menuntut agar diberi jalan. Kata dia, perusahaan sudah menuruti permintaan warga dengan menyediakan jalan pengganti selebar satu meter.

Namun, dia menambahkan, warga menolak karena merasa kurang lebar. Hingga kemudian pihak manajemen memenuhi tuntutan itu dengan menambah lebar menjadi 1,5 meter. “Tuntutan warga lebarnya tiga meter. Tapi setahu saya, di sini tidak ada jalan selebar tiga meter,” ucapnya.

Namun, saat ditanya limbah, Imam menampik tudingan warga. Menurutnya, tidak ada limbah yang dikeluarkan oleh tambak. Sebab, perusahaan sudah memiliki instalasi pengelolaan air limbah (IPAL). Sehingga air yang keluar dari kawasan tambah disebutnya sudah ramah lingkungan. “Kami sudah punya IPAL, tapi masyarakat disuruh lihat sendiri tidak mau,” akunya.

Reporter : mg1

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih