Mahasiswa Jangan Takut Jadi Petani

MULAI TUMBUH: Bagus Rangga Sita, 25, warga Desa Wanisodo, Kecamatan Grujugan, Kabupaten Bondowoso, berfoto di dekat sawah miliknya yang ditanami padi.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagus Rangga Sita, warga Desa Wanisodo, Kecamatan Grujugan, RT 004, RW 006, merupakan satu dari sekelumit mahasiswa jurusan pertanian yang mau terjun menjadi petani setelah menyelesaikan pendidikan S-1.

IKLAN

Pria asal Desa Langon, Kecamatan Ambulu, tersebut terjun menjadi petani setelah menyelesaikan pendidikan pada 2017. Setelah menikah, dia tinggal di rumah istri di Kabupaten Bondowoso. “Awal mula menjadi petani memang sedikit susah. Soalnya, saya tidak fokus menggarap sawah,” tutur mahasiswa lulusan Agribisnis Unmuh Jember itu. “Awal dulu tidak full bertani,” imbuhnya.

Dia masih bekerja di pabrik tembakau Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu. Setelah kontrak habis, dia fokus bertani. “Yang membuat saya tak langsung jadi petani itu karena ragu,” ujar pria yang memiliki satu anak tersebut. Sebab, bertani itu seperti perjudian. Apa yang ditanam belum tentu menghasilkan sesuai seperti yang diharapkan. “Kadang terkendala cuaca, kadang hama, apalagi kalau pestisida yang dibutuhkan habis,” ujarnya.

Karena berstatus sebagai sarjana pertanian, Rangga memiliki motivasi lebih untuk menjadi petani. Dia memanfaatkan ilmu yang dimiliki dari bangku kuliah lalu mempraktikkannya saat terjun di lapangan. “Ketika terjun menjadi petani, saya melihat bahwa petani pada umumnya itu bersifat konvensional,” tuturnya.

Petani kurang memiliki pemahaman untuk menganalisis sumber masalah di lapangan. Misalnya, penyakit pada tanaman padi milik A terkena jamur Pyricularia grisea (blas). Sementara itu, tanaman padi milik B terkena bakteri Xanthomonas (hawar daun). “Fungisida yang seharusnya dipakai untuk menangani masalah tersebut berbeda,” ucapnya.

Dia menambahkan, masyarakat cenderung mengikuti pemberian obat yang sama seperti milik tetangganya. Padahal, masalah pada tanaman padi mereka berbeda. Para petani seharusnya mampu memberikan fungisida, herbisida, pestisida, maupun insektisida dengan dosis yang tepat. Agar tanaman padi atau apa pun yang akan ditanam nanti dapat menghasilkan panen yang menguntungkan para petani.

Rangga berharap, para lulusan pertanian mau terjun menjadi petani setelah menyelesaikan kuliah. “Kerja ikut orang itu gak gampang,” imbuhnya. “Lebih baik jadi petani. Memanfaatkan apa yang didapat di kuliah. Lalu, mempraktikkan di lapangan,” tandasnya.

Reporter : mg1

Fotografer : mg1

Editor : Hadi Sumarsono