Ojek Online Banjir Order

RADARJEMBER.ID-Seharian kemarin, driver ojek online di Jember kebanjiran order. Maklum, angkutan kota (lin) memilih mogok. Sehingga, penumpang yang biasanya naik angkot, malah tak segan memilih ojek online.

IKLAN

Meski demikian, para driver ojek online harus ekstra hati-hati. Sebab, jika sopir angkot tahu demikian, mereka khawatir malah akan menimbulkan kemarahan. Namun, namanya juga saling menjemput rezeki, ada siasat yang dilakukan driver ojek online.

Seperti yang disampaikan driver ojek online yang mengaku bernama Budi. Seharian kemarin, dia harus membalik jaket Gojek yang berwarna hijau jadi hitam. Bahkan, helm penumpangnya pun harus disembunyikan di dalam jok motor matiknya. “Penumpang banyak, tapi kerja waswas,” akunya, Senin (6/8) kemarin.

Banyaknya penumpang itu di Terminal Tawangalun. Maklum, basis penumpang lin ada di terminal tersebut. Sehingga, sangat logis jika kemarin dia kebanjiran order. Sebab, semua lin di Jember memilih mogok sebagai bentuk protes adanya angkutan online.

Diakuinya, sejak adanya aksi demo sopir angkutan dan ojek konvensional 2 November 2017 lalu, para driver ojek online sudah dilarang mengambil penumpang di area terminal dan stasiun. Pun demikian di Terminal Tawangalun. Sehingga, para driver ojek online harus menunggu penumpangnya di sekitar ruko barat SPBU Jubung.

Kata Budi, karena kemarin kondisinya kurang kondusif, dia dan temannya memilih tak mangkal. Hanya seliweran di sekitar terminal, supaya sinyal aplikasi orderan penumpang bisa nyantol. “Kalau pas dapat orderan, baru saya datangi penumpangnya dan langsung cabut,” katanya.

Sebab, diakuinya, ada info sebagian sopir lin sedang menjaga aktivitas ojek online. “Kami (ojek online, Red) punya grup WA. Jika ada informasi, saling sharing di sana. Termasuk info kewaspadaan seperti ada demo,” ungkapnya.

Sementara itu, Wildan, salah seorang mahasiswa yang dulunya pengguna lin mengakui bahwa dirinya sudah beralih jadi penumpang setia ojek online. Alasan utamanya, diakuinya ojek online lebih fleksibel. Selain itu, juga bisa lebih murah.

Seperti yang jadi pengalamannya. Dia harus bayar ongkos Rp 5 ribu untuk membayar lin dari stasiun Jember ke tempat kosnya di kawasan kampus. Namun, jika numpang ojek online, hanya cukup membayar Rp 3 ribu.

Semisal berangkat rombongan 5 orang, dia cukup memesan taksi online. Jarak yang sama cukup bayar Rp 12 ribu. Semisal punya saldo Go Pay, harganya bisa lebih murah lagi. “Kalau orang 5 kan bayarnya cuma Rp 2.500. Sudah ber-AC dan diantar sampai di depan pintu kosan,” ujarnya.

Tak hanya itu, driver ojek maupun taksi online, diakuinya jauh lebih jujur. Sebab, di aplikasinya, sebelum penumpang memesannya sudah tahu harga tarifnya. Selain itu, diakuinya driver angkutan online cukup ramah. “Kalau pelayanannya buruk, kita bisa mengadu. Tinggal beri tanda bintang paling rendah,” terangnya.

Soal memesan jemputan transportasi online, diaku Wildan, sangat mudah. Terlebih, saat ini hampir semua mahasiswa memiliki gawai (gadget). Dari alat ponsel android itu, calon penumpang sudah bisa mengunduh aplikasi Gojek di Playstore. Setelah memiliki aplikasinya, tinggal menyeting tempat jemput dan lokasi tujuannya. Kemudian, muncul jarak dan ongkos yang harus dibayar. “Bahkan, foto driver dan nomor kendaraannya juga ada,” katanya.

Perlu diketahui, aksi demo dan mogok kerja sopir angkot seperti ini, sebenarnya sudah pernah dilakukan. Bahkan, sampai Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo memfasilitasi pertemuan angkutan konvensional dan online berdialog di Polres Jember, 2 November 2017. Saat itu, mereka sempat menggelar deklarasi damai.

Reporter : Rully Efendi
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :