Jalur Vital Nyaris Lumpuh

Akibat Banjir karena Hujan Deras

BUKAN LOCKDOWN: Hujan deras membuat Jalan Mastrip kebanjiran. Ketinggian air hingga selutut orang dewasa. Ini warga berinisiatif menutup jalan. Istilah yang lagi beken di-lockdown. Namun, bukan karena korona, melainkan karena banjir.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hujan deras, siang kemarin (6/4), membuat sejumlah wilayah di Jember tergenang banjir. Bahkan, beberapa jalan yang menjadi jalur vital nyaris lumpuh. Sebab, di beberapa titik jalan, ketinggian air hampir mencapai paha orang dewasa. Sampai-sampai ada warga yang berinisiatif menutup akses jalan tersebut.

IKLAN

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, jalan yang tergenang air cukup tinggi adalah jalur yang menjadi langganan banjir. Salah satunya adalah Jalan Mastrip. Genangan air di jalan yang berada di daerah kampus itu tingginya mulai dari mata kaki, lutut, hingga paha orang dewasa. Tidak sedikit pengguna jalan terjebak dalam banjir dan mengakibatkan motornya mogok.

Tingginya air lantaran saluran drainase tak mampu menampung volume air. Sehingga warga mulai berinisiatif menutup akses jalan dengan peralatan seadanya. Akibatnya, warga di Perumahan Mastrip terdampak. Rumah warga juga tergenang air sebetis orang dewasa. “Jalan Mastrip memang sering banjir, tapi baru kali ini hujan terus-menerus beberapa hari hingga membuat banjir besar,” tutur Wiwik Agustin, warga setempat.

Menurutnya, Jalan Mastrip menjadi langganan banjir lantaran saluran pembuangan tidak dibangun secara tepat. Artinya, kata dia, di daerah atas atau Jalan Tidar tidak ada saluran drainase. “Ada cuma sedikit. Itu pun belum selesai-selesai,” ujarnya. Selain itu, drainase di Jalan Mastrip juga dinilainya terlalu kecil, sehingga air meluap ke jalan.

Selain Jalan Mastrip yang kebanjiran, Jalan Jawa dekat gerbang Universitas Jember (Unej) atau Dispendukcapil, Jalan Kaliurang, dan Jalan Hayam Wuruk Kaliwates, juga mengalami kondisi serupa, tergenang air akibat guyuran hujan.

Sementara itu, di Jalan Hayam Wuruk, Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, terjadinya banjir ini memang sudah menjadi langganan setiap hujan deras terjadi. Jalan yang banjir di bagian sisi utara, tepatnya di depan Kantor Kecamatan Kaliwates. Selain itu, di depan showroom mobil dan depan gudang pengolahan tembakau, genangan air juga cukup tinggi. Akibatnya, banyak motor mogok. Sementara, kendaraan roda empat harus lewat sisi selatan dan harus pelan-pelan.

Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember datang ke lokasi dan menjebol pemisah jalan yang dipasang beton cor. Dibukanya penahan air tersebut membuat genangan air mengalir ke sisi selatan jalan sehingga air berangsur surut. Namun, karena hujan tak juga mereda, genangan masih terjadi meski tak separah sebelumnya. “Untuk daerah kota, terpantau ada empat jalan yang banjirnya parah,” ucap Heru Widagdo, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jember.

Menurut dia, banjir di ruas jalan terjadi karena intensitas hujan deras dan cukup lama. Sehingga membuat selokan tidak cukup menampung air. Dia menambahkan, selama sepekan terakhir ini hujan terjadi hampir setiap hari. Kondisi ini memang anomali. Sebab, kata dia, surat dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, musim hujan di Jember diprediksi akan berakhir pada 31 Maret kemarin. “Seharusnya intensitas hujan itu terjadi penurunan,” ujarnya.

Namun, pada laporan perkiraan dari BMKG Juanda per enam jam sekali, Jember kerap terjadi hujan. Heru Widagdo menjelaskan, jika prediksi BMKG awal pada April masuk musim kemarau, tapi masih hujan, berarti perlu diwaspadai dengan potensi angin kencang dan puting beliung. “Kalau masih ada hujan pada pergantian musim ini, ada potensi bahaya angin kencang dan puting beliung,” paparnya.

Adanya perbedaan suhu panas dan dingin itulah yang menurutnya menjadi potensi berembusnya angin semakin kencang. “Masa transisi atau pancaroba ini, ada kecenderungan perbedaan suhu dan dingin. Ini yang membuat angin kian kencang,” tuturnya.

Walau kerap kali hujan lebat disertai angin akhir pekan ini, namun belum ada korban jiwa atau merusak rumah warga. Hanya terjadi pohon tumbang. “Pohon tumbang hanya dua lokasi, di RS Paru dan Rambigundam,” terangnya.

Sebagai orang kebencanaan, Heru tidak hanya mengimbau masyarakat dengan bahaya hujan disertai angin kencang saja. Lebih dari itu, dia juga meminta agar masyarakat selalu menjaga kesehatan lantaran musim pancaroba kecenderungannya memunculkan berbagai penyakit. Apalagi, kata dia, sekarang Jember juga darurat Covid-19.

Oleh karenanya, Heru menambahkan, jika tidak ada keperluan mendesak dan penting alangkah baiknya berdiam diri saja di rumah. Apalagi saat hujan seperti ini, suhu yang dingin membuat tubuh lebih mudah drop. “Kalau di jalan hujan, lebih baik berteduh. Tapi berteduh di tempat yang aman. Jangan berteduh di pohon yang tinggi. Sebab, selain pohon itu rawan tumbang, juga rentan tersambar petir,” tandasnya.

Reporter : Dwi Siswanto, Jumai

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih