Persid Usai Gagal di Liga 3: BUBAR JALAN, MOVE ON

DWI SISWANTO/RADAR JEMBER KETIKA MASIH BULAN MADU: Mirza Rahmulyono (bertopi membentangkan syal) ketika masih semangat-semangatnya memanajeri Persid. Namun, banyaknya persoalan membuat dia akhirnya menyerah.

RADARJEMBER.ID-Gagal lolos ke fase 16 besar kompetisi Liga 3 Jawa Timur, jujur memang mengecewakan. Tapi, memperpanjang rasa kecewa sepertinya malah akan membuat luka. Move on tanpa melupakan evaluasi tentunya lebih bijak.  Lalu, bagaimana dengan

IKLAN

Bubar jalan. Ya, singkat dan ringan saja. Bubar dan kembali ke keseharian masing-masing pemain. Itulah yang disampaikan Iwan Sampurno, kapten Persid Jember.

Tanpa adanya kompetisi lanjutan apa pun yang akan dilakoni Persid, para pemain otomatis tidak melakukan latihan dan lebih memilih kembali pada aktivitasnya sendiri-sendiri. “Ada yang masih di ranah sepak bola, ada juga yang kembali bekerja,” ujarnya.

Beberapa pemain, kata dia, ada yang memutuskan bergabung dengan klub lain di luar Jember. Namun Iwan enggan menyebutkan siapa saja dan klub mana saja yang dimaksud. “Ada sebagian yang nyari klub lain, dan ada yang diminati sejak awal oleh tim lain. Mereka menyambut baik kalau ada tawaran tersebut,” ujarnya.

Sementara sebagian pemain juga dipilih untuk seleksi memperkuat tim Jawa Timur untuk perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) dan menjalani pemusatan latihan di Surabaya. Di antaranya Faisol, Haigal, Airlangga, dan Dwi Adji. Sisanya memilih untuk kembali ke kegiatannya sebelum ditunjuk kembali memperkuat Persid, termasuk Iwan yang bekerja di salah satu instansi perbankan swasta di Jember.

Dirinya memandang fenomena seperti ini sudah biasa terjadi di tim sepak bola. Termasuk bongkar pasang pemain yang memilih hengkang untuk memperkuat klub lain. “Namanya sepak bola, keluar masuk pemain pasti ada setiap musim,” imbuhnya.

Namun Iwan mengaku cukup puas dengan performa Persid yang pada musim ini berhasil menempati posisi ketiga klasemen grup. Meski masih kurang beruntung karena tidak lolos ke fase 16 besar, dirinya sudah sangat optimistis dengan prestasi Persid ke depannya.

“Musim ini prestasi Persid sudah sangat bagus dibanding tahun-tahun lalu. Terkait keluar masuk pemain kan sudah biasa, nanti tergantung pada visi pelatih ke depan seperti apa. Saya optimis pasti bisa karena dari segi materi dan kualitas, di antara daerah timur lain Jember masih lebih unggul,” jelasnya.

Menurutnya, kegagalan Persid melaju ke fase 16 besar hanya disebabkan ketidakberuntungan saja. Dia memastikan seluruh pemain sudah berupaya semaksimal mungkin. Terbukti dengan kiprah Persid selama fase penyisihan yang mampu menang enam kali, seri tiga kali, dan kalah satu kali.

Peningkatan positif ini juga dipandang dari distribusi gaji yang lebih jelas. Iwan tak menampik pada manajemen kali ini jauh lebih baik. “Alhamdulillah masih lancar-lancar saja, jadi nggak bingung masalah gaji,” ujarnya tanpa mau menjelaskan lebih lanjut.

Sebelum ini, Mirza Rahmulyono memang membebaskan pemainnya untuk mencari klub lain yang lolos ke babak 16 besar Liga 3 Jawa Timur. “Yang jelas kita bebaskan mereka mencari klub lain di fase selanjutnya. Karena itu urusannya dengan rezeki mereka mengadu nasib di sepak bola, kalau surat keluarnya ditahan ya kasihan,” ujar Mirza.

Sementara, Jaenuri, mantan pelatih Persid Senior tahun 2017 lebih memilih agar kegagalan lolos fase 16 besar kompetisi Liga 3 Jawa Timur menjadi evaluasi. Dia menilai, adalah sejarah baru Persid Jember musim ini seperti tidak berkutik menghadapi tim-tim di Tapal Kuda. “Ini pertama kali Persid kalah dengan PSSS Situbondo. Bahkan dengan Banyuwangi yang bukan Persewangi juga kesulitan,” tegas pria yang juga guru olahraga di SDN Gebang 5, Patrang ini.

Dia mengaku, selaku pencinta bola di Jember bukan hanya ikut merasakan sedih dengan kegagalan yang dialami Persid Jember musim ini. “Untuk lolos ke putaran dua saja tidak bisa,” terangnya.

Hal inilah yang diakuinya harus menjadi evaluasi bersama oleh semua pihak termasuk manajemen. Diakuinya, sebenarnya Persid Jember masih bisa berbicara kemarin, meskipun dirinya juga tidak menafikan adanya tim yang tidak fair dalam kompetisi itu. “Termasuk yang cukup mengganggu adanya tim yang mengundurkan diri, ini sangat berpengaruh terhadap poin yang diraih Persid Jember,” tegasnya.

Namun, di luar berbagai hal nonteknis tersebut, Jaenuri lebih tertarik untuk membedah tim Persid Jember sendiri. “Kalau boleh dibilang skuad Persid Jember tahun ini kalah kualitas,” ucapnya.

Dirinya bukan ingin membandingkan tim sebelumnya yang bisa maju lolos tingkat Jawa Timur. Tapi, setidaknya Persid tahun ini tidak terlalu terganggu dengan masalah nonteknis, misalnya terkait gaji. Ini berbeda dengan tahun sebelumnya, para pemain ini malah kesulitan dengan gaji mereka yang tidak rutin dibayarkan oleh pihak manajemen. “Gaji tahun ini lebih lancar kan. Kalau tahun kemarin malah tersendat-sendat, namun bisa berprestasi tinggi,” terang Jaenuri.

Jaenuri pun menganalisa ada kekurangan dalam tim yang memang tidak bisa dibohongi dan terlihat kentara. “Tim Persid Jember tahun ini minim pengalaman dan jam terbang,” terangnya. Dirinya melihat pembentukan tim ini juga tidak memiliki waktu banyak untuk menyiapkan diri.

Dengan kata lain persiapan yang memang cukup mepet sehingga sangat berpengaruh dalam kematangan tim dan penerapan strategi dalam bertanding. “Tim senior yang ada di tim juga lebih sedikit. Kalau kemarin ada sekitar lima pemain sudah profesional, tahun ini hanya tiga pemain,” paparnya.

Dirinya menuturkan hal ini tentu sangat penting bagi setiap tim untuk menyiapkan komposisi dan strategi jauh-jauh hari. Hal ini tidak bisa dilakukan dengan instan, tetapi dengan proses. “Akan semakin terlihat kematangan tim saat bertanding dengan penuh tekanan. Tim yang matang akan lebih baik dalam bertanding,” terangnya.

Oleh karena itu, Jaenuri mengatakan bahwa boleh saja masyarakat dan manajemen serta semua pihak yang cinta dengan Persid Jember untuk meratapi kegagalan ini. Namun, dirinya berpesan untuk tidak terlalu lama. Pihaknya memberikan saran kepada semua pihak ini untuk menatap masa depan yang lebih baik.

“Saran saya, untuk kompetisi mendatang lebih baik menyiapkan tim jauh-jauh hari,” terangnya. Termasuk juga yang penting terkait dengan pengurus untuk juga tidak terus-terusan berbeda pendapat. Lebih baik semua pihak bersatu demi kemajuan Persid Jember dan seluruh olahraga yang ada di Jember.

“Semoga saja tahun depan Persid Jember bisa lebih baik lagi dan bisa mengulang memori saat menjadi juara divisi dua tahun 2002-2003 silam. Jika semua pihak mendukung, pasti impian itu bisa tercapai,” pungkasnya.

Reporter : Rangga Mahardika, Lintang Anis Bena Kinanti
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Yerri A Aji
Fotografer: Dwi Siswanto

Reporter :

Fotografer :

Editor :