Manager Persid Mirza Rahmulyono: Saya Menyerah

Mirza Rahmulyono Manager Persid

RADARJEMBER.ID-Semangat baru, motivasi baru, kemasan baru, dan manajemen baru diterapkan Persid tahun ini. Paling mencolok adalah pengolahan dana secara mandiri. Sayang sang manager Mirza Rahmulyono yang mau menangani Persid tanpa dana APBD tersebut, kini sudah menyerah.

IKLAN

“Saya sudah lepas tangan. Siapa manager Persid nanti,” ujarnya. Mirza mengaku, awal kali tangani Persid secara mandiri sangat yakin tim berjuluk Macan Raung tersebut mampu. Namun, kata dia, sebelum pertandingan berjalan telah ada polemik. Polemiknya, sama saja dari seperti sebelumnya. “Belum apa-apa sudah terjadi dualisme. Ada kubu Sunardi, ada kubu Agus Rizki,” imbuhnya.

Dualisme tersebut, tambah Mirza, tidak berhenti di situ saja. Imbas dari itu, juga terjadi dualisme suporter. “Di tengah perjalanan. Ada suporter Macan Gila,” katanya.  Sebenarnya, kata dia, masyarakat dan pencinta bola Jember sudah bosan dengan perebutan seperti itu. Maka tidak salah jika antusias warga ini turun terhadap tim kesayangannya dan berimbas turunnya jumlah penonton. Padahal, kata dia, sudah berusaha semaksimal mungkin. Mulai dari kemasan publikasi, optimalkan pemain muda Jember, termasuk juga mendatangkan pelatih berkaliber nasional untuk memantau potensi pemain.

Dia mengaku, hampir Rp 1 miliar dana telah dikeluarkan untuk membiayai Persid. “Kalau satu miliar tidak sampai. Tapi jumlahnya mendekati satu miliar,” katanya. Tidak lolos di babak 16 zona Jatim, Mirza pun, antara bersyukur dengan tidak. Pasalnya, jika sampai tingkat nasional biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar lagi. “Kalau sampai nasional itu bisa tembus Rp 5 miliar,” terangnya.

Sementara jika dipaksa, tapi tidak mampu pun nama Persid akan jelek. Artinya bisa jadi Persid terkena sanksi dari PSSI jika tidak meneruskan kompetisi. Biaya paling besar, kata dia, adalah gaji pemain. “Satu bulan gaji pemain saja kurang lebih Rp 50 juta,” tambahnya.

Tapi, meski menyerah, Mirza masih mengisyaratkan mau kembali jadi manager Persid. Tapi dengan catatan ada dukungan dari bupati. Pria yang dulu pernah terjun di atlet bola voli tersebut menjelaskan, Persid adalah kesebelasan amatir. Sebaiknya kehadiran pemerintah daerah untuk memajukan persepakbolaan juga ada. Dia mengaku, tim amatir tanpa APBD memang susah.

Semisal Pemkab Jember tidak mau mengucurkan dana ke Persid lewat APBD, tambah Mirza, setidaknya bupati itu membantu. “Paling tidak bupati ini membantu dan mendorong pihak swasta untuk membantu Persid. Entah itu kumpulan kontraktor ataupun mampu menghubungkan sponsor, dan dana CSR perusahaan,” paparnya.

Dia pun ingin bupati turun tangan untuk tangani dualisme Persid. “Persid ini milik masyarakat Jember. Tidak ada namanya yayasan, karena Persid juga tim yang berlaga di liga amatir. Kalau masih milik yayasan dan sebagainya, seharusnya tahun ini yang mendanai ya yayasan,” tegasnya.

Pekerjaan Mirza untuk Persid saat ini hanya terbatas memberikan keleluasaan pemain untuk pindah. “Kalau mau pindah silakan. Saya tidak akan mempersulit rekomendasi pindah. Saya juga tidak mau menghambat rezeki orang,” pungkasnya. Hingga saat ini Mirza telah mengeluarkan tujuh surat keluar pemain.

Reporter & Fotografer: Dwi Siswanto
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Yerri A Aji

Reporter :

Fotografer :

Editor :