Kisah Veren Yuliana Saputri Sukses Sabet Medali Ketika Fokus Terpecah

Bagi Waktu antara KKN dan Bertanding di Kejuaraan Dunia

Perjuangan di jalur akademis dan fokus di olahraga pencak silat akhirnya membuahkan hasil. Tak sia-sia, Veren Yuliana Saputri membagi konsentrasinya antara KKN dan persiapan ikut Kejuaraan Dunia. Hasilnya, mahasiswi Unej ini berhasil menyabet medali perunggu dalam event bergengsi tersebut.

MAIN DI KEJUARAAN DUNIA: Veren Yuliana Saputri (jaket biru) saat latihan rutin di Alun-Alun Jember sebelum wabah korona.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tidak mudah bagi Veren Yuliana Saputri naik ke podium dalam sebuah kejuaraan pencak silat. Apalagi, kejuaraan yang dia ikuti 2019 lalu levelnya sudah internasional. Di sanalah dia berhasil meraih medali perunggu.

IKLAN

Selain melalui persaingan yang cukup ketat, mahasiswi jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jember ini juga harus pintar-pintar membagi konsentrasinya antara prestasi di dunia silat maupun akademis perkuliahannya. Sebab, kala itu dirinya menjalani dua agenda di waktu yang bersamaan. Mengikuti kejuaraan dunia (kejurdun) Pencak Silat Tapak Suci World Championship pada 30 Agustus-5 September 2019 lalu di Solo, Jawa Tengah, sekaligus disibukkan dengan kegiatan wajib perkuliahannya, yakni kuliah kerja nyata (KKN).

“Jadi persiapan kejurdun itu sudah digelar sejak April 2019. Dan training centre terpusat sejak akhir Mei. Nah, Juli sampai Agustus saya harus KKN,” kenang alumnus MAN 3 Jember itu.

Di tengah-tengah persiapan matang jelang kejuaraan dunia, Veren juga harus menyiapkan segala materi dan peralatan untuk KKN. Waktu itu, Veren ditugaskan menjalani KKN di Desa Glingseran, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso. Butuh waktu 1,5 jam ke lokasi dengan sepeda motor dari Jember menuju desa tersebut. Sedangkan pemusatan latihan TC berada di Kabupaten Sidoarjo.

Tak pelak, Veren harus rela bolak-balik Jember-Sidoarjo setiap dua pekan di hari Jumat sampai Minggu. Apalagi kegiatan KKN dimulai 10 Juli 2019, sekaligus pekan pertama dirinya harus menjalani TC di Sidoarjo. “Saya izin waktu itu, karena awal-awal KKN tidak enak kalau ditinggal ke luar kota selama di desa,” katanya.

Namun, Veren bisa sedikit lega. Sebab, gadis asal Kecamatan Kencong ini mendapatkan izin untuk mengikuti TC. “Alhamdulilah, saya akrab sama perangkat desa dan dosen DPL juga. Didukung ada surat dispensasi dari pengurus Jatim. Jadi, setiap Sabtu-Minggu saya izin TC. Tapi TC-nya di Jember,” katanya.

Waktu itu, pembagian TC pencak silat tim Jawa Timur dibagi menjadi dua. Zona 1 di Sidoarjo dan zona 2 di Jember. Masa KKN-nya pun berakhir tanggal 24 Agustus 2019. Setelah itu, tanggal 26 Agustus dirinya langsung diwajibkan berangkat ke Mojokerto, untuk mengikuti camp selama seminggu dengan tim pencak silat Jatim sebelum bertolak menuju Solo.

“Tanggal 24 dari Bondowoso ke Jember. Tanggal 25 saya sempetin pulang ke Kencong untuk pamit keluarga. Sorenya balik ke Jember karena malamnya harus berangkat bersama-sama ke Mojokerto,” lanjut Veren. Kendati demikian, Veren tetap fokus seratus persen mengerahkan mental dan tenaganya untuk kejurdun kali ini.

“Kebetulan saya satu pool dengan atlet-atlet yang sudah terlatih. Di perempat final saya bertemu atlet Jateng, anak PPLP yang sudah berkali-kali juara. Di semifinal bertemu anak Puslatda Sulawesi Selatan, murid dari abang Abbas, pelatih pelatnas,” beber Veren.

Meski lawan yang dihadapinya cukup berat, Veren akhirnya berhasil menggondol satu medali perunggu di kategori tanding sport class C female. Anak dari pasangan Kamsidi dan Masfufah ini bersyukur memiliki pelatih dan orang-orang yang selalu mendukung serta mendoakannya. Mulai dari pelatih tim cabang, pelatih universitas, dan pelatih di tim Jatim. Dia mengaku, doa dari rekan-rekannya juga memberi kekuatan mental tersendiri. “Motivasi mereka sangat berpengaruh. Saya tidak mau mengecewakan kepercayaan. Saya sudah ikhtiar, ya ini hasil yang terbaik,” pungkasnya.

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Istimewa

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti