Perjuangan Buniman, Penjual Es Wawan di Kawasan Kampus

Dulu Ngontel, Syukur Sekarang Sudah Pakai Motor

Semua pekerjaan pasti membutuhkan modal. Sementara itu, modal memiliki banyak definisi. Ada yang membutuhkan uang dan alat transportasi untuk membuka suatu usaha. Bahkan, niat juga termasuk sebuah modal. Justru, niat adalah modal yang mendasari terciptanya sebuah usaha.

SPOT ANDALAN: Buniman, 56, Pedagang es Wawan, menjajakan barang dagangannya di daerah kampus. 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Buniman beristirahat di persimpangan jalan daerah kampus. Topinya beralih fungsi menjadi kipas. Lengan kaos dan celananya dilinting. Dia mengenakan kaos kuning cerah. Tujuannya, supaya tampak dari kejauhan bahwa ada penjual es Wawan.

IKLAN

“Capek. Saya istirahat setelah berkeliling menjajakan dagangan di fakultas-fakultas Unej,” ujar warga Desa Pakusari tersebut. Dirinya mulai berjualan pukul 10.00. Pria kelahiran 1964 tersebut sudah sangat hafal jam-jam mahasiswa keluar dari fakultas.

“Awal datang itu ke fakultas pertanian, ekonomi, lalu ke FKIP,” tuturnya. Kalau masih belum ada mahasiswa yang keluar fakultas, imbuhnya, Buniman langsung ke lapangan belakang Unej. “Nah, biasanya banyak mahasiswa yang berteduh di sana,” ujarnya.

Es itu dia dapat dari pabrik es Wawan di Pakusari. Sistem usahanya adalah bagi hasil. Dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk mengambil es Wawan di pabrik. Dia hanya perlu membayar berapa pun es Wawan yang laku terjual. “Es yang tidak laku ya saya kembalikan. Tidak perlu dibayar,” tambahnya.

Dalam sehari, Buniman membawa satu boks berisi 100-160 biji es Wawan. “Kalau mahasiswa libur, saya hanya bawa 100 biji. Kalau hari aktif, saya bawa 160 biji,” tutur pria yang memiliki satu anak tersebut.

Dirinya berdagang es sejak 1991. “Awalnya ya ngontel,” ucapnya. Jadi, dia berjualan dengan sepeda kayuh sekitar 26 tahun. Karena banyak kebutuhan, dia baru bisa membeli motor pada 2017. Maklum, ada tujuh orang di rumahnya. Meski istri dan anaknya bekerja di pabrik, itu tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarganya.

Berjualan es Wawan juga tidak semulus yang dibayangkan. Dia pernah mengalami kecelakaan saat hendak berjualan. Ada tulang rusuk yang patah akibat terkena gagang setir. Karena itu, dia sempat tidak berjualan sampai kondisi tubuhnya pulih total.

“Tapi, kecelakaan itu ada manfaatnya,” ujarnya sembari tersenyum. Dia menjelaskan bahwa dirinya berhenti merokok setelah insiden empat tahun lalu itu. “Dokter bilang, kalau merokok, nanti saya tidak bisa cepat sembuh. Nanti tidak bisa berjualan lagi,” ucapnya. Hal tersebut yang mengakibatkan dirinya takut untuk merokok.

Selain itu, hujan menjadi kendala lain yang harus dihadapi. “Kalau hujan, biasanya orang-orang malas mau beli dagangan saya,” tuturnya. Namun, hal itu tidak membuat Buniman pesimis. Dia tetap berjualan. “Saya yakin, kalau saya berusaha, pasti Tuhan memberi jalan,” ujarnya. “Contohya dulu, saya tetap bekerja keras meski tidak punya sepeda motor. Sampai akhirnya, Tuhan memudahkan pekerjaan saya,” tandasnya.

Reporter : mg1

Fotografer : mg1

Editor : Hadi Sumarsono