Runway Bandara Notohadinegoro Sepanjang 1,2 kilometer Dipel

Jumai/Radar Jember NGEPEL LAPANGAN TERBANG: Mobil pemadam kebakaran Bandara Notohadinegoro bekerja keras membersihkan avron dan taxi way untuk menyingkirkan debu abu vulkanik Gunung Agung – Bali, kemarin.

AJUNG – Bandara Notohadinegoro Jember sudah beroperasi normal, kemarin (5/7). Namun, sebelum beroperasi pihak Bandara Notohadinegoro ini harus bekerja keras. Mereka berusaha keras untuk menyingkirkan debu abu vulkanik dari landasan, avron dan taxi way di bandara tersebut.

IKLAN

Petugas bandara terpaksa harus ‘mengepel’ bandara dengan panjang 1,2 kilometer tersebut. Namun, jangan dibayangkan bahwa pengepelan dilakukan secara manual. Tetapi, pengepelan ini dilakukan dengan menyemprotkan air ke landasan, sehingga membuat debu abu vulkanik Gunung Agung dari Bali ini bisa tersingkir dari lintasan.

Pihak bandara melakukannya dengan menggunakan mobil pemadam kebakaran yang memang stand by di bandara yang ada di Desa Wirowongso, Ajung itu. Bahkan, kegiatan untuk pembersihan landasan ini tidak hanya dilakukan sekali saja, namun berkali-kali dilakukan penyemprotan. Hal ini dilakukan untuk memastikan landasan benar-benar bersih dari abu vulkanik yang mengguyur cukup tebal sehari sebelumnya.

“Yang dilakukan bandara untuk penyemprotan ini sudah dimulai sejak jam 19.00 tadi malam (kemarin malam, Red),” tutur Edi Purnomo, Kepala Unit Pelaksana Teknis Bandara Notohadinegoro Jember. Kegiatan ini sebenarnya sudah dilakukan hingga malam hari, namun ternyata dirasa masih kurang bersih.

Oleh karena itu, kegiatan penyemprotan landasan bandara ini kembali dilanjutkan oleh petugas bandara di pagi harinya. “Untuk avron dan taxi way kita lakukan pagi tadi juga jam 07.00-08.00 WIB,” jelas Edi. Hal ini dilakukan petugas hingga landasan memang benar-benar bersih dari abu.

Usai dilakukan pembersihan tersebut, pihak bandara pun langsung berkoordinasi dengan otoritas bandara terkait dengan kondisi abu vulkanik dari Gunung Agung, Bali. “Sejauh ini, dari hasil pengamatan paper test tadi, masih belum terlihat ada abu turun di atas landasan Bandara Notohadinegoro,” tutur Edi. Dengan demikian, sudah aman untuk penerbangan.

Bahkan, hingga siang hari kemarin, pihaknya memang sempat memantau terus kondisi lapangan, apakah masih ada abu yang beterbangan di bandara. Selain itu, pihaknya juga sudah mendapatkan kepastian bahwa maskapai tidak ada masalah untuk terbang dan mendarat di Bandara Notohadinegoro.

Pihaknya berharap abu ini tidak turun lagi, sehingga penerbangan bisa tetap normal seperti biasa. “Semoga saja abu ini hanya lewat dan tidak turun lagi, dan bandara tidak ditutup lagi. Penerbangan bisa kembali normal,” jelas Edi. Sebab, meskipun hanya dua penerbangan yang beroperasi, diakuinya peran arus transportasi penerbangan ini cukup penting untuk masyarakat yang hendak datang dan pergi dengan pesawat.

Sekadar tambahan, selama sepekan ini Bandara Notohadinegoro Jember sudah dilakukan penutupan sebanyak dua kali. Yakni Jumat (29/6) dan Selasa (3/7) kemarin. Hal ini karena adanya erupsi Gunung Agung di Provinsi Bali yang menyebabkan abu vulkanik terbawa angin yang mengarah ke barat.

Akibat penutupan bandara ini, dua maskapai penerbangan, yakni Garuda Indonesia dan Wings Air pun tidak dapat beroperasi di kedua hari tersebut. Pihak maskapai pun memberikan tiga pilihan kepada para penumpang yang gagal berangkat karena bencana alam tersebut.

Maskapai memberikan pilihan kepada penumpang untuk tiket yang sudah dibeli. Yakni calon penumpang dipersilakan untuk melakukan refund (pengembalian uang pembelian tiket), rerute (perubahan jadwal penerbangan), ataupun rename alias penggantian nama calon penumpang. (jum/ram/mgc/hdi)

Reporter :

Fotografer :

Editor :