Perjuangan Guru Sekolah Pinggiran di Tengah Pandemi

Lewati Medan Terjal hingga Menginap di Rumah Siswa

Di tengah wabah korona, komitmen guru sedang diuji. Sebab, mereka harus bekerja ekstra untuk memastikan muridnya tetap belajar. Apalagi, bagi guru di sekolah pinggiran dan tidak ada jaringan internet. Seperti apa perjuangannya?

HOME VISIT: Bagus Wahyudi (dua dari kiri) berkunjung ke rumah muridnya di Dusun Baban, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo. Dia mendapat sambutan baik dari wali murid.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagus Wahyudi tersenyum ketika menunjukkan foto di layar ponselnya. Gambar di HP Android itu merupakan rekaman kisah perjuangannya selama mengabdi sebagai guru di SMP Negeri 4 Silo dalam masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) ini. Foto itu menunjukkan perjalanannya saat mengunjungi kediaman siswa yang belajar di rumah akibat wabah korona.

IKLAN

Home visit itu dilakukan karena banyak murid di sekolahnya yang tak bisa mengikuti belajar secara daring lantaran terbatasnya jaringan internet di tempat tinggal mereka. “Ada juga yang memang tidak memiliki smartphone. Tapi yang paling umum karena tidak adanya jaringan telekomunikasi yang memadai,” katanya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, kemarin (4/5).

Lantaran kondisi itu, Bagus harus mendatangi ke rumah mereka masing-masing. Dalam kunjungan tiap sepekan sekali itu, dirinya tak hanya memberikan tugas tapi juga mengevaluasinya. “Hal ini wajar. Karena sekolahnya berada di sekitar Perkebunan PTPN XII Silosanen. Jadi, cukup pelosok,” ucapnya.

Sekolah yang bertetangga dengan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) itu berada di Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo. Jika ditempuh dari kawasan Kota Jember, jaraknya cukup jauh sekitar 46 kilometer. Kalau berangkat dari Alun-Alun Jember, butuh waktu sekitar 1 jam 30 menit agar bisa sampai ke sekolah. “Rumah saya di Perum Tegalbesar Permai, Kaliwates. Untuk ke sekolah jarak tempuhnya sekitar 90 kilometer lebih perjalanan pulang pergi. Belum lagi kalau ke rumah masing-masing siswa, tentu lebih jauh,” jelasnya.

Namun kondisi ini tak menyurutkan semangat ayah satu anak tersebut. Karena sejak dia menempuh pendidikan di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Jember, dirinya sudah bertekad mengabdi di dunia pendidikan. Makanya, pasca lulus pada 2013 lalu, Bagus mengaku sudah siap dengan kondisi apapun ketika dirinya terjun di pendidikan. “Sebelum wabah korona, paling saya hanya ke sekolah. Tapi saat ini harus menyapa satu-satu siswa dengan home visit,” tuturnya.

Bagus mengungkapkan, karena lokasinya berada di kawasan perkebunan, akses menuju lokasi rumah siswa juga menantang. Medannya cukup terjal dan berbatu, sehingga ketika melintas di jalan kampung, dia harus ekstra hati-hati. Sebab jika tidak, bisa saja terpeleset ketika mengendarai motor. “Terkadang motor harus dimodifikasi dulu kalau mau ke sana,” imbuh dia.

Pria 34 tahun ini mengatakan, apa yang dilakukannya itu bukan hanya menggugurkan kewajiban sebagai guru. Namun, lebih besar dari itu, yakni demi pendidikan dan kemanusiaan. “Apalagi di sana, potret pendidikannya sangat memprihatinkan. Jadi, home visit ini adalah upaya agar murid-murid yang tinggal di pelosok tetap bisa mengakses pembelajaran yang layak,” tambahnya.

Jarak tempuh yang jauh dari kediamannya, terkadang membuat wali murid yang sedang dikunjungi tidak tega. Tak jarang, dia diminta menginap saat melakukan kunjungan itu. Selain untuk menghemat energi, hal ini juga demi keselamatan dirinya sendiri. Sebab, beberapa kali dia sampai kemalaman saat mendatangi satu per satu rumah siswa. “Sambutan wali murid luar biasa hangat. Mereka menghargai sekali setiap ada kunjungan dari guru. Ini yang menjadi semangat tersendiri bagi saya,” ucapnya.

Guru yang baru saja dinobatkan sebagai PNS setelah lolos seleksi CPNS pada Juli 2019 lalu ini mengaku akan terus melanjutkan kebiasaannya tersebut dengan mengunjungi rumah-rumah siswa. Hal itu akan dia lakukan hingga pandemi korona benar-benar usai. “Semoga saya diberi ketabahan dan kekuatan, sehingga bisa terus ngopeni siswa-siswa saya,” harapnya.

Reporter : Maulana

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih