Petani Mulai Kekurangan Air

ANDALKAN MESIN POMPA: Sawah milik Muari, 56, warga Dusun Kepel, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, harus mengandalkan mesin untuk mengairi tanah.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tampaknya kemarau sudah mulai datang. Imbasnya, petani, khususnya di wilayah pinggiran, mulai kekurangan air. Padahal sekarang sudah mulai musim tembakau dan membutuhkan air.

Seperti yang terjadi di wilayah selatan, seperti Balung, Wuluhan, Ambulu, Jenggawah, dan Puger. Beberapa petani mulai mengeluarkan mesin pompa air untuk dibawa ke sawah. Perangkat seperti untuk mengairi sawah yang akan ditanami. Baik itu untuk tanaman jagung, mengairi tanaman tembakau, maupun tanaman lainnya.

Muari, 56, warga Dusun kepel, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, mengaku, dirinya harus menggunakan mesin pompa air untuk mengairi sawahnya yang empat petak tersebut. “Terpaksa harus membawa mesin ke sawah, untuk bisa mengairi sawah yang akan ditanami jagung,” katanya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember di sawahnya, kemarin.

Untuk bisa menyelesaikan empat petak sawah tersebut, dia menghabiskan bahan bakar minyak (BBM) 5 literan bensin. “Karena kalau mengandalkan air dari saluran tidak mungkin. Apalagi sudah tidak hujan,” kata Muari, sambil membawa benih jagung.

Beberapa bulan terakhir ini, petani sudah kesulitan untuk mendapatkan air. Sebab, untuk sawah yang akan ditanami jagung itu tanahnya harus dibasahi dulu. Beruntung, setiap petani yang ada di Wuluhan ini sudah menyiapkan sumur di tengah sawah.

Hal ini juga dialami Solihin, warga Dusun Grobyok, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Ambulu, yang harus menggunakan pompa air untuk menaikkan air dari sumurnya. Petani tembakau asal Tanjungrejo, Wuluhan, itu harus mengairi tanaman tembakaunya.

Rata-rata petani yang menanam tembakau dan jagung juga harus membawa pompa air ke tengah sawah. “Karena saluran irigasi sudah banyak yang mulai kering. Apalagi sudah lama tidak ada hujan,” pungkasnya.

Editor: Hadi Sumarsono
Reporter: Jumai
Fotografer: Jumai