Tak Ada PHK di Tengah Pandemi

Kebun Glantangan Butuh Tambahan Pekerja

HARUS BERSIH: Pekerja PTPN XII Kebun Glantangan di bagian bak pembekuan getah karet.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di tengah pandemi Covid-19, tak sedikit perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) di beragam sektor usaha. Namun, lain halnya pada industri perkebunan karet. Seperti yang terjadi di PTPN XII Kebun Glantangan, Kecamatan Tempurejo.

IKLAN

Kebun Glantangan justru membutuhkan tambahan tenaga kerja baru guna mengoptimalkan hasil produksi karet yang kuat bertahan menghadapi wabah Covid-19. Manajer PTPN XII Kebun GlantanganMarahalim Harahap menegaskan bahwa tak ada PHK di Kebun Glantangan. “Malah kami butuh karyawan lagi,” ujarnya, Rabu (3/6) kemarin.

Saat ini, lanjut dia, terdapat sekitar 1.300 pekerja yang tersebar di pabrik pengolahan maupun sebagai penyadap getah karet atau lateks. Sebagian pekerja merupakan warga dari empat desa di sekitar pabrik Glantangan, di antaranya Desa Curahtakir, Desa Pondokrejo, Desa/Kecamatan Tempurejo, dan Desa Jatimulyo, Kecamatan Jenggawah. Sementara, kebutuhan tambahan pekerja mencapai 100 orang. “Terutama untuk yang di pengolahan lateks dan sortir ribbed smoked sheet(RSS),” lanjutnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Masih menurut Marahalim, diharapkan pekerja tambahan diisi oleh angkatan kerja baru itu berusia muda dan produktif. “Pabrik karet boleh jadi industri kuno. Namun, tidak goyah dengan situasi pandemik yang memukul banyak sektor industri modern,” ujarnya.

Sejak berdiri pada 1914 lalu, hingga saat ini Kebun Glantangan masih beroperasi sekitar lima sampai enam generasi. Saat ini, produksi pohon karet menghasilkan getah sedang dalam masa-masa suburnya. Kebun Glantangan menghasilkan sekitar 20-30 ribu liter lateks per hari, dari 896 hektare lahan yang ditanami pohon karet.

Kebun Glantangan PTPN XII juga telah merevitalisasi fasilitas pendukung pabrik produksi karet. Salah satunya adalah dengan memperbarui instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Sebab, telah terjadi sedimentasi di kolam penampungan limbah.

Pendangkalan tersebut berdampak pada tidak optimalnya pengolahan limbah air sisa dari produksi lateks. “Saat ini sedang dalam masa penggarapan IPAL baru dengan ukuran 60 x 20 meter. Rencananya dibangun sejumlah kolam yang menjadi tempat penyaringan limbah hingga enam kali,” kata Marahalim.

Pembuatan IPAL ini juga mengerahkan alat berat untuk mengeruk tanah kolam pengolahan limbah agar cepat selesai. Sementara, IPAL lama bakal difungsikan ganda. “Pembuatan IPAL ini sudah berjalan selama dua pekan,” imbuhnya.

Sedangkan untuk penyaringan terakhir yang kolamnya diisi ikan, ikan sengaja ditempatkan di kolam terakhir dengan tujuan mengetahui indikator keberhasilan pengolahan limbah. “Sederhananya, jika ikan hidup, maka berarti limbah berhasil dengan saringan bersih,” pungkasnya.

Sementara pekerja pun merasakan nikmatnya. Supiyati, salah satu buruh sadap getah, menuturkan, dalam sehari dirinya bisa mendapatkan Rp 100 ribu dari aktivitasnya. “Biasanya Rp 120 ribu kadang sampai Rp 140 ribu,” ujarnya. Hal ini juga dirasakan Muhammad Sani yang bisa menyadap getah karet hingga mencapai 120 liter.

Mengenai Covid-19, mereka punya pendapat unik. “Kalau di kebun, pandemi tidak ada. Sama sekali tidak terpengaruh dengan pandemi. Kita semua tetap kerja dan yang utama tidak kesulitan untuk dimakan,” ujar Sani.

Editor: Hadi Sumarsono
Reporter: Jumai
Fotografer: Jumai