Pelajar SMK Bikin Bengkel Berjalan Berbasis Daring

Berawal dari Motor Siswa Mogok, Gagas Go Service

Ide kreatif bisa datang dari apa saja. Termasuk peristiwa yang menjengkelkan. Inilah yang dialami Rachel Alexandra, pelajar SMK di Kecamatan Jombang. Bermula dari motor temannya yang mogok, dia menggagas Go Service. Sebuah layanan bengkel keliling berbasis daring.

INSPIRATIF: Salah satu siswa SMK YP 17 Jombang yang menjajakan jasa servis keliling secara daring sekitar wilayah Kecamatan Jombang.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jika tak ada orderan, motor 110 cc yang dilengkapi boks di bagian belakangnya itu selalu terparkir di garasi laboratorium Jurusan Teknik Mesin di SMK Yayasan Pendidikan (YP) Jombang. Ini bukan motor biasa, melainkan kendaraan yang telah dimodifikasi sedemikian rupa hingga bisa digunakan sebagai bengkel keliling. Motor itu merupakan kreasi dari pelajar yang menempuh pendidikan di sekolah tersebut.

IKLAN

Pelajar SMK itu menyulap motor ini menjadi bengkel berjalan. Rupanya, ide membuat layanan bengkel keliling itu bermula ketika ada motor salah satu temannya yang mogok saat berangkat sekolah. Karena tidak sempat membawa ke bengkel dan isi kantong yang cekak, maka motor tersebut didorong hingga ke sekolah. “Selain capek, mendorong motor di jalan juga sangat berisiko mengalami kecelakaan. Karena cukup berbahaya,” kata Rachel Alexandra, salah satu pelajar yang menjadi teknisi.

Sesampainya di sekolah, beberapa pelajar kemudian berdiskusi. Mereka mencari cara bagaimana mengatasi problem motor mogok mendadak itu. Bersama sejumlah temannya, Rachel yang menempuh pendidikan di jurusan teknik mesin ini akhirnya memiliki ide untuk membikin bengkel yang bisa bergerak. Dengan begitu,kalau ada peristiwa serupa, mereka tak perlu mendorong motor lagi. Tinggal menunggu kedatangan teknisi untuk memperbaiki kendaraan yang macet tersebut.

Sebenarnya, kata dia, bengkel berjalan yang tiap armada di gawangi seorang siswa ini bermula pada 2015 lalu. Saat itu, para siswa SMK tersebut memiliki program servis gratis yang bisa dinikmati oleh para pelajar sendiri, guru di sekolah, dan masyarakat sekitar. Menurutnya, bengkel itu merupakan pengembangan dari program servis gratis tersebut. Hanya saja, jika dulu statis, sekarang bisa dinamis.

Ide membikin bengkel berjalan ini selanjutnya diikutkan pada kompetisi pelajar SMK bertema Kreativitas Generasi Milenial di Surabaya pada 2019 lalu. Dalam makalah Rachel, ia membuat Go Service. Yaitu program servis berjalan yang bisa diakses secara daring.

“Dengan dibantu guru kami, makalah saya ternyata diterima. Dari situ kemudian kita terus kembangkan lagi dengan aplikasi,” ujar siswa asal Tundungrejo,Yosowilangun, Kabupaten Lumajang itu. Setelah capaian itu, Rachel bisa disebut sebagai koordinator atau ketua para teknisi milenial dari SMK tersebut.

Mengetahui capaian siswanya itu, pihak sekolah sempat meluncurkan motor Go Service ini pada akhir 2019 kemarin. Temuan mereka memang tidak bimsalabim langsung sempurna. Oleh karena itu, mereka membutuhkan dukungan. Selain dari sekolah, para pelajar juga mendapat supportdari salah satu pabrikan motor ternama di Indonesia.

Sementara itu, untukdukungan aplikasi, siswa jurusan mesin itu melibatkan siswa dari jurusan lain di sekolah yang sama. Yaknijurusan rekayasa perangkat lunak. Mereka selanjutnya berkolaborasi untuk memadukan gagasan, konsep, dan mengaplikasikannya dalam bentuk karya.

Hingga kini, sudah banyak pelajar, guru, maupun masyarakat yang memanfaatkan jasa Go Service itu. Hanya saja, semenjak ada wabah korona dan siswa belajar di rumah, bengkel berjalan tersebut juga tidak dioperasikan. “Sekolah libur, kami juga libur,” imbuh siswa kelas 11 itu.

Meski begitu, Rachel bersama rekan-rekannya masih memiliki banyak waktu untuk terus mengembangkan Go Service dengan layanan dan aplikasi yang lebih baik. Ia juga berharap, ke depan ada kompetisi pelajar SMK yang sejenisnya. Sehingga dia dan kawan-kawannya lebih terpacu mengembangkan mahakaryanya tersebut. “Masih panjang perjalanannya. Semoga ke depan bisa terus berinovasi dan bisa menjangkau masyarakat lebih luas,” pungkasnya.

Editor: Mahrus Sholih
Reporter: Maulana
Fotografer: Istimewa