Perjuangan Tim Medis di Tengah Pandemi Korona

Sumpah Profesi Jadi Prinsip, Ingin Warga Lebih Sadar

Berkumpul dengan keluarga merupakan dambaan setiap orang. Khususnya pada saat weekend. Sayang, tak semua orang dapat merealisasikan hal tersebut. Mengingat, pandemi korona belum mereda. Salah satunya adalah tenaga medis.

APD LEVEL 2: Rizal Try Wahyuono SKep Ners saat berjaga di Ruang Bugenvil Kelas II, RSD dr H Koesnadi Bondowoso, pada Jumat (1/5) malam, sekitar pukul 23.00.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bunyi detak jam dinding terdengar lebih kencang pada saat itu. Sementara, suara lalu lalang kendaraan hanya terdengar sekali dua kali, lalu detak jam kembali mendominasi. Maklum, hanya ada sesosok perawat yang sedang bertugas malam itu. Rizal namanya.

IKLAN

Meski sedang berjaga, pakaian yang dia pakai tergolong lengkap. Sarung tangan medis, masker bedah, baju jaga, barascoat nonsteril (APD), dan face shield memantapkan perannya sebagai perawat di RSD dr H Koesnadi, Jalan Pierre Tendean Nomor 3, Desa Kotakulon, Kelurahan Badean, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso.

“Kebetulan, saya dinas malam hari ini (Jumat, Red). Jadi, saya wajib mengenakan alat pelindung diri (APD) level 2,” tutur Rizal Try Wahyuono. Hal itu bertujuan untuk melindungi dirinya dari Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). “Meski tidak menangani pasien secara langsung, saya mesti waspada,” ungkapnya.

Warga Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu, itu mengaku resah lantaran takut tertular wabah korona. Sebab, petugas medis rentan terpapar virus.

“Apalagi, kalau ada pasien yang tidak jujur seperti beberapa waktu lalu. Ada gejala, tapi takut mengungkapkan,” jelasnya. Untungnya, petugas medis sigap dan langsung mengurus pasien tersebut.

“Selain itu, menjadi petugas medis tak bisa seenaknya pulang ke rumah,” ujar perawat yang berjaga di ruang penyakit dalam dan paru tersebut. Sebab, semua petugas medis itu merupakan orang dalam risiko alias ODR. “Pulang malah berpotensi membawa virus,” paparnya.

“Jadi petugas medis ya seperti ini, apalagi pada masa pandemi,” ucap alumnus Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Unmuh Jember angkatan 2012 tersebut. “Kami harus rela tidak berkumpul keluarga. Di lapangan, kami berhadapan langsung dengan Covid-19,” sambungnya.

Meski berbahaya, Rizal mengaku berprinsip pada sumpah profesi. “Saya akan membaktikan hidup saya untuk kepentingan kemanusiaan,” tegasnya ketika melafalkan salah satu sumpah perawat.

Terutama dalam bidang kesehatan tanpa membeda-bedakan, baik suku, bangsa, agama, jenis kelamin, politik, maupun kedudukan sosial. Dia menuturkan, hal itu yang terus dipegang untuk memotivasi diri saat bertugas.

Dia berharap, masyarakat mau sadar dan membantu tenaga medis dalam memberantas Covid-19. Yakni, dengan rajin menjaga kebersihan, diam di rumah, dan jujur kepada petugas medis ketika mengalami gejala.

“Untuk para petugas medis, semoga tetap berpegang teguh pada sumpah dan menangani para pasien dengan sepenuh hati,” harapnya. “Sehat selalu dan semoga wabah segera musnah,” sambungnya. “Dengan begitu, kita bisa lekas berkumpul bersama keluarga masing-masing,” tandasnya.

Reporter : mg1

Fotografer : Istimewa

Editor : Hadi Sumarsono