Kian Berani Jualan di Trotoar

Depan Pasar Sabtuan Tak Tertata

MULAI SEMRAWUT LAGI: Lemahnya pengawasan membuat kawasan di depan Pasar Sabtuan, Tegal Besar, kini ramai warung-warung nasi. 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lemahnya pengawasan atau mungkin kurang tegasnya petugas membuat pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Basuki Rahmat, Tegal Besar (depan Pasar Sabtuan), Kecamatan Kaliwates, mulai merajalela. Para pedagang seenak udel-nya menempati trotoar yang sebenarnya diperuntukkan bagi pejalan kaki.

IKLAN

Awalnya, PKL yang berjualan di depan Pasar Sabtuan itu jumlahnya tak begitu banyak. Rata-rata menjual buah-buahan dan pedagang kerupuk. Namun kini, pedagang aneka jualan mulai ramai, termasuk warung-warung nasi.

Padahal, pasca-pembongkaran puluhan warung yang sempat dijadikan tempat tinggal beberapa tahun lalu, trotoar di depan pasar itu bersih dari PKL. Apalagi, Satpol PP Kabupaten Jember sempat memasang papan imbauan Tidak Boleh Berjualan di Atas Trotoar. Kondisi pasar tampak rapi.

Namun kini, imbauan itu ‘ditabrak’ begitu saja. Seiring dengan lemahnya pengawasan, satu per satu pedagang muncul. Awalnya, pedagang kerupuk dan buah-buahan yang muncul. Makin lama, jumlah pedagang buah terus bertambah. Padahal, saat dilakukan bersih-bersih atau pembongkaran yang melibatkan Polri dan TNI, pedagang buah-buahan sudah dipindahkan ke tempat lain.

Karena kurang tegasnya petugas Satpol PP yang tidak pernah melakukan penertiban, akhirnya satu per satu pedagang buah berani berjualan lagi. “Bahkan, papan imbauan yang dipasang di beberapa titik, di depan Pasar Sabtuan, tertutup oleh warung nasi. Coba Satpol PP tegas dan sering datang melakukan penertiban, mungkin tidak separah sekarang,” ujar Rahmatullah, warga Gladak Pakem, Sumbersari.

Dia mengeluh karena sekarang kalau lewat di depan Pasar Sabtuan sering macet. Sebab, banyak PKL yang ramai berjualan, mulai buah-buahan sampai warung nasi. “Kalau dibiarkan, akan kembali seperti beberapa tahun lalu. Karena sudah ada yang terang-terangan membuat warung,” katanya. Belum lagi trotoar menjadi kumuh.

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Hadi Sumarsono