Ikan dari Luar Puger Harus Dites

Korban Keracunan Mencapai 350 Orang

DARI JAWA TENGAH: Beberapa mobil pikap pengangkut cumi-cumi saat melakukan bongkar muat di sekitar TPI Puger.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kejadian luar biasa (KLB) keracunan ikan jenis tongkol locok atau tongkol tikus yang dikonsumsi saat pergantian tahun baru terus bertambah. Data terbaru yang dirilis Dinas Kesehatan Jember menyebutkan, setidaknya 350 orang menjadi korban keracunan tersebut. Data itu dihimpun dari jumlah korban yang sempat dirawat di puskesmas, klinik, dan rumah sakit yang ada di Jember.

IKLAN

Namun, peningkatan jumlah kasus ini bukan peristiwa baru, melainkan korban yang baru dilaporkan setelah dilakukan penyelidikan epidemiologi oleh dinas kesehatan. Pada saat penyelidikan epidemiologi itu, petugas menanyakan pada korban dan keluarganya siapa saja orang yang ikut mengonsumsi ikan tongkol. Selanjutnya, dikembangkan pencarian terhadap orang-orang yang menyantap ikan tak bersisik itu.

“Tujuan pengembangan kasus ini adalah untuk memastikan orang yang telah mengonsumsi ikan tongkol diketahui kondisinya. Bila sakit harus segera mendapat pertolongan,” terang Faida, Bupati Jember, dalam pernyataan yang dirilis Humas Pemkab Jember, kemarin.

Masifnya kasus keracunan ikan itu juga membuat Muspika Puger melakukan sidak ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger. Sebab, dari TPI inilah muasal tongkol yang dikonsumsi warga pada pesta bakar ikan di malam pergantian tahun. Muspika mendatangi para pedagang ikan yang berjualan di sekitar TPI. Ini untuk memastikan bahwa ikan yang dijual masih segar dan layak konsumsi.

Saat Muspika melakukan pertemuan dengan petugas TPI dan UPT Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Puger di Kantor UPT TPI Puger, petugas saling melempar tanggung jawab. Padahal, TPI Puger kerap menjadi jujukan pengiriman ikan dari luar Jember. Hal ini tentu harus ada petugas yang mengecek kualitas ikan jenis apa pun yang dikirim menggunakan mobil boks.

Ternyata, hasil pengecekan itu menemukan fakta bahwa ikan yang dijual di TPI tak hanya berasal dari nelayan setempat. Tapi juga ada yang berasal dari luar daerah. Di antaranya dari Probolinggo, Situbondo, bahkan dari Pati, Jawa Tengah. “Ini kan seharusnya ada yang bertugas mengecek setiap mobil boks yang mengangkut ikan tersebut. Kalau perlu, setiap truk pengangkut ikan diambil buat sampelnya,” ujar Winardi, Camat Puger, dalam pertemuan kemarin (3/1).

Faktanya, saat ikan datang dari luar Puger, baik petugas dari UPT TPI Puger maupun petugas UPT PPP Puger sama-sama tak melakukan pengecekan. “Ikan dari luar kota itu datangnya justru pada malam hari, dan pagi hari langsung dibongkar dan dibeli,” imbuhnya.

Winardi dengan tegas meminta kepada pihak TPI Puger dan UPT PPP Puger untuk tetap bertanggung jawab saat kedatangan ikan dari luar Puger. Selama ini ikan yang datang ke TPI Puger hanya dicatat jumlah kendaraannya saja. Sementara, pengecekan mutu ikan tidak pernah dilakukan. “Tidak pernah dicek apakah ikan itu mengandung formalin atau tidak,” ujar Winardi dengan geram.

Abdur Rohman, salah satu staf UPT PPP Puger, mengaku tidak punya alat untuk tes ikan. “Untuk tes ikan tersebut harus dibawa ke Banyuwangi,” ujarnya. Padahal, seharusnya pelabuhan ini harus mempunyai alat sendiri, karena ikan yang didatangkan dari luar Puger setiap hari jumlahnya cukup banyak. Hal ini diperlukan untuk mengantisipasi adanya ikan yang tidak layak dikonsumsi. Sementara itu, Rudik, Kepala UPT TPI Puger, mengaku hanya mencatat ikan yang dari nelayan yang dibawa ke TPI.

Kapolsek Puger AKP Ribut Budiono mengatakan, setelah mendapat laporan ada ikan dan cumi-cumi yang didatangkan dari luar Jember, pihaknya akan berkoordinasi dengan camat setempat. Sebab, yang jelas, selama ini antara UPT PPP Puger dengan UPT TPI Puger tidak pernah melakukan pendataan kedatangan mobil tersebut.

“Ini kan namanya kecolongan. Padahal ikan-ikan yang didatangkan dari luar Puger sudah berlangsung cukup lama. Kami kan tidak tahu apakah ikan yang dikirim ke Puger ini layak untuk dikonsumsi atau tidak,” ujar Ribut.

Reporter : Jumai, Lintang Anis Bena Kinanti

Fotografer : Jumai

Editor : Mahrus Sholih