Pelajar SMA Nuris Juara 3 LKTI di UIN Sunan Gunung Jati Bandung

Bikin Produk I-SAWER, Bakal Lanjut Kompetisi ke Korea Selatan

Penelitian dan inovasi yang dilakukan oleh para pelajar SMA Nuris ini mampu mengantarkan mereka go international. Mereka menulis karya tulis ilmiah yang menawarkan solusi mengatasi krisis air bersih. Yakni dengan menciptakan teknologi penghasil garam dan air bersih.

GO INTERNASIONAL: Pelajar SMA Nuris yang meraih juara tiga LKTI Nasional ini bakal lanjut ke Korea Selatan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tiga pelajar SMA Nuris ini patut bangga dengan prestasi yang diraihnya. Sebab, mereka akan pergi ke Korea Selatan untuk mengikuti kompetisi tingkat internasional. Ketiganya adalah Tegar Ramadani, M Syariful Umam, dan M Ridlo Ubaidillah.

IKLAN

Mereka mampu membanggakan almamaternya saat mengikuti lomba karya tulis ilmiah di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Jati, Bandung, akhir November 2019 lalu, dan membawa pulang gelar juara tiga tingkat nasional. Tim dari SMA Nuris harus bersaing dengan 150 tim dari seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, ada 15 tim yang dipilih menuju final.

Tim dari SMA Nuris berhasil masuk hingga menuju enam finalis dari seluruh Indonesia. “Ada lima kategori dalam lomba ini. Yakni fisika terapan, biologi, sosial sains, ilmu komputasi, dan kimia. Nuris berhasil pada kategori fisika terapan,” kata Tegar Ramadani.

Tiga pelajar ini juga diminta membuat stan produk untuk memajang atau memamerkan produk masing-masing. Kemudian, dewan juri mendatangi dan menanyakan cara kerja produk, keberhasilan produk, dan implementasi produk. “Penilaian pada babak final meliputi implementasi 40 persen, argumentasi 30 persen, dan presentasi 30 persen,” terangnya.

Siswa kelas XI IPA 1 sekaligus ketua kelompok itu mengatakan, produk yang dibuat bernama I-SAWER. Singkatan dari Innovation Salt Water, inovasi rumah penghasil garam dan air bersih bebas emisi berbasis green energy. “Fungsinya untuk memisahkan garam dan air bersih pada air laut di daerah pesisir pantai,” jelasnya.

Dia menilai jika inovasi ini dikembangkan, akan sangat membantu warga, terutama yang tinggal di pesisir pantai. Mereka bisa mendapatkan air bersih untuk kebutuhan hidup sehari-hari. “Penelitian kami lakukan pada nelayan di Kecamatan Puger, karena yang paling dekat dengan rumah kami,” imbuhnya.

Ide inovasi tersebut, kata dia, merupakan hasil diskusi dengan kakak kelasnya. Yakni Fauzan Hilmi, Ikrom, dan Umam. Dirinya lalu merealisasikan dalam bentuk alat yang nantinya dapat direalisasikan dan digunakan.

Penelitian itu bukan tanpa alasan, mereka mencari referensi berbagai persoalan di lingkungan nelayan. Salah satu permasalahan yang kerap terjadi pada masyarakat pesisir Indonesia adalah krisis air bersih. Masalah ini terjadi karena daerah pesisir merupakan dataran rendah yang jauh dari sumber air bersih. Walaupun terdapat sumber air, biasanya air yang dikeluarkan berupa air payau.

Tahun 2018, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan, keberadaan desa pesisir di seluruh Indonesia jumlahnya mencapai 12.827 desa. Sedangkan dalam sebuah studi disebutkan desa yang sudah mendapatkan akses air bersih untuk kebutuhan sanitasi baru mencapai 66,54 persen.

Masalah lain yaitu kelangkaan garam, sehingga harga garam melonjak di setiap tahunnya. Pada 2017 kebutuhan garam di Indonesia mencapai 3,2 juta ton, sedangkan produksi garam hanya mencapai 118,056 ton. Bahkan, pada tahun 2018 pemerintah mengimpor garam sejumlah 3,7 juta ton untuk memenuhi kebutuhan garam nasional.

Untuk itulah, para santri itu menawarkan solusi dengan menciptakan teknologi penghasil garam dan air bersih. Yakni I-SAWER, inovasi rumah penghasil garam dan air bersih. Rumah ini didesain mampu menghasilkan air bersih dan mempercepat proses pembuatan garam.

Dengan diciptakannya I-SAWER ini, diharapkan kebutuhan garam lokal dapat terpenuhi dan krisis air bersih di daerah pesisir dapat teratasi. Selain itu, I-SAWER diharapkan dapat mengurangi efek rumah kaca dan dampak pemanasan global dengan pemanfaatan sumber daya terbarukan yang bebas emisi.

Tegar tak menyangka bila bakal meraih juara. Sebab, dia harus bersaing dengan peserta dari berbagai provinsi di Indonesia. Seperti Bengkulu, Sulawesi Selatan, NTT, Bali, Jawa Barat, Jatim, Jateng, DIY, Banten, dan lain-lain. “Saya bersyukur bisa juara 3, karena saingannya sangat berat dengan produk yang juga luar biasa bagus,” tuturnya.

Para pemenang akan melanjutkan jenjang lomba tingkat internasional. “Informasi dari panitia, para juara ini masing-masing akan berkesempatan berkompetisi di Turki, Kuwait, dan Korea Selatan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala SMA Nuris Gus Robith Qosidi Lc menambahkan, perkembangan dunia pendidikan mendapat respons yang cepat dari SMA Nuris. Para siswanya dipersiapkan sesuai dengan tantangan zaman di era digital. “Mereka siap untuk berkontribusi bagi kemajuan negeri,” tambahnya.

Kapan pun dan di mana pun, lulusan SMA Nuris akan hadir untuk memajukan negeri. Melalui inovasi teknologi yang mereka buat. “Ketika sudah lulus, akan memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuannya,” imbuhnya.

Lulusan Al-Azhar University itu menambahkan, pengembangan SMA Nuris tidak lepas dari kemajuan dunia pendidikan yang terus berkembang di dunia. Mulai dari Finlandia, Korea Selatan, hingga Amerika. Hal itu menjadi inspirasi bagi SMA Nuris untuk terus memperbaiki diri agar lebih maju. Dia menilai, untuk mencapai kemajuan, harus melewati berbagai tahapan yang tidak sebentar. Mulai dari peningkatan SDM, sistem, manajemen, dan lainnya. SMA Nuris membangun formula baru sistem pendidikan di pesantren. Membangun semangat belajar yang tinggi. “Kita memotivasi mereka agar punya gairah belajar yang tinggi, berinovasi, dan terus melakukan eksperimen,” tuturnya.

Selain itu, juga memberikan wawasan pada para pelajar SMA Nuris agar seperti mahasiswa. Mereka tidak asing dengan wawasan yang sudah ada di lingkungan perguruan tinggi. Mulai dari penelitian, inovasi, hingga pengabdian.

Upaya itu membuahkan hasil, terbukti di beberapa kompetisi, pelajar SMA Nuris kerap meraih juara. Baik di tingkat lokal maupun internasional. Mulai dari lomba bidang cipta karya, akademik, hingga keterampilan. Seperti juara satu lomba esai tingkat nasional di UGM, juara dua lomba robotika tingkat nasional di UB Malang, dan lainnya.

Bahkan, beberapa lulusannya diterima di kampus ternama. Seperti di Universitas Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Universitas Brawijaya, Universitas Padjajaran, hingga Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

Kemudian, banyak inovasi yang dilahirkan oleh para pelajar. Mulai dari aplikasi di bidang pertanian, kesehatan, teknologi, bahasa, dan lainnya. Sudah ada puluhan aplikasi yang dibuat oleh mereka untuk menjawab berbagai problematika tantangan zaman.

Reporter : Maulana

Fotografer : Istimewa

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti