Melihat Usaha Home Industry Mi Lidi di Mangli

Dulu Jadi Sales Sendiri, Kini Bertahan Bersama Delapan Pekerja

Pandemi korona berdampak pada seluruh sektor perekonomian. Termasuk homeindustrymi lidi. Akan tetapi, perlu siasat agar bisnis tetap berproduksi dan bisa terus jalan.

USAHA: Achmad Zainuri menata bingkisan mi lidi di rumahnya di Lingkungan Karang Mluwo, Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Malam itu, Achmad Zainuri terlihat menata mi lidi yang telah dibungkus dengan berbagai macam rasa. Dirinya masih semangat untuk tetap bekerja, sekalipun waktu telah menunjukkan pukul 21.00. Usaha mi lidi ini telah dia geluti setidaknya tujuh tahun terakhir.

IKLAN

Melihat kedatangan Jawa Pos Radar Jember, Zainuri cukup terkejut. Dia selanjutnya mempersilakan kami masuk, setelah mengingat pernah bertemu sekali di sekitar Alun-Alun Jember. “Kok malam, Mas. Tapi tenang saja saya masih buka karena kerjaan belum selesai,” ucapnya sambil menata mi lidi.

Zainuri mengaku, produksi mi lidi yang menjadi usaha keluarganya benar-benar mengalami dampak pandemi korona. Produksinya turun drastis akibat banyak yang menghentikan permintaan mi lidi untuk sementara waktu. Apalagi, pangsa pasar utamanya, yaitu para pelajar dan mahasiswa, juga sedang libur. Warung dan toko langganan pun menyetop sementara pengiriman mi lidi. “Bukan dari Jember saja, permintaan dari luar kota sementara banyak yang distop,” imbuhnya, sambil menerima kopi buatan istrinya, Siti Holifah, untuk disajikan.

Setelah menawarkan secangkir kopi hitam manis, Zainuri mengungkap apa yang dialami selama wabah korona. Produksi hari-hari biasa sebelum masa korona bisa mencapai antara dua sampai tiga kuintal per harinya. Namun, makin lama makin turun hingga hanya bisa memproduksi dua kuintal untuk dua hari sekali. Lantaran kondisinya masih tetap sama, kini pria satu anak ini hanya memproduksi satu kuintal dalam satu pekan.

“Saya dulu tidak kepikiran kalau penjualan turun. Karena saat awal saya bikin sendiri, sales sendiri, dan kalau ada sisa kami makan. Tetapi sekarang saya punya pekerja, ada delapan orang. Jadi, dengan produksi turun semacam ini, kami hanya bisa bertahan. Para pekerja alhamdulillah juga memahami,” ungkapnya.

Zainuri sadar, usaha yang dinamai Home Industry Sejahtera Mi Lidi tersebut mengalami penurunan drastis. Hal itu karena pelajar dan mahasiswa belum ada yang kembali ke sekolah dan belum masuk kuliah. “Harapannya korona bisa cepat selesai, pelajar dan mahasiswa bisa masuk lagi. Karena pasar kami lebih banyak di sekolah dan kampus. Di warung umum ada, tetapi mi lidi belum dikenal semua orang,” ucapnya.

Dengan kondisi sulit yang demikian, Zainuri hanya bisa bertahan dengan menyiasati produksi yang disesuaikan permintaan. Dia pun belum menyetok seperti hari-hari biasanya karena permintaan masih banyak yang distop. “Mi lidi ini sudah kirim ke banyak kabupaten kota di Indonesia. Pagi kemarin, saya kirim ke Jakarta. Hanya saja, permintaan tidak sebanyak sebelum ada korona,” jelasnya.

Demi menjaga kelangsungan pekerjaan, sekalipun hanya memproduksi satu kuintal dalam satu pekan, Zainuri mengaku tetap menerapkan physicaldistancing kepada delapan orang pekerjanya. “Saat mau produksi ya kami panggil di rumahnya. Saat kerja, saya tetap anjurkan agar menjaga jarak. Ini demi kesehatan bersama,” ulas Zainuri.

Rasa-rasa mi lidi itu pun cukup digemari oleh banyak orang. Ada yang pedas, asin, rasa jagung manis, serta rasa lainnya. “Semoga virus korona segera teratasi agar semua usaha di Jember bangkit lagi,” harapnya.

Editor: Lintang Anis Bena Kinanti
Reporter: Nur Hariri
Fotografer: Nur Hariri