Berharap Daya Beli Kembali Bergairah

RUTINITAS SEHARI-HARI: Pedagang Pasar Tanjung menghitung uang saat bulan puasa atau Mei kemarin. IHK Jember pada Mei mengalami deflasi 0,03 persen. Diharapkan daya beli masyarakat kembali bergairah agar meningkatkan permintaan kelompok bahan pangan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kondisi ekonomi Jember pada puasa hingga lebaran atau Mei kemarin menunjukkan deflasi 0,03 persen. Penurunan harga kelompok bahan pangan menjadi penyebab terjadinya deflasi. Walau begitu, deflasi Jember terjadi penurunan dari pada April kemarin yang mencapai 0,13 persen.

IKLAN

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jember Arif Joko Sutejo melalui pres rilis virtual kemarin (2/6) mengatakan, pada Mei Jember alami deflasi 0,03 persen atau dengan indeks harga konsumen (IHK) 104,45 persen. “Dari delapan kota di Jatim, enam kota lainnya inflasi, sedangkan dua deflasi. Yaitu Jember dan Kediri,” ujarnya. Kediri menjadi deflasi tertinggi 0,19 persen, sementara inflasi tertinggi 0,27 persen. Sedangkan Jatim alami deflasi 0,18 persen. “Dari 90 kota IHK, 67 kota IHK inflasi sedangkan 23 kota IHK deflasi,” katanya.

Kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi terbesar adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,49 persen dan kelompok yang mengalami deflasi terendah adalah kelompok informasi, komunikasi, dan Jasa keuangan sebesar 0,24 persen. Kelompok pengeluaran yang stabil diantaranya perumahan, air, listrik, bahan bakar rumah rangga, dan pendidikan. “Komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya deflasi adalah bawang putih, telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, dan emas perhiasan,” ucapnya.

Menurutnya, kelompok bahan makanan Jember juga mengalami dampak dari panen raya dan daya beli yang rendah. Serta, dampak pembatasan terhadap pasar dan wilayah distribusi barang di berbagai daerah. Ini yang membuat Jember sebagai salah satu produsen bahan pangan, stok barang banyak harga turun.

Sementara itu, Kasi Statistik Distribusi BPS Jember Candra Birawa menambahkan, pada bulan Mei kemarin ada dua momen yang seharusnya menyumbang inflasi. Yaitu puasa dan Lebaran. Namun, dua momen tersebut tidak bisa menaikkan inflasi dan kondisi Jember tetap deflasi seperti April kemarin. Walau begitu, kata dia, ada penurunan deflasi dari April ke Mei. “April deflasi 0,13 persen sedangkan Mei 0,03 persen,” jelasnya.

Kelompok bahan makanan Jember, kata dia, yang alami deflasi juga karena dampak panen raya dan sayangnya juga diiringi dengan daya beli rendah. “Serta dampak pembatasan terhadap pasar dan wilayah distribusi barang di berbagai daerah,” jelasnya. Sehingga, Jember sebagai salah satu produsen membuat stok bahan pangan begitu melimpah dan membuat harga tersebut turun.

Konsumen tentu senang dengan harga barang mengalami penurunan itu. Tapi untuk pedagang, petani, produsen, harga terus terjadi penurunan tidak disukai. Apalagi pemerintah juga menargetkan inflasi setiap tahunnya, bukan deflasi.

Editor: Hadi Sumarsono
Reporter: Dwi Siswanto
Fotografer: Dwi Siswanto