Potensi Zakat Belum Terorganisasi Maksimal

PENGELOLAAN ZAKAT: Salah satu kegiatan kampung zakat yang mendistribusikan zakat pada warga yang membutuhkan.

RADARJEMBER.ID – Potensi zakat di Jember cukup besar. Sayangnya, masih belum mampu dikelola dengan baik. Banyak warga yang menyalurkan zakatnya secara pribadi pada orang lain. Tanpa diserahkan pada lembaga yang berhak mengelola.

IKLAN

“Di Jember itu zakat memang nyaris tidak tergali dengan baik,” kata kepala penyelenggara syariah Kemenag Jember, Muhammad Muslim.

Kecuali yang sudah dikelola oleh lembaga zakat swasta. Padahal, kalau dikelola secara maksimal, bisa menurunkan kemiskinan. Seperti pengelolaan zakat di tingkat PNS pemkab hingga lembaga vertikal seperti kejaksaan hingga pengadilan.

Mereka membuat Unit Pengelola Zakat (UPZ) kemudian disetor pada Badan Amil Zakat Kabupaten Jember. “Baznas sudah berjalan untuk berkoordinasi dengan lembaga tersebut. Itu kalau terkumpul semua, bila dua kali lipat peroleh dari Lumajang per tahun,” jelasnya.

Sebab, selama ini pengumpulan zakat masih kalah dengan Lumajang. Bila hanya ingin mendapatkan Rp 4 miliar memungkinkan.

Untuk itu, Kemenag sudah melakukan beberapa langkah bersama Baznas. Berupa koordinasi dengan penyuluh agama Islam untuk membentuk UPZ di tingkat kecamatan. “Mereka berkampanye ke masing-masing kecamatan untuk membentuk UPZ,” jelasnya.

Pemkab sendiri, kata dia, setiap dinas harus membentuk UPZ tersendiri. Sebanyak 2,5 persen pendapatan dari gaji harus disisihkan. Kebijakan membentuk UPZ di lingkungan OPD oleh Pemkab Jember baru menjadi kebijakan hari ini, sehingga  belum diketahui jumlahnya.  “Kalau semua bisa dikelola oleh Baznas, dampaknya luar biasa untuk pengentasan kemiskinan,” paparnya.

Bahkan, dikelola untuk pendidikan bagi anak miskin yang ada di Jember. Untuk itu, pria yang akrab disapa Muslim itu meminta lembaga-lembaga zakat swasta di Jember agar mengelola uang zakat itu untuk warga Jember sendiri. “Dana yang dikumpulkan di Jember, dimanfaatkan untuk kesejahteraan warga Jember. Jangan dikirim keluar Jember, kecuali ada bencana,” jelasnya.

Lembaga zakat swasta itu mestinya melaporkan pada Baznas. Idealnya harus ada audit bagi mereka. “Pemahaman warga tentang pengelolaan zakat masih rendah, banyak disalurkan secara personal,” tuturnya.

Tak kalah penting, Muslim meminta agar Bupati Jember lebih cepat merespons pengembangan perolehan zakat oleh Baznas. “Kalau perlu dipanggil kepala OPD dan ditanya berapa pendapatannya. Kalau belum setor, jadi pertimbangan,” terangnya. Sebab, hasil perolehan zakat memiliki dampak yang besar terhadap kemajuan Jember.

Dia mencontohkan, kampung zakat di Kecamatan Sumberjambe. Sudah ada beberapa siswa yang bisa kuliah karena bantuan dari pengelolaan zakat tersebut. “Anak orang miskin disekolahkan sampai kuliah,” terangnya.

Banyak program yang bisa dilakukan, seperti bantuan ekonomi kreatif dengan membuat kerajinan. Selain itu, ternak kambing bagi warga dan pemberantasan buta aksara Alquran hingga latin.

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Bagus Supriadi

Editor : Hadi Sumarsono