alexametrics
20.3C
Jember
Wednesday, 21 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Ubah Limbah Kayu Jadi Karya Seni, Awalnya Sempat Dikira Gila

Perjalanan Agus Supriyadi, Manusia Akar Asal Sidomulyo Seni bisa terinspirasi dari mana saja. Termasuk potensi alam sekitar. Inilah yang dilakukan Agus Supriyadi. Dia menyulap akar dan batang pohon sisa menjadi karya seni yang menakjubkan. Padahal sebelumnya, kayu-kayu itu terbengkalai dan dianggap limbah.

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dia dijuluki manusia akar. Sebab, halaman rumahnya penuh dengan tumpukan urat dasar pohon. Sebagian disusun menjadi karya seni rupa. Sisanya ada yang dibiarkan tertumpuk begitu saja di pekarangan, persis depan rumahnya.

“Dulu saya sempat dianggap tidak waras. Karena ngumpulin akar dan batang pohon sisa. Namun lama-lama, orang sudah ngerti apa yang saya kerjakan,” kata Agus Supriyadi, seniman kayu, saat ditemui di rumahnya, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo.

Pria berambut ikal belah tengah itu berpenampilan sederhana. Tak ada perawakan seniman sama sekali di wajahnya. Dia juga tak mengenakan flat cap alias topi datar yang biasanya dipakai seniman kondang. Hanya satu yang menunjukkan bahwa Agus adalah seseorang yang bergelut di bidang seni rupa. Puluhan karya yang teronggok di depan rumah dan pekarangannya tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Limbah akar dan batang kayu itu ada yang disusun mirip ondel-ondel, orang-orangan sawah, hingga berbentuk abstrak. Ada juga yang serupa pohon kering tanpa daun, mirip hiasan ruang tamu, atau pernak-pernik yang terpasang di hotel berbintang. “Awalnya tak ada orang yang melirik. Namun, saat ini sudah banyak orang yang berkunjung ke sini. Bahkan ada yang menjuluki kalau di sini sebagai wisata Rumah Akar,” tuturnya.

Wajahnya tiba-tiba tersenyum. Beberapa wisatawan berkunjung dan melihat-lihat karya seninya. Mereka sampai masuk ke dalam Rumah Akar, serta menelusuri pekarangan yang penuh dengan karya seni. Agus merasa senang melihat pengunjung tersebut. Dia merasa karyanya mendapat apresiasi.

Kini, Rumah Akar karya Agus juga menjadi salah satu destinasi wisata di Desa Sidomulyo. Setiap hari libur, ada saja wisatawan yang sambang ke tempatnya. Terkadang mereka juga membeli suvenir yang dibikin agus dari akar dan kayu. Ada cermin hias, tongkat berkepala ular, hingga pajangan pemanis ruangan. Semua suvenir itu berbahan akar dan kayu yang awalnya terbengkalai di hutan.

Selain suvenir, Agus juga membuat karya seni lain yang dijual untuk dekorasi hotel. Kayu-kayu berbentuk indah tersebut bukanlah hasil pahatan. Namun, hasil karya alam yang dimaksimalkan oleh Agus. Batang dan akar kayu itu ada yang berongga seperti habis dimakan rayap. Dengan tangan kreatifnya, barang yang sebelumnya dianggap limbah itu disulap hingga memiliki nilai seni tersendiri. “Ini dimakan rayap, jadinya begini,” tutur Agus, sembari menunjukkan sebuah batang kayu yang tak utuh lagi.

Pria warga Dusun Curah Manis, Sidomulyo, ini mengatakan, dia menggeluti seni kayu itu sejak 2009 lalu. Lebih satu dekade menekuni seni kayu, baginya bukanlah hal yang mudah. Awalnya, dia menerima cibiran karena dianggap melakukan sesuatu yang sia-sia. Menumpuk sampah kayu, juga membuat Agus acap kali dikatakan orang aneh. “Dulu dianggap gila oleh orang di sini. Karena mengumpulkan kayu tidak jelas,” kenangnya, kemudian terkekeh.

Hasil mengumpulkan kayu dan karyanya ini mulai diakui warga saat perayaan Kemerdekaan RI. Pada momentum agustusan itu, dia membuat sebuah boneka kayu. Mirip ondel-ondel. Bukan kayu utuh yang diukir jadi boneka, melainkan potongan kayu yang disatukan hingga menyerupai tubuh manusia. Tingginya sekitar dua meter.

Sebelum menekuni seni kayu, Agus memang sempat bekerja sebagai tukang amplas kerajinan akar ukir di Bali. Berawal dari sinilah, dia akhirnya mengetahui usaha seni akar cukup menguntungkan. Dia hanya sebentar saja bekerja di Pulau Dewata itu. Kemudian, Agus memilih pulang ke kampung halaman dan membuka usaha kerajinan akar sendiri di rumahnya.

“Sebenarnya sudah ada bayangan untuk membuat usaha dari akar dan batang kayu yang dimakan rayap itu. Tapi belum mantap. Setelah kerja di Bali, mulai yakin,” jelasnya. Jauh sebelum memutuskan menekuni usaha seni kayu, pria 40 tahun ini terlebih dahulu mengumpulkan batang dan akar kayu yang terbengkalai. Dia mengumpulkannya dari hutan dan sawah yang lokasinya tak jauh dari rumahnya. Dia mengakui, skill untuk membuat akar dan kayu memiliki nilai seni dari autodidak.

Kini, hasil karyanya itu diminati dari berbagai kota. Selain beberapa daerah di Indonesia, juga ada pembeli dari mancanegara, seperti Tiongkok dan Belgia. Untuk harga, Agus membanderol mulai Rp 25 ribu hingga jutaan rupiah. Bergantung pada ukuran dan nilai seninya.

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dia dijuluki manusia akar. Sebab, halaman rumahnya penuh dengan tumpukan urat dasar pohon. Sebagian disusun menjadi karya seni rupa. Sisanya ada yang dibiarkan tertumpuk begitu saja di pekarangan, persis depan rumahnya.

“Dulu saya sempat dianggap tidak waras. Karena ngumpulin akar dan batang pohon sisa. Namun lama-lama, orang sudah ngerti apa yang saya kerjakan,” kata Agus Supriyadi, seniman kayu, saat ditemui di rumahnya, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo.

Pria berambut ikal belah tengah itu berpenampilan sederhana. Tak ada perawakan seniman sama sekali di wajahnya. Dia juga tak mengenakan flat cap alias topi datar yang biasanya dipakai seniman kondang. Hanya satu yang menunjukkan bahwa Agus adalah seseorang yang bergelut di bidang seni rupa. Puluhan karya yang teronggok di depan rumah dan pekarangannya tersebut.

Mobile_AP_Half Page

Limbah akar dan batang kayu itu ada yang disusun mirip ondel-ondel, orang-orangan sawah, hingga berbentuk abstrak. Ada juga yang serupa pohon kering tanpa daun, mirip hiasan ruang tamu, atau pernak-pernik yang terpasang di hotel berbintang. “Awalnya tak ada orang yang melirik. Namun, saat ini sudah banyak orang yang berkunjung ke sini. Bahkan ada yang menjuluki kalau di sini sebagai wisata Rumah Akar,” tuturnya.

Wajahnya tiba-tiba tersenyum. Beberapa wisatawan berkunjung dan melihat-lihat karya seninya. Mereka sampai masuk ke dalam Rumah Akar, serta menelusuri pekarangan yang penuh dengan karya seni. Agus merasa senang melihat pengunjung tersebut. Dia merasa karyanya mendapat apresiasi.

Kini, Rumah Akar karya Agus juga menjadi salah satu destinasi wisata di Desa Sidomulyo. Setiap hari libur, ada saja wisatawan yang sambang ke tempatnya. Terkadang mereka juga membeli suvenir yang dibikin agus dari akar dan kayu. Ada cermin hias, tongkat berkepala ular, hingga pajangan pemanis ruangan. Semua suvenir itu berbahan akar dan kayu yang awalnya terbengkalai di hutan.

Selain suvenir, Agus juga membuat karya seni lain yang dijual untuk dekorasi hotel. Kayu-kayu berbentuk indah tersebut bukanlah hasil pahatan. Namun, hasil karya alam yang dimaksimalkan oleh Agus. Batang dan akar kayu itu ada yang berongga seperti habis dimakan rayap. Dengan tangan kreatifnya, barang yang sebelumnya dianggap limbah itu disulap hingga memiliki nilai seni tersendiri. “Ini dimakan rayap, jadinya begini,” tutur Agus, sembari menunjukkan sebuah batang kayu yang tak utuh lagi.

Pria warga Dusun Curah Manis, Sidomulyo, ini mengatakan, dia menggeluti seni kayu itu sejak 2009 lalu. Lebih satu dekade menekuni seni kayu, baginya bukanlah hal yang mudah. Awalnya, dia menerima cibiran karena dianggap melakukan sesuatu yang sia-sia. Menumpuk sampah kayu, juga membuat Agus acap kali dikatakan orang aneh. “Dulu dianggap gila oleh orang di sini. Karena mengumpulkan kayu tidak jelas,” kenangnya, kemudian terkekeh.

Hasil mengumpulkan kayu dan karyanya ini mulai diakui warga saat perayaan Kemerdekaan RI. Pada momentum agustusan itu, dia membuat sebuah boneka kayu. Mirip ondel-ondel. Bukan kayu utuh yang diukir jadi boneka, melainkan potongan kayu yang disatukan hingga menyerupai tubuh manusia. Tingginya sekitar dua meter.

Sebelum menekuni seni kayu, Agus memang sempat bekerja sebagai tukang amplas kerajinan akar ukir di Bali. Berawal dari sinilah, dia akhirnya mengetahui usaha seni akar cukup menguntungkan. Dia hanya sebentar saja bekerja di Pulau Dewata itu. Kemudian, Agus memilih pulang ke kampung halaman dan membuka usaha kerajinan akar sendiri di rumahnya.

“Sebenarnya sudah ada bayangan untuk membuat usaha dari akar dan batang kayu yang dimakan rayap itu. Tapi belum mantap. Setelah kerja di Bali, mulai yakin,” jelasnya. Jauh sebelum memutuskan menekuni usaha seni kayu, pria 40 tahun ini terlebih dahulu mengumpulkan batang dan akar kayu yang terbengkalai. Dia mengumpulkannya dari hutan dan sawah yang lokasinya tak jauh dari rumahnya. Dia mengakui, skill untuk membuat akar dan kayu memiliki nilai seni dari autodidak.

Kini, hasil karyanya itu diminati dari berbagai kota. Selain beberapa daerah di Indonesia, juga ada pembeli dari mancanegara, seperti Tiongkok dan Belgia. Untuk harga, Agus membanderol mulai Rp 25 ribu hingga jutaan rupiah. Bergantung pada ukuran dan nilai seninya.

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dia dijuluki manusia akar. Sebab, halaman rumahnya penuh dengan tumpukan urat dasar pohon. Sebagian disusun menjadi karya seni rupa. Sisanya ada yang dibiarkan tertumpuk begitu saja di pekarangan, persis depan rumahnya.

“Dulu saya sempat dianggap tidak waras. Karena ngumpulin akar dan batang pohon sisa. Namun lama-lama, orang sudah ngerti apa yang saya kerjakan,” kata Agus Supriyadi, seniman kayu, saat ditemui di rumahnya, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo.

Pria berambut ikal belah tengah itu berpenampilan sederhana. Tak ada perawakan seniman sama sekali di wajahnya. Dia juga tak mengenakan flat cap alias topi datar yang biasanya dipakai seniman kondang. Hanya satu yang menunjukkan bahwa Agus adalah seseorang yang bergelut di bidang seni rupa. Puluhan karya yang teronggok di depan rumah dan pekarangannya tersebut.

Limbah akar dan batang kayu itu ada yang disusun mirip ondel-ondel, orang-orangan sawah, hingga berbentuk abstrak. Ada juga yang serupa pohon kering tanpa daun, mirip hiasan ruang tamu, atau pernak-pernik yang terpasang di hotel berbintang. “Awalnya tak ada orang yang melirik. Namun, saat ini sudah banyak orang yang berkunjung ke sini. Bahkan ada yang menjuluki kalau di sini sebagai wisata Rumah Akar,” tuturnya.

Wajahnya tiba-tiba tersenyum. Beberapa wisatawan berkunjung dan melihat-lihat karya seninya. Mereka sampai masuk ke dalam Rumah Akar, serta menelusuri pekarangan yang penuh dengan karya seni. Agus merasa senang melihat pengunjung tersebut. Dia merasa karyanya mendapat apresiasi.

Kini, Rumah Akar karya Agus juga menjadi salah satu destinasi wisata di Desa Sidomulyo. Setiap hari libur, ada saja wisatawan yang sambang ke tempatnya. Terkadang mereka juga membeli suvenir yang dibikin agus dari akar dan kayu. Ada cermin hias, tongkat berkepala ular, hingga pajangan pemanis ruangan. Semua suvenir itu berbahan akar dan kayu yang awalnya terbengkalai di hutan.

Selain suvenir, Agus juga membuat karya seni lain yang dijual untuk dekorasi hotel. Kayu-kayu berbentuk indah tersebut bukanlah hasil pahatan. Namun, hasil karya alam yang dimaksimalkan oleh Agus. Batang dan akar kayu itu ada yang berongga seperti habis dimakan rayap. Dengan tangan kreatifnya, barang yang sebelumnya dianggap limbah itu disulap hingga memiliki nilai seni tersendiri. “Ini dimakan rayap, jadinya begini,” tutur Agus, sembari menunjukkan sebuah batang kayu yang tak utuh lagi.

Pria warga Dusun Curah Manis, Sidomulyo, ini mengatakan, dia menggeluti seni kayu itu sejak 2009 lalu. Lebih satu dekade menekuni seni kayu, baginya bukanlah hal yang mudah. Awalnya, dia menerima cibiran karena dianggap melakukan sesuatu yang sia-sia. Menumpuk sampah kayu, juga membuat Agus acap kali dikatakan orang aneh. “Dulu dianggap gila oleh orang di sini. Karena mengumpulkan kayu tidak jelas,” kenangnya, kemudian terkekeh.

Hasil mengumpulkan kayu dan karyanya ini mulai diakui warga saat perayaan Kemerdekaan RI. Pada momentum agustusan itu, dia membuat sebuah boneka kayu. Mirip ondel-ondel. Bukan kayu utuh yang diukir jadi boneka, melainkan potongan kayu yang disatukan hingga menyerupai tubuh manusia. Tingginya sekitar dua meter.

Sebelum menekuni seni kayu, Agus memang sempat bekerja sebagai tukang amplas kerajinan akar ukir di Bali. Berawal dari sinilah, dia akhirnya mengetahui usaha seni akar cukup menguntungkan. Dia hanya sebentar saja bekerja di Pulau Dewata itu. Kemudian, Agus memilih pulang ke kampung halaman dan membuka usaha kerajinan akar sendiri di rumahnya.

“Sebenarnya sudah ada bayangan untuk membuat usaha dari akar dan batang kayu yang dimakan rayap itu. Tapi belum mantap. Setelah kerja di Bali, mulai yakin,” jelasnya. Jauh sebelum memutuskan menekuni usaha seni kayu, pria 40 tahun ini terlebih dahulu mengumpulkan batang dan akar kayu yang terbengkalai. Dia mengumpulkannya dari hutan dan sawah yang lokasinya tak jauh dari rumahnya. Dia mengakui, skill untuk membuat akar dan kayu memiliki nilai seni dari autodidak.

Kini, hasil karyanya itu diminati dari berbagai kota. Selain beberapa daerah di Indonesia, juga ada pembeli dari mancanegara, seperti Tiongkok dan Belgia. Untuk harga, Agus membanderol mulai Rp 25 ribu hingga jutaan rupiah. Bergantung pada ukuran dan nilai seninya.

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2
×

Info!

Mau Langganan Koran, Info Iklan Cetak dan Iklan Online

×Info Langganan Koran