Tujuh Ruko Membentang di Atas Sungai

DI ATAS KANAL: Inilah yang terlihat di Jl Sultan Agung atau pertokoan di depan toko Jompo yang amblas. Jika dilihat dari belakang keberadaan toko tersebut persis di atas sungai Jompo.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tak banyak yang paham, saat melintasi Jalan Gajah Mada hingga Alun-Alun Jember bakal melewati sungai. Sebab, penampang jembatan juga tidak terasa. Begitulah Sungai Jompo yang membelah Jl Sultan Agung. Para pengendara rasanya terhipnotis dengan kompleks pertokoan di kanan-kiri jalan. Toko-toko itu membuat Sungai Jompo seolah berkamuflase.

IKLAN

“Aku ini lho baru paham kalau Jl Sultan Agung itu ada sungainya,” kata Hadi, warga Mangli. Kompleks pertokoan Jompo yang ambruk, kemarin (2/2), bangunannya memang setengah melayang di atas sungai. Bahkan, ada bangunan toko yang tak sekadar melayang, tapi berdiri tepat di atas sungai. Bangunan itu berada di depan pertokoan Jompo yang ambruk atau menjadi satu deretan dengan Rien Collection.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember yang turun ke sungai melewati gang kecil samping Rien Collection, terpampang jelas ada bangunan di atas sungai. Dilihat dari sungai, setidaknya ada lima bangunan toko yang dibangun di atas sungai. Namun, jika dilihat dari Jalan Sultan Agung, deretan toko total ada tujuh bangunan. Semuanya berdiri persis di atas kanal.

Dari tujuh toko yang dibangun di atas sungai tersebut, hanya satu yang buka pada waktu itu. Hanya toko emas, persis di samping toko peracangan UD Damai Jaya. Toko elektronik Aneka juga tutup, hanya pintunya saja yang terbuka sedikit. Bahkan, di antara jajaran toko di atas Sungai Jompo, ada yang memasang banner disewakan.

Yeni, pegawai toko elektronik Aneka yang berdiri di atas sungai itu, mengaku bahwa toko tempatnya bekerja sudah ada sejak lama, sekitar tahun 1990-an. “Duluan pertokoan Jompo yang ambruk itu pembangunannya. Kalau toko ini milik sendiri, pertokoan Jompo milik pemda,” ujarnya.

Yeni mengaku tak khawatir kejadian ambruknya pertokoan Jompo juga berimbas di tempat kerjanya. Keyakinan Yeni, konstruksi tokonya lebih kuat. “Ibarat teknologi, toko ini teknologi pembangunannya lebih cangih daripada pertokoan Jompo,” klaimnya.

Terjadi Penyempitan Kanal

Air itu berwarna cokelat dan arusnya deras. Begitulah pantauan Jawa Pos Radar Jember di sungai yang mengalir di bawah jembatan dan pertokoan Jompo. Sebelum melewati jembatan Jompo atau dipantau dari bawah Rien Colletion, lebar sungai itu sekitar 12 meter. Namun, lebar sungai berubah drastis menjadi 6-5 meter saja setelah melewati jembatan Jompo. Sungai tersebut menyempit.

Sementara itu, saat dilihat dari sungai, jembatan Jompo terlihat seperti saluran gorong-gorong raksasa. Cahaya matahari sulit masuk, gelap, dan terdapat tiga setengah lingkaran yang menopang jembatan Jompo di Jl Sultan Agung itu. Bahkan, di bagian tiga pilar jembatan juga banyak sampah kayu dan plastik tersangkut. Sementara itu, dipantau dari ruang genset milik Rien Colletion, suara gemuruh sungai terdengar begitu lantang.

Ketua RW 9 Kelurahan Jember Kidul, Kaliwates, Yayuk Dwi Rahayu mengakui, sungai di belakang Rien Colletion dengan belakang pertokoan Jompo yang ambruk tersebut lebarnya berbeda. “Kalau di sini, (belakang pertokoan Jompo, Red) lebarnya enam meter. Tapi ada jarak terpendeknya sampai lima meter,” ujarnya.

Dengan kondisi itu, menurut dia, wajar saja jika sungai sempit hingga memperkuat arus sungai.  Derasnya arus sungai juga memperkuat gerusan air yang mengikis bagian bawah fondasi pertokoan Jompo. Terlebih, Yayuk berkata, runtuhnya bangunan itu dikhawatirkan dapat meluapkan air hingga menggenangi permukiman warga. “Paling khawatir sebenarnya perkampungan di belakang Rien Colletion. Karena di sini tersumbat bangunan, sehingga di sana air bisa meluber,” tuturnya.

Firdaus Dellabas, anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mahapena) Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Unej, mengatakan, pada 2010 lalu dia bersama dua temannya pernah ada inisiatif menyusuri Sungai Jompo dengan peralatan arung jeram ala kadarnya. Start dari sungai di Klungkung dan berhenti sebelum masuk jembatan Jompo. “Serem begitu. Arusnya makin deras. Apalagi juga gelap,” katanya.

Saat mengurungkan niatnya turun ke bawah jembatan Jompo tersebut, Della bersama dua temannya juga melakukan pemantauan darat. Hasilnya, kata dia, cukup berbahaya karena sungai itu berbelok cukup tajam.

Sementara itu, pada 1990, Nur Hidayat juga pernah melakukan pengecekan darat untuk sungai di Jembatan Jompo. Alumnus Mahapena tersebut mengakui ada arus yang kian bertambah saat masuk Jembatan Jompo. “Setelah Masjid Jamik, sungai itu mulai ada penguatan arus karena mulai ada penyempitan,” jelasnya.

Penguatan arus juga semakin bertambah saat masuk di Jembatan Jompo. Di bawah jembatan itu, kata dia, ada semacam tambahan air. Entah itu sungai atau saluran pembuangan. Tapi hal yang paling berbahaya, adanya hole atau arus sungai yang menggulung. “Jika ada orang jatuh ke sana, terus panik, dan tidak tahu teknik menyelamatkan diri dari hole, maka nyawa jadi taruhannya,” tambahnya.

Sungai di Jembatan Jompo yang berbentuk menyerupai huruf ‘S’ atau berbelok tersebut juga punya potensi adanya undercut. Yaitu, bagian bawah tebing tergerus, sehingga membuat ada pusaran yang sangat kuat di bagian bawahnya.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih