Elegi Warga yang Mencari Nafkah di Pertokoan Jompo

Masih Utamakan Pesanan meski Ruko Hampir Ambrol

Setelah dilanda banjir beberapa pekan lalu, musibah kembali melanda Kabupaten Jember. Kini, masyarakat Jember dihadapkan dengan ambruknya sembilan ruko di kawasan Jompo. Kejadian tersebut tentu mengakibatkan sesak di dada, terutama bagi para pedagang yang terdampak. Apa yang akan mereka lakukan demi melanjutkan kehidupan?

PASRAH: Agus Sugimianto, adik pemilik usaha jahit Fani Bagaspati di sekitar Pasar Jompo, bekerja keras mencopoti kaca toko setelah mendapatkan arahan untuk mengosongkan isi ruko, kemarin (2/3) siang.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keringat bercampur debu menyelimuti wajah-wajah sejumlah masyarakat di sekitar Jembatan Jompo, kemarin (2/3) siang. Mereka berbondong-bondong menyaksikan backhoe alias ekskavator yang sedang meratakan tanah di sekitar reruntuhan ruko dekat Kali Jompo. Kejadian yang merobohkan sedikitnya sembilan ruko tersebut ternyata juga membuat pemilik ruko lain terdampak.

IKLAN

Salah satunya adalah Agus Sugimianto, 53. Adik dari pemilik usaha jahit Fani Bagaspati tersebut harus rela memindahkan sejumlah barang ada di tokonya, yang berjarak hanya 15 meter dari batas ruko yang ambrol. Untungnya, dia tak sendirian saat mengosongkan barang-barang di dalam ruko. Bersama tiga orang pesuruh dan satu orang dari Pemkab Jember, mereka bergotong royong menyelesaikan tugas itu.

Dia menjelaskan bahwa sang kakak sedang berada di pendapa untuk mengikuti rapat. Rapat itu bakal membahas kelanjutan ruko pascaambruk kemarin (2/3) sekitar pukul 03.30. “Toko ini milik kakak saya. Namanya adalah Kiki Handiyono,” tutur pria 53 tahun tersebut.

Agus menuturkan, dia dan kakaknya membeli ruko ini pada 1980 silam dengan harga Rp 25 juta. Kemudian, dicicil sebesar Rp 48 ribu per bulan. “Sekarang cicilannya menjadi Rp 200 ribu,” ungkap warga Perumahan Kodim di Jalan Brawijaya, Kelurahan Jubung Lor, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, tersebut.

Sebelumnya, dirinya membuka usaha di Pasar Johar. Namun, karena ada penggusuran, Agus dan kakaknya pindah ke Jompo pada 1980. Saat itu tak ada kendala yang berarti. “Hanya masalah parkir saja,” ucapnya.

Namun, saat muncul retakan sekitar Maret 2019, pihak pemkab memberikan larangan huni untuk pemilik ruko di sekitar Kali Jompo. Meski begitu, pihaknya bersikeras tetap tinggal di sana. “Kalau tak begitu, usaha kami mau dikemanakan,” tegasnya.

Berdasarkan keterangan berbagai pihak, ruko-ruko itu roboh sekitar pukul 03.30. Pria yang akrab disapa Agus itu kali pertama mengetahui kejadian tersebut bakda Subuh. Mengetahui hal itu, dia langsung menghubungi berbagai pihak untuk ikut serta membersihkan ruko.

Meski waswas bakal terjadi ambruk susulan, Agus masih mengutamakan pesanan yang sudah telanjur dia garap. “Roboh atau tidak, saya pasrah dengan bangunan ini. Saya lebih khawatir dengan baju-baju milik pelanggan. Kalau sampai rusak atau hilang, kan kasihan yang punya. Sementara ini, kami akan menghubungi para konsumen agar segera mengambil baju mereka,” sambungnya.

Saat membersihkan isi ruko, Agus mengaku mendapatkan bantuan berupa pickup dari pihak pemda. “Ada bantuan alat transportasi ini, jadi lebih ringan membawa semua peralatan jahit ke Jubung,” pungkasnya. Dirinya belum menerima hasil rapat di pendapa antara pemerintah dan pemilik ruko. “Hanya ada beberapa orang pemda yang datang untuk mendata peralatan yang ada di ruko,” tuturnya.

Agus berharap ada tindak lanjut dari pemerintah setelah insiden ini terjadi. Bukan hanya terhadap dirinya, namun juga bagi para pedagang lain yang menggantungkan hidupnya di kawasan pertokoan Jompo. “Kami butuh tempat sementara untuk melanjutkan usaha kami,” pungkasnya.

Reporter : mg1

Fotografer : mg1

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti