Berhasil Kendalikan Inflasi

Jember di Bawah Jatim dan Nasional

PAPARKAN INFLASI: Kepala BI Jember Hestu Wibowo memberikan gambaran dan penyebab inflasi Jember yang di bawah Jatim dan nasional selama 2019 dalam rilis di Kantor BPS Jember, kemarin.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perkembangan indeks harga konsumen (IHK) atau inflasi di Kabupaten Jember ditutup manis pada 2019. Tingkat inflasi sebesar 2,04 persen sepanjang 2019 masih berada di bawah inflasi Jawa Timur (Jatim) serta nasional yang terbukukan 2,12 persen dan 2,71 persen.

IKLAN

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jember Arif Joko Sutejo menjelaskan, pada Desember 2019 kemarin, Jember mengalami inflasi sebesar 0,54 persen. Jika diakumulasi, selama 2019 inflasi Jember tercatat 2,04 persen.

Selain di bawah Jatim dan nasional, besaran inflasi Jember juga di bawah Banyuwangi sebesar 2,32 persen. Kendati begitu, angkanya tetap lebih besar daripada Probolinggo yang terbukukan 1,99 persen, Kediri 1,83 persen, atau Malang 1,93 persen.

Besaran inflasi 2,04 persen tersebut juga lebih rendah dari inflasi 2018 lalu sebesar 2,95 persen, dan tahun 2017 sebesar 3,52 persen. “Sumbangsih inflasi di Jember masih didominasi oleh volatile foods,” jelasnya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember Hestu Wibowo mengatakan, inflasi pada Desember 2019 ini, Jember justru menjadi kota kedua tertinggi setelah Surabaya sebesar 0,60 persen. Walau begitu, dilihat dari kalender inflasi selama 2019, Jember masih di bawah Jatim bahkan nasional. “Akhirnya, 2019 Jember mampu mengendalikan inflasi dan pada bulan tertentu sempat mengalami deflasi seperti Februari dan Maret,” tuturnya.

Besaran inflasi 2,04 persen selama 2019, menurut Hestu, sesuai dengan proyeksi yang dibuat BI Jember. “Kami proyeksikan inflasi Jember ini antara 1,97–2,07 persen,” jelas Hestu. Inflasi Jember mampu dikendalikan karena tidak ada tekanan terlalu besar dari administration price dan volatile foods.

Menurut Hestu, pengendalian soal pangan, baik pasokan maupun distribusi, bisa terkendali. Pemerintah juga tidak terlalu banyak mengeluarkan kebijakan soal penyesuaian harga. Semisal harga BBM, air, atau pengendalian harga pasar. Sementara itu, komponen inti atau core inflation seperti biaya sekolah atau kontrak rumah juga menjadi penyeimbang untuk capaian inflasi. “Kalau inflasi terlalu rendah juga tidak baik, terutama untuk unit usaha,” jelasnya.

Hestu mengaku, setiap rapat dengan BI pusat, pihaknya selalu menggelorakan optimisme ekonomi yang lebih baik. Sebab, ada perlambatan ekonomi global seperti perang dagang antara Tiongkok dan Amerika.

Sementara itu, Kasi Operasional Bulog Subdivre Jember Nanang Hartoyo menyatakan, secara umum harga stabil. Walau masuk musim hujan, stok beras masih banyak. “Baik melalui operasi pasar maupun Rumah Pangan Kita, kami sudah lepas ke pasar. Setidaknya dua ribu ton beras,” tuturnya.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej) Dr Agus Luthfi memaparkan, pemerintah memang menetapkan target inflasi sebesar 3,5 persen plus minus satu. Artinya, target terendah adalah 2,5 persen.

Target tersebut, kata dia, mampu diselesaikan oleh inflasi nasional, tapi tidak untuk Jatim dan Jember. Dia mengaku, kondisi ekonomi global saat ini juga tidak begitu baik. Besaran inflasi Jember, menurut Agus, juga cukup baik. Tetap di bawah nasional dan Jatim, tapi tak terlalu jauh.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih