Positif Korona, Gugur Jadi Paslon?

BERBINCANG: Muhammad Syai’in, Ketua KPU Jember (kanan), bersama pengurus partai politik seusai memberi penjelasan terkait kewajiban tes kesehatan paslon cabup-cawabup, kemarin (1/9).

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tes kesehatan menjadi salah satu syarat pendaftaran bagi bakal pasangan calon bupati dan calon wakil bupati (paslon cabup-cawabup). Bagaimana jika nanti ada tokoh yang positif korona, bisakah tetap maju atau justru gugur?

Hal ini, kemarin (1/9), dikoordinasikan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jember kepada sejumlah pihak. Bakal paslon cabup-cawabup nantinya secara khusus akan menjalani tes kesehatan di Malang. Termasuk tes untuk mengetahui apakah terjangkit wabah korona atau tidak.

Ketua KPU Jember Muhammad Syai’in menjelaskan, ketentuan tes kesehatan bukan ditentukan oleh KPU Jember. Melainkan langsung dari KPU RI. “Kenapa harus di Malang, ini sudah keputusan dari KPU RI,” tegasnya, seusai berkoordinasi dengan tim pemenangan cabup-cawabup dan sejumlah pengurus partai politik.

Diuraikan, tes kesehatan paslon dari 19 kabupaten dan kota di Jawa Timur dibagi menjadi tiga tempat. Jember mendapat jatah di RS Syaiful Anwar, Malang. “Sesuai Keputusan KPU RI Nomor 231, bahwa rumah sakitnya harus memenuhi kategori tipe A. Di Jawa Timur itu hanya ada Rumah Sakit dr Soetomo, RSAL, dan RS Syaiful Anwar. Nah, Jember ditempatkan di Syaiful Anwar Malang,” urainya.

Menurutnya, setiap paslon cabup-cawabup harus menjalani tes kesehatan. Pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) tahun ini juga harus menjalani tes korona. “Kalau dinyatakan reaktif atau pun positif, standarnya kan harus dilakukan isolasi. Standar ini tetap pada dokter atau medis,” imbuhnya.

Ditanya apakah tes kesehatan, khususnya terkait wabah korona, bisa memengaruhi gugurnya bakal paslon cabup-cawabup, Syai’in menegaskan hal itu masuk pada ranah dokter. “Dokter (keputusan tim medis, Red) yang akan menentukan apakah ini memengaruhi pencalonan atau tidak. Tetapi yang jelas, jika sampai ada yang reaktif atau positif, kami akan koordinasi dengan KPU provinsi atau pusat,” tegasnya.

Perlu diketahui, seorang tokoh bisa saja gugur apabila tidak lolos dalam menjalani tes kesehatan. Penentuan lolos tidaknya kesehatan ini menjadi keputusan tim medis. Apabila seorang tokoh tertentu tidak lolos dalam sejumlah tes kesehatan dan berpotensi pada tanggung jawab seorang pemimpin, maka potensi gugur tetap ada. Untuk itu, KPU mengimbau agar seluruh bakal calon tetap menjaga kesehatannya, sehingga tidak menjadi kendala pencalonan.

Sementara itu, informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, tes kesehatan bakal cabup-cawabup akan dilaksanakan pada tanggal 4 sampai 9 September. Teknisnya, siapa paslon yang lebih dulu mendaftar, maka akan dikoordinasikan dengan tim medis di RS Syaiful Anwar Malang. Mengenai dengan jadwal tes kesehatan akan diputuskan oleh pihak rumah sakit.

Hal penting lainnya yang perlu diketahui yakni pendamping bakal cabup-cawabup sudah harus dipastikan kesehatannya sebelum ikut mengantar tes kesehatan paslon di Malang. Untuk memastikan itu, maka pendamping dites terlebih dahulu, dan teknisnya bisa langsung datang ke kantor KPU.

Editor: Lintang Anis Bena Kinanti
Reporter: Nur Hariri
Fotografer: Nur Hariri