Cerita Peraih Medali di Kejuaraan Dunia Tapak Suci

Harus Fokus, Lengah Sedikit Bisa Terkena Senjata

Perjalanan panjang harus dilalui M Hafid Firhan. Pesilat muda Jember itu tak hanya tekun berlatih, tapi juga perlu adaptasi untuk bermain di kategori seni pencak silat. Apalagi, baru-baru ini, dirinya turun dalam kejuaraan bergengsi tingkat dunia.

RAIH MEDALI: M. Hafid Firhan (kanan) bersama rekannya Veren Yuliana saat mendapat medali dalam Kejuaraan Dunia Tapak Suci, tahun lalu di Solo.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagi M Hafid Firhan, prestasi yang dia dapat di ajang pencak silat internasional sangatlah penting dan membanggakan. Selain levelnya sudah tingkat dunia, di sisi lain dirinya juga tidak ujukujuk bisa bermain di kejuaraan tersebut.

IKLAN

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej) ini berhasil mengukir di kejuaraan tingkat dunia. Hafid berhasil meraih juara kedua dengan mendulang medali perak dalam ajang Kejuaraan Dunia (Kejurdun) Tapak Suci World Championship 2019 lalu, di GOR Sritex Solo, Jawa Tengah. Kejuaraan itu digelar 31 Agustus hingga 5 September 2019.

Hafid turun di nomor seni kelas trio putra. Selain Hafid, ada juga Veren Yuliana, mahasiswi Unej yang turun di kejuaraan tersebut dengan meraih medali perunggu. Kedua pesilat muda Tapak Suci Unej itu mewakili kontingen Jawa Timur. Mereka bersaing dengan 547 atlet dari 14 negara.

Pemuda kelahiran 19 Agustus 1999 ini turun di seni kelas trio putra. “Awalnya ya seleksi dulu di Jember. Setelah itu seleksi wilayah,” tutur Hafid. Sebelum berangkat ke Solo, alumnus SMA Muhammadiyah 3 Jember ini melakoni pemusatan latihan di Kabupaten Sidoarjo bersama atlet Tapak Suci Jatim lainnya. Hafid sebelumnya juga disiapkan untuk berlaga di nomor seni kelas ganda putra.

Tetapi, ternyata ada perubahan mendadak. Salah satu atlet Jatim memutuskan untuk mengundurkan diri. Sehingga tim pelatih TS Jatim mengarahkan Hafid untuk turun di kelas seni trio putra. Hafid pun hanya memiliki waktu singkat untuk adaptasi bermain di kelas yang berbeda. Tetapi itu tidak menjadikan masalah besar. Bagi Hafid, dia selalu siap dan tampil fight dalam Kejurdun saat itu.

Menurut anak pasangan Rusmiati dan Abdurahman ini, gerakan di kategori seni harus sinkron dengan irama musik. “Perlu adaptasi lagi. Sebab, main di nomor seni ini membutuhkan kekompakan jurus dengan partner kita. Kelas seni juga butuh stamina dan konsentrasi tinggi,” ungkap pria asli Sempusari, Jember, tersebut.

Selain itu, tantangan bagi dirinya, Hafid turun di nomor seni yang menggunakan senjata. Kalau lengah sedikit, bukan tidak mungkin melukai dirinya ataupun rekan pasangannya. “Kalau kurang fokus bisa terkena sabetan senjata,” imbuhnya.

Dalam kejuaraan tersebut, Hafid memakai senjata pisau. Sedangkan dua rekannya membawa celurit dan golok. Pada kelas seni trio putra, medali emas diraih oleh kontingen TS Yogyakarta, sedangkan medali perunggu diambil tim Jawa Tengah.

Kejuaraan Dunia tersebut mempertandingkan 18 nomor kategori tanding (11 putra dan 7 putri) dan 16 nomor kategori seni (8 putra, 7 putri, dan 1 beregu). Selain itu, Kejurdun tersebut menjadi salah satu ajang pembuktian para pesilat muda Tapak Suci dari seluruh dunia. Tak hanya Indonesia, ada 14 negara yang ambil bagian. Di antaranya Singapura, Pakistan, Mesir, Jerman, Thailand, dan Aljazair.

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih