Berbagi Pengalaman dari Intan Palingga dalam Seleksi Duta Penari

Bangga dan Senang Berproses untuk Mahir Menjadi Penari Tradisional

Mengikuti seleksi Duta Penari Jawa Timur 2019 menjadi pengalaman berharga bagi Lingga. Penari asal Jember ini bersaing ketat dengan sejumlah penari muda lainnya. Berkat perjuangannya, gadis belia mahasiswi Universitas Jember ini berhasil masuk 15 besar penari terbaik.

TAK KHIANATI HASIL: Intan Palingga, salah satu penari Jember yang termasuk dalam 15 penari terbaik dalam Duta Penari Jawa Timur 2019.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seni tari seakan sudah mengalir di nadi perempuan yang masih berusia 19 tahun ini. Sejak kecil, gadis belia asli Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, ini sudah gemar menari. Diakuinya, sejak kecil, Lingga, panggilan akrabnya, kerap tampil dalam pementasan di sekolahnya.

IKLAN

Dari sanalah, Lingga terus menggeluti dunia seni tari. Sejak duduk di bangku SMP kala itu, perempuan yang kini mahasiswi aktif di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Jember (Unej) bergabung dengan salah satu sanggar tari. “Dulu selalu seneng banget kalau diajak tari sama kakak. Meskipun di acara sekolah lepas pisah saja. Tapi sudah bangga dan seneng,” ungkap Lingga.

Lingga kala itu memilih bergabung bersama Sanggar Kartika Budaya yang berada di Kecamatan Ambulu. Sejak kelas 1 SMP itulah sampai sekarang, Lingga selalu aktif menari. Pilihannya lebih condong ke tarian tradisional. “Waktu saya SMP dan pertama kali ikut sanggar, saya semakin tertarik buat menari,” tutur mahasiswi Program Studi Kesejahteraan Sosial (KS) Fisip Unej ini.

Beberapa pementasan tingkat regional sampai nasional pun sudah pernah dilakoninya. Tercatat, dia tampil dalam tiga kali eventt Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) Jawa Timur di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Sejak tahun 2017 hingga 2019 kemarin, Lingga tak pernah absen membawakan tarian-tarian tradisional Jember.

Dalam gelar GSBD tahun 2017 silam, Lingga menampilkan tari Sekar Gebang Taman. Tahun 2018 membawakan tari Wirota Wirogati. Sementara, tahun kemarin mementaskan tari cerita rakyat asal Ambulu, yaitu Sogol Pendekar Sumur Gemuling.

Namun, meskipun sudah beberapa kali tampil dalam event regional dan nasional, Lingga baru pertama kali mengikuti seleksi penari se-Jawa Timur. Pertengahan bulan Desember kemarin, tepatnya selama dua hari tanggal 18-19 Desember 2019, dia ikut seleksi dalam ajang duta penari Jawa Timur 2019 di Taman Candrawilwatikta, Pandaan, Pasuruan. “Seleksi itu menjadi pengalaman pertama saya,” beber Lingga.

Lingga masuk dalam 15 penari terbaik Duta Penari Jatim 2019. Tak sendiri, dia bersama Marisa Jenar Ayu, pelajar perempuan SMA Negeri Ambulu yang juga berasal dari sanggar yang sama, masuk 15 penari terbaik tersebut. Sebelum audisi di Pandaan, mereka harus menyisihkan ratusan penari lainnya di seleksi penari se-Bakorwil V Jember meliputi Jember, Probolinggo, Kota Probolinggo, Lumajang, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi.

Setelah lolos dari seleksi Bakorwil, Lingga dan Marisa Jenar Ayu melanjutkan langkahnya ke tahap seleksi se-Jatim di Pandaan. Mereka berdua bersaing dengan sekitar 182 peserta lainnya. “Audisi di Pasuruan, kami menarikan tarian kreasi untuk opening dan membawakan Tari Saman untuk closing. Lalu, ada sesi penampilan per orangnya dengan durasi 30 detik buat tambahan nilai,” jelas Lingga.

Lingga pun berbagi pengalamannya saat ikut audisi tersebut. Baru pertama kali mengikuti seleksi duta penari, perasaan grogi pun masih menghinggapinya. Meskipun dia sudah beberapa kali tampil dalam ajang nasional sekelas GSBD. “Ada rasa bangga tersendiri bisa ikut dan berproses menari dengan beberapa orang baru,” ucapnya.

Dia menambahkan, proses latihan tidak akan mengkhianati hasil. Hal itu memang benar-benar dia alami. “Di situ sangat diperhitungkan bagaimana berproses menari dengan baik dan bisa menari dengan satu rasa. Meskipun dengan orang yang baru kami kenal,” beber Lingga.

Bahkan, menjelang seleksi tersebut, tidak ada persiapan latihan khusus. “Karena kalau di Sanggar Kartika Budaya, kami selalu rutin latihan. Ada atau tidak ada seleksi dan event, kami terus latihan rutin. Jadi, tinggal penerapannya proses latihan itu di dalam seleksi,” pungkasnya.

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Istimewa

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti