Kisah Masinis Kereta di Tengah Pandemi Covid-19

Isi Kesibukan dengan Berkebun, Pernah Bawa 26 Penumpang KA

DAPAT HIKMAH: Ferry Eko Pramono (kiri) bersama Akhmad Junaedi, dua masinis kereta api di sela-sela tugas mereka. Ada banyak hikmah yang mereka ambil di tengah pandemi sekarang ini.

Efek pandemi virus korona masih terus dirasakan banyak orang. Terlebih di sektor transportasi. Para masinis kereta api pun termasuk di antaranya, ketika banyak armada kereta api tidak dioperasikan.

IKLAN

Muchammad Ainul Budi, Jember Kidul, Radar Jember

SECARA finansial, masinis kereta api tidak mengalami gangguan yang signifikan. Tidak sampai berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK). Gaji pun tak dikurangi. Namun, pandemi ini berdampak pada kebiasaan baru mereka melakukan aktivitas sehari-hari ataupun mencari kegiatan baru lainnya. Jam jalan bagi mereka pun otomatis berkurang setelah satu bulan lebih kereta api tak beroperasi.

Namun, dampak tidak beroperasinya kereta api saat Ramadan lalu hingga setelah mudik Lebaran diambil hikmahnya oleh dua masinis asli Jember. Keduanya adalah Ferry Eko Pramono dan Akhmad Junaedi. “Alhamdulillah bisa salat Idul Fitri bersama keluarga. Lebaran sama keluarga tahun ini, karena kereta tidak jalan sementara waktu,” tutur Ferry.

Begitu pula Junaedi. Dia bersama istri dan dua anaknya akhirnya bisa menunaikan ibadah puasa bersama selama sebulan full di kediamannya. Sebab, di tahun-tahun sebelumnya, untuk berbuka puasa bersama ataupun salat Idul Fitri dengan keluarga bagi masinis adalah hal yang langka. Apalagi momen Lebaran dan hari-hari besar lainnya adalah puncak arus mudik. “Selama pandemi korona, kami berhenti berdinas sekitar dua bulan lebih,” ucap Junaedi.

Perjalanan kereta api pun sebenarnya masih berjalan, beberapa waktu lalu, walau itu hanya kereta barang, bukan penumpang. Lalu, apa kesibukan masinis di tengah masa pandemi? “Secara kedinasan, kami tetap masuk. Ada absen masuk dan absen pulang,” imbuh Ferry.

Selain tetap absen, para masinis itu diberikan tugas merangkum materi dengan tulis tangan di kertas. “Dapat tugas tulis tangan merangkum peraturan dinas dan aturan yang ada. Nanti tugas itu untuk bahan ujian. Karena tugas itu berguna untuk me-refresh ilmu agar tidak lupa,” ucap Jun, sapaan akrab Junaedi.

Dirinya pun menyebut, masinis bukanlah profesi yang mudah. Tak sekadar menarik tuas agar kereta berjalan. Sebab, selama perjalanan, masinis juga wajib memperhatikan rambu-rambu di sepanjang rel. Belum lagi, ada ujian sertifikasi untuk kenaikan tingkat tiap tahunnya. “Selama pandemi ini, terkadang kami juga menjalankan kereta barang, juga untuk memperbaiki perlintasan rel,” lanjut Junaedi.

Selain mengerjakan tugas, kini masinis itu sudah mulai mengoperasikan kereta api walaupun jam opereasionalnya tidak sepadat sebelum pandemi. Khusus di wilayah Daop 9 Jember, kereta yang kembali beroperasi hanya ada tiga. Yakni Probowangi relasi Ketapang Banyuwangi-Surabaya Gubeng, Sritanjung Ketapang Banyuwangi-Lempuyangan, dan Tawang Alun relasi Ketapang Banyuwangi-Kota Malang.

Sebelumnya, ada KA Ranggajati relasi Jember-Cirebon yang juga diaktifkan kembali. Namun, hanya berjalan beberapa minggu, sebelum akhirnya dihentikan karena okupansi penumpang yang rendah. “Saya pernah bawa Ranggajati cuma 26 penumpang saja berangkat dari Jember menuju Surabaya,” ujar Ferry.

Di masa pandemi, kewajiban masinis sebelum berangkat pun sudah ada prosedur tetapnya. Yaitu tes kesehatan. Masinis dinyatakan layak mengoperasikan kereta apabila tubuhnya dalam kondisi benar-benar sehat. “Bagi masinis, harus siap selalu. Meskipun dalam transisi new normal, harus siap kalau untuk berangkat,” imbuh Ferry.

Di sisi lain, ketika masa pandemi dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, keduanya pun akhirnya mencari kesibukan baru. “Kalau saya di rumah suka tanam-tanam bunga. Berkebun kecil-kecilan di rumah,” ucap Jun. Sedangkan bagi Ferry, dia memilih mengerjakan mebel. “Hikmah dari pandemi ini ya cari kesibukan baru. Saya buat mebel di rumah untuk dijual. Cara buatnya lihat di Youtube saja, kalau peralatannya sudah punya duluan,” kata Ferry.

Editor: Lintang Anis Bena Kinanti
Reporter: Muchammad Ainul Budi
Fotografer: Muchammad Ainul Budi