Hakim Soroti Kinerja Pokja

12 ASN Beri Keterangan di Sidang Manggisan 

BERIKAN KETERANGAN: Achmad Imam Fauzi, Kepala Bappeda Jember, memberikan keterangan dalam agenda pemeriksaan saksi perkara dugaan korupsi Pasar Manggisan di Pengadilan Tipikor Surabaya, kemarin (30/6). 

SIDOARJO, Radar Jember – Sidang kasus dugaan korupsi Pasar Manggisan terus bergulir. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember menghadirkan 12 orang dalam agenda pemeriksaan saksi, kemarin (30/6). Dalam persidangan itu, majelis hakim menyoroti keberadaan kelompok kerja (pokja) yang bertugas melakukan lelang proyek. Kinerja mereka dianggap tidak beres.

IKLAN

Sidang yang dipimpin langsung oleh Ketua Majelis Hakim Hisbullah Idris itu berlangsung di ruang Candra Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya di Sidoarjo, kemarin (30/6). Semua saksi yang didatangkan merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab Jember. Mereka adalah Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Achmad Imam Fauzi, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Yessiana Arifah, serta Danang Andriasmara, Kepala Bagian Umum, yang sekaligus ketua tim pokja. Selain itu, ada sembilan saksi lain yang berstatus ASN.

Namun, persidangan itu tak dihadiri langsung empat terdakwa, karena digelar secara daring. Para terdakwa, Fariz Nurhidayat, Sugeng Irawan Widodo alias Dodik, Anas Makfuf, dan Edy Shandi, mengikutinya dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Jember melalui video telekonferensi.

JPU Kejari Jember Triyono Yulianto mengorek keterangan dari para saksi tentang peran mereka masing-masing. Salah satunya adalah Achmad Imam Fauzi. Dia menanyakan, apakah benar ada pertemuan internal di pendapa bupati sebelum proyek itu dimulai. Dan apakah pertemuan itu dihadiri terdakwa Fariz, Dodik, dan saksi sendiri.

Menjawab pertanyaan itu, Fauzi membenarkan pertemuan tersebut. Hanya saja, dia mengaku hanya sekali bertemu dengan Dodik dan Fariz. Itu pun dalam satu forum yang juga dihadiri oleh terdakwa Anas Ma’ruf, saksi Yessiana Arifah, juga Ketut, seorang saksi lainnya.

Senada, Yessi pun mengakuinya. Bahkan, kata Yesi, saat itu Dodik banyak diskusi tentang konsep desain penampakan tiga dimensi. Sementara Fariz berperan sebagai operator di forum itu. Namun, pada pertemuan itu, Yesi dan Fauzi mengaku sama sekali tidak membahas Pasar Manggisan. Melainkan pekerjaan ruang terbuka hijau (RTH) yang sudah tergarap.

Selain Fauzi, Triyono juga mengejar jawaban Danang Andriasmara yang saat proyek pasar ini, dia menjadi ketua tim pokja. “Apakah rehabilitasi pasar ini melalui proses lelang?” tanya Triyono.

Menurut Danang, proyek itu telah melalui tahapan lelang, evaluasi, dan kualifikasi. Saat itu, kata dia, ada empat perusahaan kontraktor yang memasukkan penawaran. Dua di antaranya dinyatakan lolos. Salah satunya adalah PT Dita Putri Waranawa, yang belakangan memenangkan tender bernilai Rp 8 miliar tersebut.

Anggota majelis hakim, M Mahin, lantas menelisik keterangan Danang yang mengaku sejak 2013 lalu telah menjadi ketua tim pokja. Dia menyatakan, ada yang tidak beres dalam proyek Pemkab Jember selama beberapa tahun belakangan. “Seperti ada tabrakan beruntun,” tuturnya.

Danang juga tak mengetahui pasti, siapa direktur pemenang lelang proyek Pasar Manggisan tersebut. Dia mengaku tak pernah bertemu, bahkan dengan perwakilan PT Dita Putri Waranawa. Keterangan ini yang menurut hakim janggal. “Kok diproses? Bagaimana bisa memproses ini lebih lanjut? Padahal saudara saksi tidak tahu siapa manusianya. Kalau dipalsukan atau manipulasi data, bagaimana?” cecarnya.

Mahin rupanya tidak puas dengan jawaban Danang, yang menyatakan hanya memproses berkas dokumennya tanpa mengetahui jelas siapa pemilik atau bertemu perwakilan perusahaan. “Pokja ini pihak pertama yang mengurus secara administrasi lelang supaya benar, dan menetapkan pemenang lelang. Itu kewenangan pokja bukan PPK (Pejabat Pembuat Komitmen, Red),” bebernya. Mahin kemudian meminta JPU memproses lebih lanjut pokja tersebut. “Kembangkan pokja ini, Pak Jaksa,” pintanya.

Mahin kembali mencecar Danang. Apakah saksi paham tentang ketentuan pinjam bendera atau subkontrak. Sebab, sebagai ketua tim pokja, seharusnya saksi mengetahui soal pinjam bendera dan subkontrak tersebut. “Ini salah semua. Bisa masuk semua ini. Seperti tidak ada saling memiliki dalam proyek ini. Untung para saudara saksi masih di sini. Daripada empat terdakwa itu, tidak ada yang mengingatkan karena ini menyangkut uang banyak,” jelentrehnya.

Seusai persidangan, Achmad Cholily, penasihat hukum terdakwa Fariz Nurhidayat, mengutarakan, dari 12 saksi yang hadir, tak satu pun yang mengetahui secara pasti apa peran kliennya dalam proyek Pasar Manggisan. Kendati begitu, Cholily membenarkan, kliennya hadir pada pertemuan khusus di pendapa bupati sebelum proyek itu berjalan. “Secara umum ada pertemuan itu. Tapi kalau peran Fariz, khusus soal Pasar Manggisan, para saksi itu tidak tahu,” belanya.

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Mahrus Sholih