Koreksi Berita Pedagang Pasar

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Akurasi, akurasi, akurasi. Itu sudah baku. Syarat utama bahwa berita itu dianggap baik ya tiga itu. Bukan lagi sekedar SOP (standart operating procedure). Tapi, sudah menjadi harga mati. Tak bisa ditawar. Oleh wartawan kami, sesenior, sepintar, secerdas, sehebat apapun mereka. Titik.

IKLAN

Selanjutnya tiga syarat lagi harus dilalui. Verifikasi, verifikasi, verifikasi. Mengutip Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam bukunya Sembilan Elemen Jurnalisme: disiplin verifikasi adalah inti jurnalisme. Ini juga tak boleh ditawar. Lalu selesai?

Belum. Syarat berikutnya adalah cover both sides. Imbang. Bahasa mudahnya, ada konfirmasi.  Bahkan, sejatinya cover both sides kami sudah dimodifikasi lagi. Menjadi cover multi sides. Biar imbangnya makin mantap. Dan, pembaca betul-betul mendapatkan informasi yang utuh. Bahasa kami: jurnalisme wareg. Pembaca harus benar-benar kenyang setelah membaca laporan kami.

Tentu pembaca sudah akrab dengan penyajian kami yang ber-angle-angle. Yang bersudut-sudut itu. Mengupas dari banyak sisi.  Jika tidak bisa, beritanya bersambung-sambung. Atau beritanya terus running. Kelanjutan dari persoalan bisa dilanjut beritanya di edisi besoknya. Hanya untuk satu tema besar.

Sejak berita itu dicari, SOP sudah kami tetapkan. Sampai di news room pun, perlakuan terhadap hasil reportase wartawan itu harus melalui SOP yang saklek. Pun dalam proses editing, redaktur selaku editor juga harus patuh SOP.

Memang ada asumsi yang kami pegang  bersama. Bahwa berita yang dibawa reporter ke news room dianggap sudah melalui tahapan tiga syarat pertama dan kedua tadi. Tapi, untuk menghindari kecelakaan jurnalistik, kamipun mempunyai item SOP bahwa redaktur wajib melakukan uji kebenaran informasi yang diserahkan reporter tadi. Salah satunya dengan cara bertanya. Pertanyaannya pun macam-macam. Namanya juga menguji. Intinya, redaktur –yang tentu syarat utamanya adalah cukup dan cakap dalam pengalaman jurnalistik– bisa yakin bahwa akurasi dan verifikasi tadi sudah dilakukan dengan proses dan cara yang benar. Ketika redaktur yakin bahwa prosedur jurnalitisknya sudah benar, maka dia bisa lanjut untuk mengolah lebih intens agar berita tersebut memang pantas dan layak disajikan ke pembaca. Bukan digoreng. Tapi diolah dengan sistem yang standar dan teruji.

Lantas, bagaimana kontrol SOP itu agar tetap berjalan baik tiap detik, menit, jam dan hari? Tentu tidak mungkin kami memelototinya. Sehingga, cukuplah akal sehat dan hati nurani awak redaksi kami yang mengontrolnya. Kami juga punya mazhab anti dosa jariyah. Yang dosanya terus mengalir sepanjang masa sampai yang menulis tiada pun dosanya masih terkirim. Naudzubillah min dzalik.

Sesederhana itu memang kontrol kami. Tapi, sepanjang akalnya masih sehat, kami yakin manjur.

Semua demi memberi yang terbaik untuk pembaca. Dan, karena kami meyakini, profesi jurnalis adalah sangat terhormat. Apalagi di era saat ini. Di era medsos. Era yang informasi apapun begitu mudahnya bersliweran tanpa saring. Tanpa jelas sumber dan kesahihannya. Celakanya lagi, justru kebanyakan dari kita justru menyukai informasi yang tidak jelas akurasi maupun verifikasi datanya itu.

Apakah prosedur yang rumit tadi akan menjamin berita yang kami sajikan selalu benar? Ya. Asal, semua SOP dipatuhi dengan ketat dan betul. Bukan benar salah dalam konteks pembuktian hukum. Sebab, tentu itu bukan ranah kami. Tapi, setidaknya prosedur jurnalistiknya sudah betul. Sehingga, informasi yang kami sajikan terjamin akurasinya. Bukan hoax.

Lantas, mengapa media massa mainstream kadang juga masih terpeleset. Membuat berita keliru. Jawabnya pasti ada SOP yang tak dipatuhi. Pun begitu dengan berita kami tentang : Meski takut Dirazia, Tetap Nekat Jualan edisi 31 Mei 2020 kemarin.

Kami akui, berita itu salah. Berita itu menjadi menyesatkan. Dan tentu saja merugikan banyak pihak. Kamilah yang merasa paling dirugikan. Sebab, rasanya sistem yang sudah kami bangun bertahun-tahun dan mendarah daging itu bubrah seketika. Meminjam istilah almarhum Mas Didi: Ambyar!

Bagaimana bisa kami membantah berita kami sendiri yang sudah kami running di hari-hari sebelumnya? Bertolak belakang dengan berita-berita kami bertema sama di edisi sebelumnya.

Langkah cepat pun kami ambil. Kesimpulannya: kami lalai menjalankan SOP di reporter maupun redaktur. Teledor seteledor teledornya. Hingga, saringan berlapis dan model apapun yang kami terapkan menjadi percuma. Tetap saja bocor.

Sejatinya, berita itu benar. Namun, disajikan dengan proses dan cara yang salah. Berita itu direportase tanggal 28 sekitar pukul 18.43 WIB untuk pedagang yang jualan di Jalan Trunojoyo sekitar Pasar Tanjung dan 29 Mei sore untuk pedagang di sekitar Pasar Tegal Besar (Sabtuan). Sedang foto yang dimuat diambil 29 Mei, sore pukul 16.10 WIB. Saat memang pasar masih ditutup oleh pemkab dan masih dalam rangka persiapan buka kembali 30 Mei dengan aturan baru sesuai protokol pencegahan penyebaran covid 19.

Celakanya, wartawan kami tidak menuliskannya di tanggal 29 Mei itu untuk terbit esoknya atau hari itu juga di online. Baru ditulis 30 Mei. Celakanya lagi, 30 Mei wartawan kami tidak melakukan verifikasi ulang alias update peristiwa sebelum berita itu ditulis setelah sempat dia “simpan”.

Tambah celaka, di benak wartawan yang menulis, aturan menutup pasar itu sampai tanggal 30 Mei 2020. Makin celaka, di berita itu tak tercantum jelas (dengan menyebut tanggal sesuai kelaziman dan SOP kami) kapan peristiwa terjadi. Selain hanya info sumir berupa kata: kemarin.

Celaka, celaka, dan celakanya lagi, redaktur kami juga lalai akan SOP itu. Jangankan uji kebenaran informasi. Tak ada verifikasi informasi dan data sama sekali. Inilah mungkin yang disebut celaka dua belas!

Atas kenyataan itu, sangat bulat hati kami memutus mencabut berita berjudul : Meski Takut Dirazia, Tetap Nekat Jualan di Jawa Pos Radar Jember edisi 31 Mei 2020 itu.  Karena berita itu (bukannya tidak benar, tapi menyesatkan ketika kami menyajikannya di edisi 31 Mei). Kami mohon maaf. Kepada semua pembaca, kepada masyarakat atas keteledoran kami.

Ini menjadi keprihatinan mendalam secara internal. Langkah-langkah internal tentu kami lakukan. Yakinlah, ini pelajaran berharga bagi kami. Untuk tetap terus berupaya menjadi yang terdepan dan terpercaya. Juga menjadi yang bukan anti kritik. Justru tetap menanti kritik, saran, masukan dari pembaca. Bagi kami, kritik itu lebih dari sekedar obat. Tapi, menjadi energi gratis dari pembaca. Terima kasih.

 

MS Rasyid

Pemimpin Redaksi

msras123@gmail.com

Editor:
Reporter:
Fotografer: