KBRI Tutup, Salat Id di Rumah

Masak Opor Ayam bersama WNI Lainnya

LEBARAN DI KANADA: Rezandra Putra (paling kiri) bersama beberapa pelatih asal Indonesia dan muridnya terpaksa berlebaran di Toronto, Kanada. Pelatih bulu tangkis asal Jember ini menikmati momen Lebaran dengan masak opor ayam bersama.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ada yang berbeda tahun ini bagi Rezandra Putra, pelatih bulu tangkis asal Jember, dalam menikmati momen Lebaran. Meskipun dirinya sudah cukup sering berlebaran jauh dari keluarga besarnya di Jember, karena memang melatih di beberapa klub luar negeri, namun bagi Reza, sapaan akrabnya, tahun ini berbeda. Sebab, dalam situasi pandemi Covid-19, Reza terpaksa tidak bisa pulang ke Jember, dan tetap berada di klub bulu tangkis yang dia latih, yakni di KC Badminton, Toronto, Kanada.

IKLAN

“Lebaran kemarin ya terpaksa salat di rumah saja (Kanada, Red). Karena di gedung KBRI tutup tidak mengadakan salat Idul Fitri berjamaah,” kata Reza kepada Jawa Pos Radar Jember.

Bersama tiga rekannya sesama orang Indonesia yang melatih di klub KC Badminton, Reza menggelar salat Idul Fitri di tempat tinggal mereka. “Tahun ini memang ada pandemi Covid-19 jadi tidak bisa pulang. Alhamdulillah, puasa waktu pandemi tahun ini juga tidak ada yang bolong,” terangnya, sembari tertawa kecil.

Mantan jebolan klub PB Djarum Kudus ini mengaku, meskipun jauh dari keluarga di momen Lebaran, Dirinya bersama rekan-rekan pelatih dan beberapa muridnya kompak masak bersama. “Kami masak bareng-bareng seperti opor ayam, makanan khas Lebaran,” tutur Reza.

Meski demikian, komunikasi dengan istri dan dua anaknya di Jember serta keluarga besarnya tetap terjalin lancar. “Ya tetap komunikasi pakai aplikasi daring, karena memang keluarga besar,” beber pria yang juga pernah melatih di India dan Tiongkok ini.

Menurut Reza, aktivitas sekolah di Kanada pun tidak jauh beda dengan Indonesia. Terlebih lagi di Kanada sempat lockdown selama dua bulan. “Off total semuanya, termasuk sekolah dan pusat bisnis. Ini baru dua minggu kami mulai latihan lagi,” jelasnya.

Meski begitu, protokol kesehatan di sana benar-benar sangat diperhatikan. Jaga jarak antarpemain dan pelatih pun diterapkan sesuai aturan yang berlaku. Selain itu, sarana dan prasarananya pun sangat mendukung.

“Yang jelas, ada aturan baru di lapangan. Jaga jarak itu penting. Di lapangan juga tidak boleh full atlet, satu lapangan maksimal dua orang saja. Hanya bisa main single, tidak bisa main double,” jelas Reza.

Editor: Lintang Anis Bena Kinanti
Reporter: Muchammad Ainul Budi
Fotografer: Istimewa