Cara Pedagang Beradaptasisaat Pasar Dibuka Kembali

Ambil Stok Barang Secukupnya, Amankan Pelanggan Semampunya

Pasar tradisional sudah kembali dibuka sejak Sabtu (30/5) lalu. Selama penutupan, pedagang mengaku tak ada pemasukan. Kini, saat pasar beroperasional lagi, mereka dihadapkan pada tantangan baru. Yakni harus siap menyambut “tatanan baru” dalam bertransaksi di tengah masa pandemi.

BERAKTIVITAS KEMBALI: Asiyah, 61, salah satu pedagang sembako di Pasar Tanjung terlihat sibuk dengan lapaknya setelah sepekan terakhir ini ditutup.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sore itu, aktivitas Pasar Tanjung cukup lengan. Beberapa pedagang terlihat berkemas-kemas. Sementara itu, beberapa lapak lain sudah terlihat ditutup sejak siang hari. Tampaknya, tidak semua pedagang kembali melapak meski pasar telah kembali dibuka.

IKLAN

Walau penutupan pasar selama sepekan itu bertujuan memutus persebaran wabah korona, namun para pedagang merasakan dampaknya. Terlebih pedagang sembako. Banyak di antara mereka yang mengaku minim pemasukan hingga kehilangan pelanggan.

Seperti yang dialami Asiyah, pedagang sembako asal lingkungan Jalan Diponegoro, Kelurahan Jember Lor. Menjelang sore, ia terlihat sangat sibuk menata barang dagangan di lapaknya sambil bertransaksi. Asiyah tidak sendiri, ia dibantu dua pekerjanya. Satu sebagai kasir, yang lainnya sebagai pelayan konsumen.

Dalam lapak miliknya itu, terdapat makanan khas Lebaran yang masih terpajang dan beberapa stok bumbu dapur yang sudah ia pasok jauh-jauh hari sebelum virus korona mewabah. Biasanya, menjelang sore sebelum ia menutup lapak, beberapa sales dan pemasok sembako di lapaknya datang. Namun sore itu, Minggu (31/5), tak ada satu pun yang datang. Begitu juga dengan pembeli, sore menjelang tutup, biasanya cukup ramai. Tapi kemarin, hanya satu dua orang saja yang belanja.

Rupanya, salessales langganannya itu masih banyak yang libur. Itu terlihat dari minimnya mobil boks pemasok barang yang biasanya mangkal di sekitar Pasar Tanjung. Sepinya pemasok barang ini tak menjadi masalah bagi Asiyah. Hanya saja, belum datangnya para pelanggannya ini yang membuat ketar-ketir. Sebab, mayoritas konsumennya adalah depot-depot, pemilik kosan, dan warung makan yang biasanya mangkal di sekitaran kampus. “Karena kampus masih libur dan jualannya mereka juga libur, jadi mereka tidak belanja ke sini,” kata Asiyah, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, kemarin (31/5) sore.

Meski banyak stok barang yang macet, ia mengaku tak bisa berbuat banyak. Sebab, selama ini, dirinya tidak pernah mengambil barang sendiri, melainkan melalui sales dan pemasok barang yang datang ke pasar. Baginya, tumpukkan sembako berbagai macam yang masih berbaris rapi di lapaknya itu yang akan menyambung ladang rezekinya selama pasokan macet. “Kalau barang datang, diambil secukupnya. Kalau tidak yah jual seadanya ini,” ujarnya, sambil menunjukkan barang-barang sembako di lapaknya.

Sebagian besar lapak sembako di Pasar Tanjung memang memiliki jam operasional pagi atau sekitar pukul 05.30 sampai sore pukul 16.00. Sedangkan lapak sayuran beroperasi sore pukul 16.00 sampai dini hari. Begitu pun lapak milik Asiyah. “Kalau sampek malam capek. Harus istirahat,” sahutnya.

Nenek dengan delapan cucu itu mengaku cukup lama berdagang di Pasar Tanjung. Terhitung sejak 1982 lalu ia sudah melapak di pasar tradisional terbesar di Jember itu. Selama kurun waktu tersebut, Asiyah cukup banyak mengenyam asam garam dunia perdagangan. Tak terkecuali saat menghadapi pandemi sekarang ini.

Kendati sebagai pedagang kawakan yang telah memahami pasar dengan segala dinamikanya,namun Asiyah mengaku tidak tahu tentang konsep new normal yang bakal diberlakukan untuk pasar tradisional di Jember. Bahkan, ia menanggapi cukup santai kebijakan yang bakal diterapkan oleh pemerintah tersebut. “Diikuti saja.Yang penting tetap ada usaha nyari rezeki,” pungkasnya.

Editor: Mahrus Sholih
Reporter: Maulana
Fotografer: Maulana