BRK Redup, Petani Tetap Semangat

SORTASI MANUAL: Kopi arabika Raung sedang disortir sebelum diolah lebih lanjut untuk menjadi bubuk kopi.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Bondowoso Republik Kopi (BRK) memang lagi redup-redupnya. Namun, kondisi itu tak menyurutkan semangat para petani kopi untuk terus mengembangkan kopinya. Salah satunya mengembangkan kopi arabika Raung.

Banyak petani kopi yang tinggal di lereng Gunung Raung menanam kopi arabika. Kini, kopi arabika Raung sudah mulai dipetik hasilnya. “Ada beberapa petani di lereng Gunung Raug menanam kopi arabika. Setelah dipetik dan disangrai, ternyata cita rasanya tak kalah dengan kopi arabika Ijen,” kata Abdul Hafidz Aziz, salah seorang petani kopi di Bondowoso.

Mengetahui cita rasa kopi arabika Raung yang punya keunggulan khas, pria yang juga pengasuh Ponpes Raudlatul Hasan, Desa Pakuwesi, Kecamatan Curahdami, tersebut berniat memperluas lahan kopinya. “Ada santri saya yang tinggal di lereng Gunung Raung. Kini dia yang mengelola kebun kopinya,” ujarnya.

Dia menjelaskan, petani kopi Bondowoso juga harus meningkatkan diri. Tak hanya menanam kopi, tetapi juga menguasai pengolahannya. Itu agar hasil dari tani kopinya juga meningkat. “Kalau dijual glondongan, tentu harganya pasaran. Tetapi, kalau sudah jadi bubuk, tentu akan lebih mahal,” ungkapnya.

Sayangnya, di tengah semangat para petani, harga kopi di pasaran yang masih rendah mulai merangkak naik. Petani berharap harga kopi lebih baik lagi agar tidak merugi pada musim panen di masa pandemi Covid-19 ini. “Kami harap harga kopi segera naik,” ungkapnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, harga kopi gelondongan sudah tembus Rp 8.000 per kilogram. Harga kopi gelondongan itu sudah mulai menyamai harga tahun lalu pada kisaran Rp 8.000 sampai Rp 12.000 per kilogram.

Kasi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Perkebunan Disperta Bondowoso Sofia Adie Kurniawati SP mengakui harga kopi gelondongan memang belum baik. “Masih rendah. Kisaran Rp 5.000 sampai Rp 6.000 per kilogram,” katanya. Namun, harga itu sudah mulai naik.

Menurutnya, kualitas dan produksi kopi di Bondowoso tidak banyak perubahan. “Kualitas dan produksinya baik. Sama dengan tahun 2019 lalu. Hanya harganya masih rendah,” imbuhnya. Dia menilai, salah satu penyebab menurunnya harga kopi karena faktor pandemi Covid-19.

Foto: Hafid

Editor: Hafid Asnan
Reporter: Narto
Fotografer: