Siapa Pelaku Penebangan Liar?

Penyebab Hutan Gundul Masih Belum Diusut

SEBELUM BANDANG: Inilah kondisi gunung sebelum banjir bandang menyerang Sabtu kemarin. Foto yang diambil 18 Februari 2020 ini menunjukkan bekas penebangan hutan yang begitu marak.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Banjir Bandang yang kembali melanda kawasan Ijen kemarin betul-betul lebih parah dari sebelumnya. Sebanyak 316 kepala keluarga kembali terdampak. Banjir ini harus menjadi catatan pemerintah, sebab sudah kedua kalinya. Pasca banjir pertama yang terjadi 29 Januari 2020, Forum Reboisasi Bondowoso menemukan fakta mencengangkan. Ada potongan pohon besar yang sengaja ditumbangkan.

IKLAN

Satria Trisapta Anri dari Forum Reboisasi mengatakan, pihaknya heran melihat pohon gelondongan di jalur hulu sungai. Tepatnya saat pihaknya mendaki usai ada bencana banjir bandang pertama. Dari beberapa bekas potongan, ada yang memakai gergaji mesik dan ada yang memakai kapak. “Saya pastikan ada yang dipotong memakai mesin,” jelasnya.

Jika melihat dari asal pohon, itu berasal dari Gunung Suket. Artinya jelas-jelas ada perusakan hutan. Ironisnya ada banyak tanaman kentang dan kubis diatas. Yang menjadi pertanyaan, ketika pohon besar ditebang, bagaimana tanahnya bisa menahan air saat hujan.

Kenyataan itu membuat Forum Reboisasi Bondowoso marah besar. Memang usai banjir bandang pertama, forum ini bersama TNI, Polri dan Pemkab, telah melakukan reboisasi besar-besaran. Namun ketika nasi sudah menjadi bubur, maka akan sulit. Artinya kondisinya sudah kadung buruk di atas gunung. Sehingga tidak bisa menahan air berkapasitas besar.

Dijelaskan, saat pihaknya melakukan penghijauan, banyak lahan milik perhutani yang sengaja ditanami kentang dan kubis. Forum Reboisasi heran, kenapa bisa ada tanaman kentang dan kubis di lahan perhutani.

Anehnya tidak ada tegakan berupa pohon diatas lahan yang dimiliki instansi yang di dalamnya ada klausul hutan. Yakni Perum Perhutani. “Lahan itu sudah menjadi kebun. Bukan lagi hutan. Apakah benar seperti itu?,” tegasnya bertanya-tanya.

Menurut Forum Reboisasi Bondosowo, adanya penanaman diatas lahan perhutani, memang diatur dalam undang-undang. Dan dibolehkan. Asal ada tegakan yang dirawat diantara tanaman tersebut.

Namun beda lagi ketika tidak ada tanaman pohon sama sekali. Karenanya pihaknya menengarai jika banjir bandang disebabkan karena sisi lahan gundul. Ironisnya gundulnya hutan, karena banyak alih fungsi lahan untuk ditanami kentang dak kubis. “Kalau tanamannya kentang, jelas tidak bisa menahan air. Jika diatas air tidak bisa ditahan, otomatis akan lari kebawah. Jika deras kan jadi banjir bandang,” ungkapnya.

Pihaknya bahkan sudah mendorong adanya tindaklanjut aparat penegak hukum. Karena adanya banjir bandang didukung dengan alih fungsi lahan. Paling tidak aparat penegak hukum mencari benang kusut alih fungsi lahan yang selama ini marak terjadi di kawasan Kecamatan Ijen.

Reporter : Solikhul Huda

Fotografer : Istimewa

Editor : Hafid Asnan