SAID Semakin Diluaskan Awalnya 71, Ada Tambahan 90

KEMBANGKAN SAID: Unej menerjunkan mahasiswa KKN untuk mengembangan Sistem Administrasi dan Informasi Desa (SAID).

BONDOWOSO RADARJEMBER.ID– Sistem Administrasi dan Informasi Desa (SAID) merupakan sistem yang dikembangkan Unej untuk membantu desa. Sistem ini tahun lalu sudah diterapkan di 71 desa di Bondowoso. Tahun ini, sebanyak 90 desa menjadi objek pengembangan.

IKLAN

Koordinator Pusat Pemberdayaan Masyarakat di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Unej, Hermanto Rohman mengatakan, ada 71 desa yang sudah menerapkan SAID. SAID sendiri adalah sistem yang memudahkan desa untuk mengorganisir beberapa hal terkait desa. “Seperti kependudukan, data kemiskinan sampai data kematian,” ujarnya.

Dijelaskan, hal utama yang harus ada adalah operator desa. Petugas Pengelola Data dan Informasi (PPID) Desa. Petugas ini adalah dari perangkat desa. Tugas mahasiswa KKN adalah mencari petugas operator desa dan melatihnya. “Kami dari Unej bersama Pemkab dalam hal ini Asisten 1 Pemerintahan menfasilitasi pelatihan tersebut,” ujarnya.

SAID yang telah diterapkan di desa-desa selama ini ada beberapa evaluasi. Pihak Unej sendiri telah melakukan evaluasi dan melakukan pembenahan. Harapannya sistem ini bisa menjadi solusi bagi peningkatan pelayanan di desa.

Hermanto menambahkan, ada 3200 mahasiswa yang diterjunkan di Bondowoso, Jember, Situbondo dan Probolinggo. Khusus di Bondowoso ada yang menggarap tema SAID dan ada yang menggarap tema kesehatan.alam penerjunannya dan penentuan tempatnya, Unej berkoordinasi dengan Pemkab Bondowoso. “Kedepan kami ingin ada integrasi antara SAID, Siskeudes dan beberapa aplikasi yang selama ini ada,” terangnya.

Selain masalah SAID, mahasiswa KKN juga mengangkat tema stunting. Masalah stuntung menjadi masalah nasional yang perlu mendapatkan perhatian multipihak. Karena berhubungan dengan mempersiapkan generasi emas penerus bangsa. Ada beberapa bidikan, mulai masalah kesehatan, etno kultural, tehnologi dan kebijakan yang membutuhkan pola intervensi dengan terobosan yang inovatif dan kreatif.

“Mahasiswa harus membuat inovasi, minimal bisa memanfaatkan potensi yang ada untuk mengatasi masalah stunting di suatu daerah,” ujarnya. (hud)
Penulis : Sholikhul Huda
Fotografer : Sholikhul Huda

Editor: Winardi Nawa Putra

Reporter :

Fotografer :

Editor :