alexametrics
20.9C
Jember
Wednesday, 21 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Unit Pustu Masih Tercukupi

Ada 63 Pustu dan 157 Ponkesdes

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Keberadaan puskesmas pembantu (pustu) di sejumlah wilayah pelosok Bondowoso cukup membantu. Pustu sendiri merupakan bagian integral puskesmas, yang harus dibina secara berkala oleh puskesmas.

Hingga kini, data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso ada 63 pustu yang tersebar di sejumlah wilayah. Sementara, untuk puskesmas sendiri total ada 25 puskesmas dalam 23 kecamatan yang ada.

Keberadaan 63 pustu guna mendukung kinerja puskesmas, diakui masih sangat cukup jumlahnya. Hal itu dibenarkan oleh Iswanto, Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan Kesehatan Primer Dinkes Bondowoso, kepada Jawa Pos Radar Ijen. “Keberadaan pustu ini masih menjadi bagian dari layanan kesehatan masyarakat. Terutama bagi warga desa. Bangunan dan alat kesehatannya semua berasal dari pemerintah kabupaten,” kata Iswanto.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pustu berbeda dengan pondok kesehatan desa (ponkesdes). Walaupun memang sama-sama berada di wilayah pelosok dan dekat dengan warga desa. “Kalau ponkesdes dari upaya masyarakat berbasis kesehatan. Gedungnya berasal dari dana desa (DD),” imbuh Siswanto.

Pelayanan yang dilakukan di pustu maupun ponkesdes meliputi upaya promotif, preventif, dan kuratif, yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan. Terutama bidan di ponkesdes dan melibatkan kader atau tenaga sukarela lainnya.

Ponkesdes merupakan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa. Bertujuan mendekatkan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat di suatu wilayah desa. “Kalau di pustu ada satu perawat dan satu bidan. Mereka melayani kesehatan dasar. Seperti kesehatan ibu dan anak (KIA). Juga perawat melayani penyakit ringan yang tidak membutuhkan rawat inap,” jelasnya.

Perawat dan bidan juga bertugas memonitor ibu hamil di wilayahnya. Sebagai tindak lanjut dalam pencegahan stunting ataupun angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). “Ibu hamil bisa periksa di pustu. Ada bidan wilayah desa. Sekaligus dalam rangka pencegahan stunting,” beber Iswanto.

Meski begitu, alur rujukan pasien pun tak ada patokan resminya. “Kami tidak bisa memobilisasi masyarakat. Pasien bisa berobat ke pustu atau langsung ke puskesmas induk. Kalau punya JKN BPJS bisa langsung ke puskesmas induk, baru nanti dirujuk ke rumah sakit,” pungkasnya.

Jurnalis: Muchammad Ainul Budi
Editor: Solikhul Huda

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Keberadaan puskesmas pembantu (pustu) di sejumlah wilayah pelosok Bondowoso cukup membantu. Pustu sendiri merupakan bagian integral puskesmas, yang harus dibina secara berkala oleh puskesmas.

Hingga kini, data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso ada 63 pustu yang tersebar di sejumlah wilayah. Sementara, untuk puskesmas sendiri total ada 25 puskesmas dalam 23 kecamatan yang ada.

Keberadaan 63 pustu guna mendukung kinerja puskesmas, diakui masih sangat cukup jumlahnya. Hal itu dibenarkan oleh Iswanto, Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan Kesehatan Primer Dinkes Bondowoso, kepada Jawa Pos Radar Ijen. “Keberadaan pustu ini masih menjadi bagian dari layanan kesehatan masyarakat. Terutama bagi warga desa. Bangunan dan alat kesehatannya semua berasal dari pemerintah kabupaten,” kata Iswanto.

Mobile_AP_Half Page

Pustu berbeda dengan pondok kesehatan desa (ponkesdes). Walaupun memang sama-sama berada di wilayah pelosok dan dekat dengan warga desa. “Kalau ponkesdes dari upaya masyarakat berbasis kesehatan. Gedungnya berasal dari dana desa (DD),” imbuh Siswanto.

Pelayanan yang dilakukan di pustu maupun ponkesdes meliputi upaya promotif, preventif, dan kuratif, yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan. Terutama bidan di ponkesdes dan melibatkan kader atau tenaga sukarela lainnya.

Ponkesdes merupakan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa. Bertujuan mendekatkan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat di suatu wilayah desa. “Kalau di pustu ada satu perawat dan satu bidan. Mereka melayani kesehatan dasar. Seperti kesehatan ibu dan anak (KIA). Juga perawat melayani penyakit ringan yang tidak membutuhkan rawat inap,” jelasnya.

Perawat dan bidan juga bertugas memonitor ibu hamil di wilayahnya. Sebagai tindak lanjut dalam pencegahan stunting ataupun angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). “Ibu hamil bisa periksa di pustu. Ada bidan wilayah desa. Sekaligus dalam rangka pencegahan stunting,” beber Iswanto.

Meski begitu, alur rujukan pasien pun tak ada patokan resminya. “Kami tidak bisa memobilisasi masyarakat. Pasien bisa berobat ke pustu atau langsung ke puskesmas induk. Kalau punya JKN BPJS bisa langsung ke puskesmas induk, baru nanti dirujuk ke rumah sakit,” pungkasnya.

Jurnalis: Muchammad Ainul Budi
Editor: Solikhul Huda

Desktop_AP_Leaderboard 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Keberadaan puskesmas pembantu (pustu) di sejumlah wilayah pelosok Bondowoso cukup membantu. Pustu sendiri merupakan bagian integral puskesmas, yang harus dibina secara berkala oleh puskesmas.

Hingga kini, data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso ada 63 pustu yang tersebar di sejumlah wilayah. Sementara, untuk puskesmas sendiri total ada 25 puskesmas dalam 23 kecamatan yang ada.

Keberadaan 63 pustu guna mendukung kinerja puskesmas, diakui masih sangat cukup jumlahnya. Hal itu dibenarkan oleh Iswanto, Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan Kesehatan Primer Dinkes Bondowoso, kepada Jawa Pos Radar Ijen. “Keberadaan pustu ini masih menjadi bagian dari layanan kesehatan masyarakat. Terutama bagi warga desa. Bangunan dan alat kesehatannya semua berasal dari pemerintah kabupaten,” kata Iswanto.

Pustu berbeda dengan pondok kesehatan desa (ponkesdes). Walaupun memang sama-sama berada di wilayah pelosok dan dekat dengan warga desa. “Kalau ponkesdes dari upaya masyarakat berbasis kesehatan. Gedungnya berasal dari dana desa (DD),” imbuh Siswanto.

Pelayanan yang dilakukan di pustu maupun ponkesdes meliputi upaya promotif, preventif, dan kuratif, yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan. Terutama bidan di ponkesdes dan melibatkan kader atau tenaga sukarela lainnya.

Ponkesdes merupakan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa. Bertujuan mendekatkan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat di suatu wilayah desa. “Kalau di pustu ada satu perawat dan satu bidan. Mereka melayani kesehatan dasar. Seperti kesehatan ibu dan anak (KIA). Juga perawat melayani penyakit ringan yang tidak membutuhkan rawat inap,” jelasnya.

Perawat dan bidan juga bertugas memonitor ibu hamil di wilayahnya. Sebagai tindak lanjut dalam pencegahan stunting ataupun angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). “Ibu hamil bisa periksa di pustu. Ada bidan wilayah desa. Sekaligus dalam rangka pencegahan stunting,” beber Iswanto.

Meski begitu, alur rujukan pasien pun tak ada patokan resminya. “Kami tidak bisa memobilisasi masyarakat. Pasien bisa berobat ke pustu atau langsung ke puskesmas induk. Kalau punya JKN BPJS bisa langsung ke puskesmas induk, baru nanti dirujuk ke rumah sakit,” pungkasnya.

Jurnalis: Muchammad Ainul Budi
Editor: Solikhul Huda

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2
×

Info!

Mau Langganan Koran, Info Iklan Cetak dan Iklan Online

×Info Langganan Koran