alexametrics
20.9C
Jember
Wednesday, 21 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Ingin Ringankan Beban Orang Tua

Kisah Dua Siswa Jualan Salad Buah Penghasilan orang tua yang pas-pasan tak membuat dua siswa ini mengeluh. Mereka pun berinisiatif untuk mandiri. Salah satunya dengan berdagang. Mereka berjualan salad buah. Seperti apa kisahnya?

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Dua siswa asal Bondowoso ini tak ingin diam saja. Ketika kedua orang tuanya hanya seorang buruh tani dengan penghasilan pas-pasan, mereka tak mau bergantung pada kedua orang tuanya semata untuk biaya pendidikan.

Mereka adalah Aji Budin, 15, siswa kelas IX di salah satu SMP, dan Hakikin, 17, salah seorang siswa kelas X di salah satu SMK. Keduanya memilih bekerja sama untuk membangun usaha kecil-kecilan. Mereka memilih berjualan salad buah untuk biaya pendidikan.

Aji Budin mengaku, usaha bersama ini dirintis saat dia bertemu Hakikin dalam sebuah kegiatan ekstrakurikuler bela diri di luar sekolah. “Karena dalam kegiatan kami butuh biaya saat pengesahan nanti, maka kami berdua jualan dan hasilnya kami tabung,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Modal awal untuk membuat salad buah itu sebesar Rp 300 ribu. Itu pun mereka dapatkan dengan meminjam. “Alhamdulillah, sekarang balik modal,” imbuhnya.

Hakikin menyebut bahwa mereka berjualan sudah sekitar dua minggu. Dalam seminggu berjualan maksimal dua hari. “Sudah lima kali jualan. Tidak setiap hari karena sekolah sekarang kan masuk. Kalau tidak masuk, baru jualan,” jelasnya.

Dalam sehari, mereka bisa menghabiskan 50-100 cup salad buah, dengan harga Rp 5 ribu per gelasnya. Kemudian, uang diputar lagi untuk modal selanjutnya. Misalnya laku 50 cup, mereka meraup penghasilan Rp 250 ribu. Kemudian, Rp 100 ribu dibuat modal lagi, dan Rp 150 tidak mereka bagi, melainkan disimpan dan dijadikan satu. “Dalam pengesahan nanti, setiap orang butuh Rp 1,5 juta. Karena usaha ini dilakukan tiga orang, maka kami perlu mengumpulkan Rp 4,5 juta. Tidak mungkin minta ke orang tua uang segitu,” paparnya.

Agar cepat laku, mereka menjajakan salad buah ke instansi-instansi. Yakni kantor desa, sekolah-sekolah, dan kantor dinas. “Karena cepat laku,” akunya.

Bagi dua siswa asal Desa Gadingsari, Kecamatan Binakal, Kabupaten Bondowoso itu, kegiatan bela diri yang mereka ikuti juga proses pendidikan yang sifatnya nonformal. Sebab, di sana juga diajarkan bagaimana menjalani hidup. “Insyaallah, jualan (salad buah, Red) ini tetap berlanjut, karena kami bisa memiliki pemasukan sendiri,” terangnya.

Jurnalis: Muchammad Ainul Budi
Fotografer: Muchammad Ainul Budi
Editor: Solikhul Huda

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Dua siswa asal Bondowoso ini tak ingin diam saja. Ketika kedua orang tuanya hanya seorang buruh tani dengan penghasilan pas-pasan, mereka tak mau bergantung pada kedua orang tuanya semata untuk biaya pendidikan.

Mereka adalah Aji Budin, 15, siswa kelas IX di salah satu SMP, dan Hakikin, 17, salah seorang siswa kelas X di salah satu SMK. Keduanya memilih bekerja sama untuk membangun usaha kecil-kecilan. Mereka memilih berjualan salad buah untuk biaya pendidikan.

Aji Budin mengaku, usaha bersama ini dirintis saat dia bertemu Hakikin dalam sebuah kegiatan ekstrakurikuler bela diri di luar sekolah. “Karena dalam kegiatan kami butuh biaya saat pengesahan nanti, maka kami berdua jualan dan hasilnya kami tabung,” katanya.

Mobile_AP_Half Page

Modal awal untuk membuat salad buah itu sebesar Rp 300 ribu. Itu pun mereka dapatkan dengan meminjam. “Alhamdulillah, sekarang balik modal,” imbuhnya.

Hakikin menyebut bahwa mereka berjualan sudah sekitar dua minggu. Dalam seminggu berjualan maksimal dua hari. “Sudah lima kali jualan. Tidak setiap hari karena sekolah sekarang kan masuk. Kalau tidak masuk, baru jualan,” jelasnya.

Dalam sehari, mereka bisa menghabiskan 50-100 cup salad buah, dengan harga Rp 5 ribu per gelasnya. Kemudian, uang diputar lagi untuk modal selanjutnya. Misalnya laku 50 cup, mereka meraup penghasilan Rp 250 ribu. Kemudian, Rp 100 ribu dibuat modal lagi, dan Rp 150 tidak mereka bagi, melainkan disimpan dan dijadikan satu. “Dalam pengesahan nanti, setiap orang butuh Rp 1,5 juta. Karena usaha ini dilakukan tiga orang, maka kami perlu mengumpulkan Rp 4,5 juta. Tidak mungkin minta ke orang tua uang segitu,” paparnya.

Agar cepat laku, mereka menjajakan salad buah ke instansi-instansi. Yakni kantor desa, sekolah-sekolah, dan kantor dinas. “Karena cepat laku,” akunya.

Bagi dua siswa asal Desa Gadingsari, Kecamatan Binakal, Kabupaten Bondowoso itu, kegiatan bela diri yang mereka ikuti juga proses pendidikan yang sifatnya nonformal. Sebab, di sana juga diajarkan bagaimana menjalani hidup. “Insyaallah, jualan (salad buah, Red) ini tetap berlanjut, karena kami bisa memiliki pemasukan sendiri,” terangnya.

Jurnalis: Muchammad Ainul Budi
Fotografer: Muchammad Ainul Budi
Editor: Solikhul Huda

Desktop_AP_Leaderboard 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Dua siswa asal Bondowoso ini tak ingin diam saja. Ketika kedua orang tuanya hanya seorang buruh tani dengan penghasilan pas-pasan, mereka tak mau bergantung pada kedua orang tuanya semata untuk biaya pendidikan.

Mereka adalah Aji Budin, 15, siswa kelas IX di salah satu SMP, dan Hakikin, 17, salah seorang siswa kelas X di salah satu SMK. Keduanya memilih bekerja sama untuk membangun usaha kecil-kecilan. Mereka memilih berjualan salad buah untuk biaya pendidikan.

Aji Budin mengaku, usaha bersama ini dirintis saat dia bertemu Hakikin dalam sebuah kegiatan ekstrakurikuler bela diri di luar sekolah. “Karena dalam kegiatan kami butuh biaya saat pengesahan nanti, maka kami berdua jualan dan hasilnya kami tabung,” katanya.

Modal awal untuk membuat salad buah itu sebesar Rp 300 ribu. Itu pun mereka dapatkan dengan meminjam. “Alhamdulillah, sekarang balik modal,” imbuhnya.

Hakikin menyebut bahwa mereka berjualan sudah sekitar dua minggu. Dalam seminggu berjualan maksimal dua hari. “Sudah lima kali jualan. Tidak setiap hari karena sekolah sekarang kan masuk. Kalau tidak masuk, baru jualan,” jelasnya.

Dalam sehari, mereka bisa menghabiskan 50-100 cup salad buah, dengan harga Rp 5 ribu per gelasnya. Kemudian, uang diputar lagi untuk modal selanjutnya. Misalnya laku 50 cup, mereka meraup penghasilan Rp 250 ribu. Kemudian, Rp 100 ribu dibuat modal lagi, dan Rp 150 tidak mereka bagi, melainkan disimpan dan dijadikan satu. “Dalam pengesahan nanti, setiap orang butuh Rp 1,5 juta. Karena usaha ini dilakukan tiga orang, maka kami perlu mengumpulkan Rp 4,5 juta. Tidak mungkin minta ke orang tua uang segitu,” paparnya.

Agar cepat laku, mereka menjajakan salad buah ke instansi-instansi. Yakni kantor desa, sekolah-sekolah, dan kantor dinas. “Karena cepat laku,” akunya.

Bagi dua siswa asal Desa Gadingsari, Kecamatan Binakal, Kabupaten Bondowoso itu, kegiatan bela diri yang mereka ikuti juga proses pendidikan yang sifatnya nonformal. Sebab, di sana juga diajarkan bagaimana menjalani hidup. “Insyaallah, jualan (salad buah, Red) ini tetap berlanjut, karena kami bisa memiliki pemasukan sendiri,” terangnya.

Jurnalis: Muchammad Ainul Budi
Fotografer: Muchammad Ainul Budi
Editor: Solikhul Huda

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2
×

Info!

Mau Langganan Koran, Info Iklan Cetak dan Iklan Online

×Info Langganan Koran