Bulan Puasa Pasokan Beras Masih Terjaga

Ketersediaan Beras Mencapai 7.000 ton

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Bulan Ramadan tahun ini tinggal menghitung hari. Stok beras di Bondowoso pun dipastikan aman. Badan Urusan Logistik (Bulog) sub divre Bondowoso-Situbondo memastikan ketersedian beras di ke dua kabupaten aman.

Artinya, stok beras yang ada dengan kebutuhan rata-rata konsumsi bulanan masih terpaut jauh. Bahkan, stok yang ada disebut bisa digunakan untuk beberapa bulan ke depan.

Rudi Prasetya Kepala Bulog Sub Divre Bondowoso-Situbondo, menjelaskan, untuk wilayah Bondowoso ketersediaan beras mencapai 7.000 ton dengan kategori medium. Semuanya, tersimpan di komplek gudang Bulog di Desa Kembang, Kecamatan Bondowoso.

“Ini aman, karena kalau rata-rata kebutuhan beras di Bondowoso tiap bulannya itu sekitar 500 ton,” kata pria asal Surabaya itu.

Adapun di Situbondo sendiri beras yang ada di dua komplek gudang Bulog Kota Santri itu, yakni sekitar 5.200 ton. Sementara, rata-rata konsumsi berasnya yakni sekitar 250 ton per bulan.

Rudi mengakui bahwa biasanya pada saat ramadan terjadi peningkatan konsumsi. Namun, pihaknya tidak khawatir karena melihat kondisi stok yang terbilang stabil.

Belum lagi, Bulog melakukan penyerapan gabah dan beras petani di dua kabupaten dengan Harga Pokok Penjualan (HPP) beras Rp 8.300 per kilogram, dan gabah kering giling Rp 5.300 per kilogram. Baik, dengan sistem jemput bola, atau pun masyarakat datang langsung ke gudang Bulog.

“Tiap hari kami menyerap, walaupun tidak sebanter dengan supply. Tapi ada penyerapan cukup lumayan, sehari bisa mencapai 50 ton,” ungkap Kepala Sub Divre yang telah bertugas 1,5 tahun di Bondowoso itu.

Adapun operasi pasar yang biasa digelar untuk menstabilkan harga, jelas Rudi, pihaknya siap untuk menggelar agenda tahunan itu. Namun, memang sejauh ini masih belum ada koordinasi dari pemerintah daerah.

“Biasanya kami awal-awal bulan dipanggil oleh Pak Wakil Bupati. Begitu pun di Situbondo, kami dipanggil untuk melakukan operasi pasar. Baik gabungan atau pun kami sendiri,” tutupnya.

Jurnalis: Muchammad Ainul Budi
Fotografer: Dok Radar Ijen
Editor: Solikhul Huda