Alat Cetak Cuma Dua, Dispendukcapil Kebut Perekaman e-KTP

ALAT REKAM: Alat perekaman KTP-el seperti ini tahun depan di setiap kecamatan diusahakan ada di setiap kantor kecamatan. Sehingga perekaman tidak harus terpusat di dispendukcapil.

BONDOWOSO – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Bondowoso dituntut untuk mempercepat perekaman KTP-elektronik atau KTP-el. Namun, tuntutan itu belum sebanding dengan ketersediaan alat. Sebab, alat cetak KTP-el hanya ada dua di Dispendukcapil Bondowoso.

IKLAN

Sekretaris Dispendukcapil Priyono Hadi Siswanto mengatakan, KTP-el merupakan kartu yang wajib dimiliki setiap warga. Sebab masyarakat yang hidup di suatu daerah, harus mencatatkan diri kepada dispendukcapil. Namun saat ini kepemilikan KTP-el masih belum menyeluruh. “Kami terus melakukan perekaman,” ujarnya.

Apalagi menjelang pemilihan umum. Saat ini seseorang harus memiliki KTP-el sebagai syarat untuk menyalurkan suara atau menggunakan hak pilihnya. Sebab saat mencoblos nantinya, masyarakat harus membawa serta KTP-el bersama undangan dari TPS.

Untuk percepatan perekaman, sudah dilakukan dispendukcapil. Setiap harinya ada empat alat rekam yang turun ke berbagai daerah dan ada dua alat rekam yang ada di kantor dispendukcapil. Namun sayangnya, alat pencetaknya sangat minim. “Alat cetak sebenarnya kami ada empat buah, namun yang berfungsi hanya dua buah, itu pun sempat satu rusak,” terangnya.

Minimnya alat cetak inilah yang menyebabkan pencetakannya lama. Namun bagi masyarakat yang akan menyalurkan hak suaranya, begitu mereka direkam, dispendukcapil memberikannya surat keterangan (suket). Dengan berbekal suket, masyarakat sudah bisa menyalurkan hak suaranya. Namun itu hanya berlaku untuk 2018 saja. “Untuk 2019 seluruhnya harus memakai KTP-el,” terangnya.

Karena kebutuhan itulah, maka dibutuhkan alat pencetak KTP-el yang lebih banyak. Minimal alat cetak yang bisa difungsikan empat atau lebih. Sebab kata Priyono, mengaca daerah lain ada yang memiliki alat cetak lima bahkan sampai tujuh. “Memang kalau hanya dua tidak cukup, sebab alat cetak itu ada batas pemakaiannya, sedangkan setiap hari ada 200-300 orang yang mengurus KTP-el,” ujarnya.

Tahun ini, pihaknya berusaha menambah alat cetak. Minimal ada APBD Perubahan. Sedangkan untuk alat rekamnya, akan ditambah tahun depan. Saat ini dari 23 kecamatan, hanya ada tiga kecamatan yang memiliki alat rekam. Yakni di Kecamatan Tamanan, Wringin, dan Cermee. “Yang berfungsi maksimal hanya Tamanan, sedangkan Cermee dan Wringin terkendala jaringan,” tegasnya. Target tahun depan setiap kecamatan bisa melakukan perekaman KTP-el. (hud/c1/aro)

Reporter :

Fotografer :

Editor :