Kata Bupati Faida, Begini Rasanya Naik Pegon

AMBULU– Bupati Jember dr. Faida, MMR menutup agenda Festival Pegon Hias Tahun 2018 yang dipusatkan di Pantai Watu Ulo, Ambulu, Sabtu (23/6). Sebelum menutup secara resmi festival tahunan itu, perempuan pertama yang menjadi Bupati Jember tersebut sempat diarak menggunakan pegon sejauh 200 meter dan diiringi tarian Reog siswa SMP Negeri 2 Ambulu.

IKLAN

“Seumur-umur baru sekali ini saya naik pegon. Kalau ditanya rasanya seperti apa? Rasanya itu sesuatu banget,” katanya. Guyonan itu dia sampaikan sesaat sebelum menutup festival yang telah berjalan 20 tahun ini.

Pegon merupakan istilah dalam Bahasa Jawa yang mengacu kepada alat transportasi tradisional semacam pedati. Dalam istilah lain, pegon juga disebut cikar. Meski hampir serupa dengan pedati, namun ada beberapa perbedaan mendasar. Pedati digunakan untuk mengangkut orang, sedangkan pegon untuk mengangkut barang seperti pasir atau hasil bumi.

Perbedaan mencolok lainnya adalah, pengemudi pedati disebut kusir, sementara pengemudi pegon disebut bajingan. Ukuran pegon juga jauh lebih besar dibandingkan pedati. Material pegon juga lebih kuat dan berat, karena dibuat dari balok-balok kayu. Pegon ditarik dua ekor sapi dewasa, sementara pedati ditarik seekor kuda.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, konvoi pegon ini dimulai dari depan kantor Desa Sumberrejo, Kecamatan Ambulu, dan berakhir di Pantai Watu Ulo yang berjarak sekira 3 kilometer. Tahun ini, sebanyak 65 pegon dari dua kecamatan, Ambulu dan Wuluhan, yang tercatat mengikuti festival yang telah menjadi tradisi masyarakat lokal tersebut.

Saat naik pegon tersebut, Bupati Faida juga sempat bertanya sembari berkelakar kepada bajingan yang membawanya. Dia berkata, apakah lomba dalam festival pegon ini yang dinilai keindahan atau kecepatannya.

Jika keindahan dekorasi pegon, maka dirinya tak mempermasalahkan, dan akan naik hingga di garis finish. Namun kalau kecepatan yang dinilai, dia lebih baik turun saja, karena khawatir terjatuh. “Tadi saya sempat berbisik. Ini yang dinilai keindahan atau kecepatan? Kalau kecepatan saya lebih baik turun saja,” kelakarnya.

Menurut Faida, menaiki pegon memiliki sensasi tersendiri. Sebab alat angkut tradisional itu mulai jarang digunakan, karena telah digantikan oleh alat angkut yang lebih modern yang menggunakan tenaga mesin.

Untuk itu dia mengajak, agar masyarakat di Kecamatan Ambulu dan Wuluhan terus melestarikan tradisi ini, sehingga masih bisa dinikmati oleh generasi mendatang. “Tradisi ini penting untuk dilestarikan. Karena selain bernilai seni dan wisata, budaya ini juga merupakan budaya asli dari masing-masing desa dan kecamatan di Jember,” ujarnya.

Fotografer : Mahrus Solih

Reporter   : Mahrus Solih

Editor       : Winardi Nawa Putra

Reporter :

Fotografer :

Editor :