Dua Peserta SBMPTN Dicurigai jadi Joki

RADARJEMBER.ID: Dua peserta SBMPTN mendapat perhatian khusus dari panitia lokal 58 saat ujian Selasa, (8/5). Mereka mendaftar ikut ujian lebih dari dua kali.

IKLAN

Meski keduanya dicurigai, namun panitia belum berani menyimpulkan mereka adalah joki. Sebab, ada kemungkinan peserta ini salah memilih jurusan, sehingga mendaftar hingga lebih dua kali.

“Ada dua orang dicurigai. Laporan itu datangnya dari panitia pusat,” kata Ahmad Saifullah, koordinator ujian tulis berbasis cetak, di Panlok 58 Universitas Jember, kemarin. Karena kecurigaan ini, panitia pusat meminta panitia lokal memberikan perhatian khusus kepada peserta yang telah mendaftar lebih dari dua kali tersebut.

Menurut Ahmad Saifullah, begitu dapat info seperti itu, pihaknya langsung bergerak. Dia menyampaikan, lokasi ujian peserta ini di SMK Yapeni. ”Kami mengawasi lebih intensif mahasiswa yang dianggap mencurigakan ini. Bila ditemukan (ada dugaan penyimpangan), akan dibuat berita acara. Apalagi sudah mendaftar lebih dari dua kali,” ujarnya.

Sistem joki, kata dia, memungkinkan peserta ‘bermain-main’ dalam ujian SBMPTN ini. Yakni ingin mendapatkan kursi masuk PTN dengan mudah. Sebab, saat mendaftar tiga kali, maka ada tiga jatah kursi yang tersedia untuknya. ”Misal dia di kelas A, namun di kelas lain juga ada namanya,” jelasnya.

Hal itulah yang perlu diawasi lebih intens oleh petugas saat ujian berlangsung. ”Dua peserta SBMPTN tersebut masih belum dipastikan joki. Kemungkinan mendaftar lebih dari dua kali karena ingin pindah program studi. Sehingga harus mendaftar lagi, memilih jurusan yang berbeda,” lanjutnya.

Kecurangan itu sejak awal sudah diantisipasi sesuai arahan dari pusat. Sejak pendaftaran, panitia sudah mengantisipasi bila ada pendaftar secara daring dalam waktu yang bersamaan. ”Komputer sudah mengacak, sehingga nomornya tidak berurutan,” ucapnya.

Namun, ada kemungkinan peserta mendaftar lagi agar mendapat nomor dengan ruangan yang diinginkan. Sehingga, bisa diisi oleh orang lain atau diisi diri sendiri dengan alasan terlambat. Yakni setelah mengerjakan soal di ruang pertama. “Dia tetap masuk saat tes. Saat bersamaan, tempat yang tadi kosong bisa diisi orang lain,” paparnya.

Bila kegiatan itu terjadi dan diketahui, akan dibuatkan berita acara. Kemudian, lembar jawaban tidak akan diproses. Untuk menjaga keamanan soal agar tidak bocor, pihaknya juga melarang peserta menggunakan smart watch, kacamata yang memakai scanner, atau bluetooth. “Meskipun selesai duluan, nggak boleh keluar. Keluarnya harus bersamaan,” paparnya.
Sejauh ini, dalam pelaksanaan ujian SBMPTN di Jember, pihaknya belum pernah menemukan peserta yang menjadi joki. “Selama ini kami belum pernah menemukan seperti itu,” terangnya.

Sementara Sunarlan, penanggung jawab ujian di SMK Yapeni menjelaskan, dua peserta yang dianggap mencurigakan itu kelihatan wajar-wajar saja saat ujian. ”Pemantauan kami tidak ada yang mencurigakan,” katanya. Mereka mengerjakan soal sesuai dengan peraturan. (*)
Reporter : Bagus Supriadi
Editor: MS Rasyid

Reporter :

Fotografer :

Editor :