Diam-Diam Tetap Beroperasi, Eks Lokalisasi Dolog Selama Ramadan 1439 H

TERSELUBUNG: Perkampungan yang bercampur dengan tempat prostitusi di kawasan Dolog tampak lengang saat siang hari. Namun, sejumlah PSK diam-diam non stop melayani pengunjung.

SUMBERSUKO – Tidak seperti biasanya, kampung eks lokalisasi Dolog tampak begitu sepi saat siang hari di bulan Ramadan. Sejumlah rumah warga tertutup rapat. Sebagian lagi buka namun sedikit aktifitas di dalam. Namun, realitasnya pada malam hari pelayanan para pekerja seks komersial (PSK) tetap berjalan.
Jawa Pos Radar Semeru, Jumat pekan kemarin sempat mengunjungi beberapa rumah prostitusi di eks lokalisasi itu. Salah satunya, ke rumah prostitusi milik Sunarsih, 54. Saat diwawancara dia mengaku, petugas terkait melarang pemilik jasa prostitusi maupun warung untuk terlalu terbuka dalam menjalankan kegiatan. Aktivitas prostitusi tetap diperkenankan asalkan tidak sampai menimbulkan keramaian.
Upaya membatasi keramaian semacam itu dilakukannya sejak awal Ramadan. Pemilik warung sekaligus penyedia jasa prostitusi di RT 03, RW 02 Dusun Suko 2 itu mengaku, umumnya para pemilik usaha jasa tubuh di tempat itu patuh dengan aturan yang disepakati.” Aturan ini sepertinya dipatuhi oleh hampir semua pemilik usaha. Sejak awal puasa sampai sekarang pun kondisinya aman-aman saja, tidak sampai ada razia dari petugas,” Paparnya.
Hal senada disampaikan Kristin, 30, salah seorang PSK yang menghuni salah satu rumah di RT 03, RW 02. Kendati papi rumah (sebutannya untuk mucikari) tetap mengizinkannya melayani tamu yang datang sepanjang Ramadan, tapi dia dilarang terlalu sering keluar rumah. Walau pun sekadar duduk-duduk di teras. “Tidak boleh ada yang ke luar rumah. Makanya kelihatan sepi,” tutur PSK asal Kabupaten Banyuwangi itu.
Yang juga mesti diliburkan selama Ramadan adalah jasa karaoke. Selama ini, sejumlah rumah prostitusi di eks lokalisasi Dolog menyediakan fasilitas karaoke. Pada hari-hari di luar Ramadan, rumah-rumah karaoke di kampung itu buka sejak pukul 08.00 hingga 23.00. Kecuali, saat ada kegiatan hotmil Alquran atau pengajian, maka musik wajib dimatikan. “Konsekuensinya, jika ada yang melanggar, ampli akan ditahan Ketua RT, dan aktivitas karaoke di tempat yang melanggar itu dihentikan selama seminggu,” terang Kristin.
Sebagai gambaran, para PSK di eks lokalisasi Dolog hidup bercampur dengan warga biasa di pemukiman tersebut. Di tempat itu pula anak-anak warga melewati proses tumbuh kembang, bermain, serta menjalani kehidupan sosial mereka.
Di pihak lain, Kepala Satpol PP Kabupaten Lumajang, Basuni mengungkapkan, sidak Ramadan yang dilakukan petugasnya di tempat-tempat prostitusi selalu dilakukan malam hari. Dari empat kali operasi yang sudah dilakukan, pihaknya tidak sekali pun pernah memergoki PSK bandel yang tengah beroperasi. “Kami memastikan jika operasi yang kami lakukan tidak bocor. Tidak ditemukannya PSK yang mbandel yang masih beroperasi selama Bulan Puasa. Itu berarti mereka patuh pada aturan,” akunya. (was/aro)

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :