alexametrics
30.5 C
Jember
Wednesday, 10 August 2022

Kisah Awal Jualan Onde-Onde

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tangan Ahmad Fauzi begitu cekatan membolak-balikkan onde-onde di penggorengan. Ada dua macam onde-onde yang digoreng pria 40 tahun tersebut. Warna hitam dari ketan hitam dan warna putih dari ketan putih.

“Paling cepat habis yang warna hitam. Walau harganya sebenarnya sama saja dengan yang putih,” ujar Fauzi.

Fauzi merintis usaha onde-onde itu bersama istrinya. Setelah ditelusuri, sebenarnya pasangan ini bukan orang lama yang menggeluti usaha jual onde-onde. Dia tergolong baru, namun cukup sukses. Usaha itu dirintis sekitar lima tahun lalu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebelum memutuskan membuka usaha, Fauzi bekerja menjadi penjaga toko sepeda. Istrinya pun sama, penjaga toko. Di tempat yang sama pula.

Pasutri ini sudah bekerja lebih dari 25 tahun menjadi penjaga toko. Akhirnya, mereka berhenti dan menjadi wira usaha. “Kalau jadi penjaga toko, kapan anak saya bisa sekolah tinggi,” terangnya.

Akhirnya, Fauzi bekerja di rumah dengan membuka bengkel, sedangkan istrinya jualan onde-onde. Ilmu membuat onde-onde diperoleh dari keponakannya. Dia belajar, akhirnya bisa. Uniknya, istri Fauzi memiliki sistem penjualan yang berbeda. “Kalau ponakan jualan onde-onde dengan menitipkan ke pedagang sayur keliling. Saya memilih berjualan di tempat,” ungkapnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tangan Ahmad Fauzi begitu cekatan membolak-balikkan onde-onde di penggorengan. Ada dua macam onde-onde yang digoreng pria 40 tahun tersebut. Warna hitam dari ketan hitam dan warna putih dari ketan putih.

“Paling cepat habis yang warna hitam. Walau harganya sebenarnya sama saja dengan yang putih,” ujar Fauzi.

Fauzi merintis usaha onde-onde itu bersama istrinya. Setelah ditelusuri, sebenarnya pasangan ini bukan orang lama yang menggeluti usaha jual onde-onde. Dia tergolong baru, namun cukup sukses. Usaha itu dirintis sekitar lima tahun lalu.

Sebelum memutuskan membuka usaha, Fauzi bekerja menjadi penjaga toko sepeda. Istrinya pun sama, penjaga toko. Di tempat yang sama pula.

Pasutri ini sudah bekerja lebih dari 25 tahun menjadi penjaga toko. Akhirnya, mereka berhenti dan menjadi wira usaha. “Kalau jadi penjaga toko, kapan anak saya bisa sekolah tinggi,” terangnya.

Akhirnya, Fauzi bekerja di rumah dengan membuka bengkel, sedangkan istrinya jualan onde-onde. Ilmu membuat onde-onde diperoleh dari keponakannya. Dia belajar, akhirnya bisa. Uniknya, istri Fauzi memiliki sistem penjualan yang berbeda. “Kalau ponakan jualan onde-onde dengan menitipkan ke pedagang sayur keliling. Saya memilih berjualan di tempat,” ungkapnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tangan Ahmad Fauzi begitu cekatan membolak-balikkan onde-onde di penggorengan. Ada dua macam onde-onde yang digoreng pria 40 tahun tersebut. Warna hitam dari ketan hitam dan warna putih dari ketan putih.

“Paling cepat habis yang warna hitam. Walau harganya sebenarnya sama saja dengan yang putih,” ujar Fauzi.

Fauzi merintis usaha onde-onde itu bersama istrinya. Setelah ditelusuri, sebenarnya pasangan ini bukan orang lama yang menggeluti usaha jual onde-onde. Dia tergolong baru, namun cukup sukses. Usaha itu dirintis sekitar lima tahun lalu.

Sebelum memutuskan membuka usaha, Fauzi bekerja menjadi penjaga toko sepeda. Istrinya pun sama, penjaga toko. Di tempat yang sama pula.

Pasutri ini sudah bekerja lebih dari 25 tahun menjadi penjaga toko. Akhirnya, mereka berhenti dan menjadi wira usaha. “Kalau jadi penjaga toko, kapan anak saya bisa sekolah tinggi,” terangnya.

Akhirnya, Fauzi bekerja di rumah dengan membuka bengkel, sedangkan istrinya jualan onde-onde. Ilmu membuat onde-onde diperoleh dari keponakannya. Dia belajar, akhirnya bisa. Uniknya, istri Fauzi memiliki sistem penjualan yang berbeda. “Kalau ponakan jualan onde-onde dengan menitipkan ke pedagang sayur keliling. Saya memilih berjualan di tempat,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/