alexametrics
21.8 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Bantuan Operasional Madrasah Diniyah di Bondowoso Terdampak Refocusing

Dulu Enam Bulan, Kini Tinggal Sebulan

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Bantuan Operasional Sekolah Madrasah Diniyah (Bosda Madin) 2021 dari pemerintah provinsi (pemprov) juga terkena refocusing. Akibatnya, bantuan yang seharusnya diterima untuk waktu enam bulan itu, kini hanya tersisa satu bulan. Bahkan, dalam Perubahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (PAPBD) Bondowoso 2021 juga disebut akan memangkas Bosda Madin menjadi satu bulan dengan alasan serupa, refocusing.

Hal tersebut membuat 933 madin di Bondowoso hanya akan menerima Bosda untuk dua bulan selama tahun 2021 ini. Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso Sugiono Eksantoso saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Ijen, kemarin (30/8). “Ini sudah pengajuan PAK (perubahan anggaran keuangan, Red). Kami kan mengikuti tim anggaran. Kalau tim anggaran nilainya seperti itu, kami hanya mengikuti,” ujarnya.

Diterangkan, anggaran Bosda Madin dari provinsi untuk satu bulan yakni sekitar Rp 935,2 juta. Dan telah terealisasi pada Juli hampir 100 persen, atau sekitar Rp 934 juta. Sementara, untuk Bosda Madin dari pemkab yang terkena refocusing kini tersisa Rp 964,8 juta. “Ini yang Bosda Madin daerah belum cair, menunggu PAK,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sugiono mengaku, kendati belum final, namun kemungkinan untuk berubah sangat kecil. Pihaknya juga sudah ke bagian program menanyakan hal ini, dan sepertinya sudah hampir final. “Kemungkinan untuk berubah, sudah tak ada celah ke sana,” jelas mantan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim wilayah Bondowoso–Situbondo ini.

Setiap madin diperkirakan nilai bantuannya sekitar Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta. Nilai tersebut diperoleh dari penghitungan yakni per siswa mendapat Rp 15 ribu untuk madin ula, dan Rp 25 ribu per siswa madin wustha. Kemudian, untuk gurunya yakni per 15 murid satu guru nilainya mendapat Rp 300 ribu sebulan.

Menanggapi hal tersebut, Bahri Sahlawi Zein, Juru Bicara Fraksi PPP Bondowoso, mengharapkan rencana pemangkasan Bosda Madin di PAPBD 2021 ini tidak dilakukan. Kendati demikian, ia mengakui APBD saat ini memang sedang defisit, sekitar Rp 20 miliar. Namun, diharapkan kekurangan anggaran ini diambil dari item lain.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Bantuan Operasional Sekolah Madrasah Diniyah (Bosda Madin) 2021 dari pemerintah provinsi (pemprov) juga terkena refocusing. Akibatnya, bantuan yang seharusnya diterima untuk waktu enam bulan itu, kini hanya tersisa satu bulan. Bahkan, dalam Perubahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (PAPBD) Bondowoso 2021 juga disebut akan memangkas Bosda Madin menjadi satu bulan dengan alasan serupa, refocusing.

Hal tersebut membuat 933 madin di Bondowoso hanya akan menerima Bosda untuk dua bulan selama tahun 2021 ini. Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso Sugiono Eksantoso saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Ijen, kemarin (30/8). “Ini sudah pengajuan PAK (perubahan anggaran keuangan, Red). Kami kan mengikuti tim anggaran. Kalau tim anggaran nilainya seperti itu, kami hanya mengikuti,” ujarnya.

Diterangkan, anggaran Bosda Madin dari provinsi untuk satu bulan yakni sekitar Rp 935,2 juta. Dan telah terealisasi pada Juli hampir 100 persen, atau sekitar Rp 934 juta. Sementara, untuk Bosda Madin dari pemkab yang terkena refocusing kini tersisa Rp 964,8 juta. “Ini yang Bosda Madin daerah belum cair, menunggu PAK,” ujarnya.

Sugiono mengaku, kendati belum final, namun kemungkinan untuk berubah sangat kecil. Pihaknya juga sudah ke bagian program menanyakan hal ini, dan sepertinya sudah hampir final. “Kemungkinan untuk berubah, sudah tak ada celah ke sana,” jelas mantan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim wilayah Bondowoso–Situbondo ini.

Setiap madin diperkirakan nilai bantuannya sekitar Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta. Nilai tersebut diperoleh dari penghitungan yakni per siswa mendapat Rp 15 ribu untuk madin ula, dan Rp 25 ribu per siswa madin wustha. Kemudian, untuk gurunya yakni per 15 murid satu guru nilainya mendapat Rp 300 ribu sebulan.

Menanggapi hal tersebut, Bahri Sahlawi Zein, Juru Bicara Fraksi PPP Bondowoso, mengharapkan rencana pemangkasan Bosda Madin di PAPBD 2021 ini tidak dilakukan. Kendati demikian, ia mengakui APBD saat ini memang sedang defisit, sekitar Rp 20 miliar. Namun, diharapkan kekurangan anggaran ini diambil dari item lain.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Bantuan Operasional Sekolah Madrasah Diniyah (Bosda Madin) 2021 dari pemerintah provinsi (pemprov) juga terkena refocusing. Akibatnya, bantuan yang seharusnya diterima untuk waktu enam bulan itu, kini hanya tersisa satu bulan. Bahkan, dalam Perubahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (PAPBD) Bondowoso 2021 juga disebut akan memangkas Bosda Madin menjadi satu bulan dengan alasan serupa, refocusing.

Hal tersebut membuat 933 madin di Bondowoso hanya akan menerima Bosda untuk dua bulan selama tahun 2021 ini. Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso Sugiono Eksantoso saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Ijen, kemarin (30/8). “Ini sudah pengajuan PAK (perubahan anggaran keuangan, Red). Kami kan mengikuti tim anggaran. Kalau tim anggaran nilainya seperti itu, kami hanya mengikuti,” ujarnya.

Diterangkan, anggaran Bosda Madin dari provinsi untuk satu bulan yakni sekitar Rp 935,2 juta. Dan telah terealisasi pada Juli hampir 100 persen, atau sekitar Rp 934 juta. Sementara, untuk Bosda Madin dari pemkab yang terkena refocusing kini tersisa Rp 964,8 juta. “Ini yang Bosda Madin daerah belum cair, menunggu PAK,” ujarnya.

Sugiono mengaku, kendati belum final, namun kemungkinan untuk berubah sangat kecil. Pihaknya juga sudah ke bagian program menanyakan hal ini, dan sepertinya sudah hampir final. “Kemungkinan untuk berubah, sudah tak ada celah ke sana,” jelas mantan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim wilayah Bondowoso–Situbondo ini.

Setiap madin diperkirakan nilai bantuannya sekitar Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta. Nilai tersebut diperoleh dari penghitungan yakni per siswa mendapat Rp 15 ribu untuk madin ula, dan Rp 25 ribu per siswa madin wustha. Kemudian, untuk gurunya yakni per 15 murid satu guru nilainya mendapat Rp 300 ribu sebulan.

Menanggapi hal tersebut, Bahri Sahlawi Zein, Juru Bicara Fraksi PPP Bondowoso, mengharapkan rencana pemangkasan Bosda Madin di PAPBD 2021 ini tidak dilakukan. Kendati demikian, ia mengakui APBD saat ini memang sedang defisit, sekitar Rp 20 miliar. Namun, diharapkan kekurangan anggaran ini diambil dari item lain.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/