alexametrics
24.4 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Tolok Ukur Naik Kelas Disesuaikan

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kondisi pendidikan sekarang sangat berbeda. Pada kondisi normal, sekolah dan guru memiliki standar untuk menentukan kenaikan kelas peserta didiknya. Namun, di masa pandemi Covid-19 harus ada pedoman khusus.

Ketua Komisi IV DPRD Bondowoso Ady Kriesna kepada Jawa Pos Radar Ijen mengatakan, setidaknya ada penyesuaian tolok ukur, termasuk kurikulum dengan kondisi sekarang. “Tolok ukur kurikulum disesuaikan dengan kondisi pandemi korona,” paparnya. Bila tetap bersikukuh memakai tolok ukur kenaikan kelas seperti 2019, tentu saja banyak siswa yang tidak memenuhi standar dan berujung tinggal kelas.

Siswa yang tinggal kelas, yang perlu diantisipasi adalah mereka melanjutkan sekolah atau tidak. Apalagi, tidak semua siswa di Bondowoso kondisinya sama. “Ada yang pakai daring, ada yang luring. Kalau di kota, semua relatif daring, karena sinyal internet tersedia di semua daerah,” tuturnya. Kondisi topografi Bondowoso di pegunungan tentu saja akan menghambat sekolah daring. Walau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) punya tolok ukur dan kurikulum tersendiri, Ady Kriesna berharap ada kebijakan local wisdom.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kondisi pendidikan sekarang sangat berbeda. Pada kondisi normal, sekolah dan guru memiliki standar untuk menentukan kenaikan kelas peserta didiknya. Namun, di masa pandemi Covid-19 harus ada pedoman khusus.

Ketua Komisi IV DPRD Bondowoso Ady Kriesna kepada Jawa Pos Radar Ijen mengatakan, setidaknya ada penyesuaian tolok ukur, termasuk kurikulum dengan kondisi sekarang. “Tolok ukur kurikulum disesuaikan dengan kondisi pandemi korona,” paparnya. Bila tetap bersikukuh memakai tolok ukur kenaikan kelas seperti 2019, tentu saja banyak siswa yang tidak memenuhi standar dan berujung tinggal kelas.

Siswa yang tinggal kelas, yang perlu diantisipasi adalah mereka melanjutkan sekolah atau tidak. Apalagi, tidak semua siswa di Bondowoso kondisinya sama. “Ada yang pakai daring, ada yang luring. Kalau di kota, semua relatif daring, karena sinyal internet tersedia di semua daerah,” tuturnya. Kondisi topografi Bondowoso di pegunungan tentu saja akan menghambat sekolah daring. Walau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) punya tolok ukur dan kurikulum tersendiri, Ady Kriesna berharap ada kebijakan local wisdom.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kondisi pendidikan sekarang sangat berbeda. Pada kondisi normal, sekolah dan guru memiliki standar untuk menentukan kenaikan kelas peserta didiknya. Namun, di masa pandemi Covid-19 harus ada pedoman khusus.

Ketua Komisi IV DPRD Bondowoso Ady Kriesna kepada Jawa Pos Radar Ijen mengatakan, setidaknya ada penyesuaian tolok ukur, termasuk kurikulum dengan kondisi sekarang. “Tolok ukur kurikulum disesuaikan dengan kondisi pandemi korona,” paparnya. Bila tetap bersikukuh memakai tolok ukur kenaikan kelas seperti 2019, tentu saja banyak siswa yang tidak memenuhi standar dan berujung tinggal kelas.

Siswa yang tinggal kelas, yang perlu diantisipasi adalah mereka melanjutkan sekolah atau tidak. Apalagi, tidak semua siswa di Bondowoso kondisinya sama. “Ada yang pakai daring, ada yang luring. Kalau di kota, semua relatif daring, karena sinyal internet tersedia di semua daerah,” tuturnya. Kondisi topografi Bondowoso di pegunungan tentu saja akan menghambat sekolah daring. Walau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) punya tolok ukur dan kurikulum tersendiri, Ady Kriesna berharap ada kebijakan local wisdom.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/