alexametrics
27.8 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Melihat Pameran Seni Kento’ Bhaceng

Pameran seni rupa dari Komunitas Kalimat Project dengan tema “Kento’ Bhaceng” secara resmi memang telah usai. Namun, antusiasme yang tinggi, sejatinya pameran itu masih ada. Termasuk karya-karyanya yang menghidupkan daya imajinasi anak-anak.

Mobile_AP_Rectangle 1

Inspirasi untuk membuat lukisan menggunakan material ikan berasal dari kebiasaannya yang suka berkunjung ke pasar di wilayahnya. Terlebih saat Saiful belajar teknik seni nirwana, berbagai bahan yang unik juga dijadikan sebagai materi lukisan. Mulai dari paku, camilan, hingga lainnya. “Pemikiran itu yang membuat kita, kenapa ikan juga bisa menjadi materi,” terangnya.

Secara resmi pameran seni rupa Kento’ Bhaceng ini selesai pada Senin, 28 Maret kemarin. Namun, karena antusiasme tinggi, termasuk ke sekolah-sekolah, pemeran tersebut masih ada. Bahkan, karya seninya juga masih tetap terpajang. “Antusiasme anak-anak hingga sekolah masih ingin berkunjung ke pameran seni Kento’ Bhaceng,” ucap Kepala Desa Prajekan Lor Fandi Shofan Hidayat.

Kades yang juga seniman patung itu mengaku, pameran Kento’ Bhaceng ini mengubah semua pemikiran seseorang tentang pemeran seni. “Tidak digelar di gedung, aula. Tapi di gang perkampungan,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia mengaku, awal kali ke sana banyak sekali anak-anak yang merasa ragu untuk masuk. Keraguannya adalah pameran seni tersebut berbayar. Padahal, pameran tersebut gratis. Karena itu, tentu saja pemaran kesenian ini menjadi wadah edukasi yang bagus untuk tumbuh kembang anak.

Menurutnya, sebuah pameran eksperimental tersebut sangat bermanfaat kepada anak-anak untuk menambah wawasan dan daya imajinasi mereka. “Seni ini menghidupkan imajinasi,” ucapnya.

Budiamin, Ketua Kalimat Project, menyebut, pameran tersebut berangkat dari kegelisahan para seniman yang tergabung dalam komunitasnya. “Kami ingin angkat kesenian bahwa seniman juga bisa punya peran,” katanya.

Dikonfirmasi terkait tema yang diambil, Budiamin menjelaskan, tema tersebut merupakan sebuah kritik sosial bagi masyarakat maupun pemerintahan. Sebab, pihaknya melihat di Indonesia, khususnya di Bondowoso, masih ada hal yang percuma, tapi tetap saja diperebutkan. “Filosofi kentut, kalau ditahan kan sakit perut. Kalau dikeluarkan pasti bikin ribut,” jelasnya.

Sebenarnya pelajaran yang dapat diambil dari tema yang dicantumkan, menurut Budiamin, jika seseorang dapat menahan kentutnya, kenapa tidak mencoba untuk menahan mulutnya dari mengatakan hal-hal yang tidak baik. “Arti singkatnya begitu lah,” imbuhnya. (ham/c2)

- Advertisement -

Inspirasi untuk membuat lukisan menggunakan material ikan berasal dari kebiasaannya yang suka berkunjung ke pasar di wilayahnya. Terlebih saat Saiful belajar teknik seni nirwana, berbagai bahan yang unik juga dijadikan sebagai materi lukisan. Mulai dari paku, camilan, hingga lainnya. “Pemikiran itu yang membuat kita, kenapa ikan juga bisa menjadi materi,” terangnya.

Secara resmi pameran seni rupa Kento’ Bhaceng ini selesai pada Senin, 28 Maret kemarin. Namun, karena antusiasme tinggi, termasuk ke sekolah-sekolah, pemeran tersebut masih ada. Bahkan, karya seninya juga masih tetap terpajang. “Antusiasme anak-anak hingga sekolah masih ingin berkunjung ke pameran seni Kento’ Bhaceng,” ucap Kepala Desa Prajekan Lor Fandi Shofan Hidayat.

Kades yang juga seniman patung itu mengaku, pameran Kento’ Bhaceng ini mengubah semua pemikiran seseorang tentang pemeran seni. “Tidak digelar di gedung, aula. Tapi di gang perkampungan,” paparnya.

Dia mengaku, awal kali ke sana banyak sekali anak-anak yang merasa ragu untuk masuk. Keraguannya adalah pameran seni tersebut berbayar. Padahal, pameran tersebut gratis. Karena itu, tentu saja pemaran kesenian ini menjadi wadah edukasi yang bagus untuk tumbuh kembang anak.

Menurutnya, sebuah pameran eksperimental tersebut sangat bermanfaat kepada anak-anak untuk menambah wawasan dan daya imajinasi mereka. “Seni ini menghidupkan imajinasi,” ucapnya.

Budiamin, Ketua Kalimat Project, menyebut, pameran tersebut berangkat dari kegelisahan para seniman yang tergabung dalam komunitasnya. “Kami ingin angkat kesenian bahwa seniman juga bisa punya peran,” katanya.

Dikonfirmasi terkait tema yang diambil, Budiamin menjelaskan, tema tersebut merupakan sebuah kritik sosial bagi masyarakat maupun pemerintahan. Sebab, pihaknya melihat di Indonesia, khususnya di Bondowoso, masih ada hal yang percuma, tapi tetap saja diperebutkan. “Filosofi kentut, kalau ditahan kan sakit perut. Kalau dikeluarkan pasti bikin ribut,” jelasnya.

Sebenarnya pelajaran yang dapat diambil dari tema yang dicantumkan, menurut Budiamin, jika seseorang dapat menahan kentutnya, kenapa tidak mencoba untuk menahan mulutnya dari mengatakan hal-hal yang tidak baik. “Arti singkatnya begitu lah,” imbuhnya. (ham/c2)

Inspirasi untuk membuat lukisan menggunakan material ikan berasal dari kebiasaannya yang suka berkunjung ke pasar di wilayahnya. Terlebih saat Saiful belajar teknik seni nirwana, berbagai bahan yang unik juga dijadikan sebagai materi lukisan. Mulai dari paku, camilan, hingga lainnya. “Pemikiran itu yang membuat kita, kenapa ikan juga bisa menjadi materi,” terangnya.

Secara resmi pameran seni rupa Kento’ Bhaceng ini selesai pada Senin, 28 Maret kemarin. Namun, karena antusiasme tinggi, termasuk ke sekolah-sekolah, pemeran tersebut masih ada. Bahkan, karya seninya juga masih tetap terpajang. “Antusiasme anak-anak hingga sekolah masih ingin berkunjung ke pameran seni Kento’ Bhaceng,” ucap Kepala Desa Prajekan Lor Fandi Shofan Hidayat.

Kades yang juga seniman patung itu mengaku, pameran Kento’ Bhaceng ini mengubah semua pemikiran seseorang tentang pemeran seni. “Tidak digelar di gedung, aula. Tapi di gang perkampungan,” paparnya.

Dia mengaku, awal kali ke sana banyak sekali anak-anak yang merasa ragu untuk masuk. Keraguannya adalah pameran seni tersebut berbayar. Padahal, pameran tersebut gratis. Karena itu, tentu saja pemaran kesenian ini menjadi wadah edukasi yang bagus untuk tumbuh kembang anak.

Menurutnya, sebuah pameran eksperimental tersebut sangat bermanfaat kepada anak-anak untuk menambah wawasan dan daya imajinasi mereka. “Seni ini menghidupkan imajinasi,” ucapnya.

Budiamin, Ketua Kalimat Project, menyebut, pameran tersebut berangkat dari kegelisahan para seniman yang tergabung dalam komunitasnya. “Kami ingin angkat kesenian bahwa seniman juga bisa punya peran,” katanya.

Dikonfirmasi terkait tema yang diambil, Budiamin menjelaskan, tema tersebut merupakan sebuah kritik sosial bagi masyarakat maupun pemerintahan. Sebab, pihaknya melihat di Indonesia, khususnya di Bondowoso, masih ada hal yang percuma, tapi tetap saja diperebutkan. “Filosofi kentut, kalau ditahan kan sakit perut. Kalau dikeluarkan pasti bikin ribut,” jelasnya.

Sebenarnya pelajaran yang dapat diambil dari tema yang dicantumkan, menurut Budiamin, jika seseorang dapat menahan kentutnya, kenapa tidak mencoba untuk menahan mulutnya dari mengatakan hal-hal yang tidak baik. “Arti singkatnya begitu lah,” imbuhnya. (ham/c2)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/