alexametrics
31.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Melihat Pameran Seni Kento’ Bhaceng

Pameran seni rupa dari Komunitas Kalimat Project dengan tema “Kento’ Bhaceng” secara resmi memang telah usai. Namun, antusiasme yang tinggi, sejatinya pameran itu masih ada. Termasuk karya-karyanya yang menghidupkan daya imajinasi anak-anak.

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pameran seni rupa mulai dari lukisan hingga patung kebanyakan disajikan di gedung, aula, dan tempat-tempat strategis lainnya. Namun, sajian seni rupa dari Komunitas Kalimat Project ini berbeda.

Baca Juga : War Tiket Sengit, Tiket Justin Beiber Sold Out jadi Trending

Tidak di gedung mewah ber-AC, namun justru di rumah yang disulap sedemikian rupa menjadi tempat pertunjukan seni. Bahkan, rumah tersebut berada di gang dan perkampungan padat penduduk di Kelurahan Kademangan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kala masuk di pameran seni rupa tersebut, terdapat beragam lukisan yang membuat masyarakat bertanya-tanya makna satu lukisan. Bahkan, tidak sedikit mereka yang memandang lukisan eksperimental tersebut terdiam, hingga berdiskusi dengan temannya.

Ada satu lukisan yang menarik perhatian. Bila dari kejauhan terlihat lukisan bergaya ekspresionisme. Namun, bila dilihat dari dekat ternyata lukisan tersebut dibuat dari bahan yang tak biasa. Sebab, lukisan itu berbahan ikan teri yang disusun sedemikian rupa hingga menjadi karya seni. Lukisan itu adalah karya Saiful Yatim, seorang pelukis dari Kabupaten Jember. Berdasarkan keterangan dari e-katalog lukisan tersebut tertulis, “ada cerita ikan-ikan teri berbaris dengan ikan rucah. Memusatkan kekuatan sambil teriak-teriak unjuk rasa atas kekosongan persediaan minyak goreng, ajurrrrr”.

Saiful Yatim mengatakan, melalui lukisan tersebut dia ingin menyampaikan bahwa hidup ikan secara berkelompok. Kemudian, berkumpul menjadi satu dapat menimbulkan kebaikan atau keburukan. “Dua sisi itu selalu ada,” katanya.

Dalam karya seni rupa yang menggambarkan epicentrum itu, Saiful juga menjelaskan istilah tersebut dapat diartikan sebagai pusat gempa. Di mana hal itu identik dengan momentum dan kekuatan.

Pembuatan dari lukisan satu ini menggunakan teknik campuran. Mulai dari teknik kering, teknik boxi, teknik acrylic, dan sebagainya. Waktu yang dibutuhkan untuk membuat lukisan terbilang cukup lama. Kurang lebih sepekan. Karena di dalamnya ada proses drawing yang menggunakan pensil warna dan spidol. “Kemudian baru dilukis dan finishing pakai ikan ditempel itu,” imbuhnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pameran seni rupa mulai dari lukisan hingga patung kebanyakan disajikan di gedung, aula, dan tempat-tempat strategis lainnya. Namun, sajian seni rupa dari Komunitas Kalimat Project ini berbeda.

Baca Juga : War Tiket Sengit, Tiket Justin Beiber Sold Out jadi Trending

Tidak di gedung mewah ber-AC, namun justru di rumah yang disulap sedemikian rupa menjadi tempat pertunjukan seni. Bahkan, rumah tersebut berada di gang dan perkampungan padat penduduk di Kelurahan Kademangan.

Kala masuk di pameran seni rupa tersebut, terdapat beragam lukisan yang membuat masyarakat bertanya-tanya makna satu lukisan. Bahkan, tidak sedikit mereka yang memandang lukisan eksperimental tersebut terdiam, hingga berdiskusi dengan temannya.

Ada satu lukisan yang menarik perhatian. Bila dari kejauhan terlihat lukisan bergaya ekspresionisme. Namun, bila dilihat dari dekat ternyata lukisan tersebut dibuat dari bahan yang tak biasa. Sebab, lukisan itu berbahan ikan teri yang disusun sedemikian rupa hingga menjadi karya seni. Lukisan itu adalah karya Saiful Yatim, seorang pelukis dari Kabupaten Jember. Berdasarkan keterangan dari e-katalog lukisan tersebut tertulis, “ada cerita ikan-ikan teri berbaris dengan ikan rucah. Memusatkan kekuatan sambil teriak-teriak unjuk rasa atas kekosongan persediaan minyak goreng, ajurrrrr”.

Saiful Yatim mengatakan, melalui lukisan tersebut dia ingin menyampaikan bahwa hidup ikan secara berkelompok. Kemudian, berkumpul menjadi satu dapat menimbulkan kebaikan atau keburukan. “Dua sisi itu selalu ada,” katanya.

Dalam karya seni rupa yang menggambarkan epicentrum itu, Saiful juga menjelaskan istilah tersebut dapat diartikan sebagai pusat gempa. Di mana hal itu identik dengan momentum dan kekuatan.

Pembuatan dari lukisan satu ini menggunakan teknik campuran. Mulai dari teknik kering, teknik boxi, teknik acrylic, dan sebagainya. Waktu yang dibutuhkan untuk membuat lukisan terbilang cukup lama. Kurang lebih sepekan. Karena di dalamnya ada proses drawing yang menggunakan pensil warna dan spidol. “Kemudian baru dilukis dan finishing pakai ikan ditempel itu,” imbuhnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pameran seni rupa mulai dari lukisan hingga patung kebanyakan disajikan di gedung, aula, dan tempat-tempat strategis lainnya. Namun, sajian seni rupa dari Komunitas Kalimat Project ini berbeda.

Baca Juga : War Tiket Sengit, Tiket Justin Beiber Sold Out jadi Trending

Tidak di gedung mewah ber-AC, namun justru di rumah yang disulap sedemikian rupa menjadi tempat pertunjukan seni. Bahkan, rumah tersebut berada di gang dan perkampungan padat penduduk di Kelurahan Kademangan.

Kala masuk di pameran seni rupa tersebut, terdapat beragam lukisan yang membuat masyarakat bertanya-tanya makna satu lukisan. Bahkan, tidak sedikit mereka yang memandang lukisan eksperimental tersebut terdiam, hingga berdiskusi dengan temannya.

Ada satu lukisan yang menarik perhatian. Bila dari kejauhan terlihat lukisan bergaya ekspresionisme. Namun, bila dilihat dari dekat ternyata lukisan tersebut dibuat dari bahan yang tak biasa. Sebab, lukisan itu berbahan ikan teri yang disusun sedemikian rupa hingga menjadi karya seni. Lukisan itu adalah karya Saiful Yatim, seorang pelukis dari Kabupaten Jember. Berdasarkan keterangan dari e-katalog lukisan tersebut tertulis, “ada cerita ikan-ikan teri berbaris dengan ikan rucah. Memusatkan kekuatan sambil teriak-teriak unjuk rasa atas kekosongan persediaan minyak goreng, ajurrrrr”.

Saiful Yatim mengatakan, melalui lukisan tersebut dia ingin menyampaikan bahwa hidup ikan secara berkelompok. Kemudian, berkumpul menjadi satu dapat menimbulkan kebaikan atau keburukan. “Dua sisi itu selalu ada,” katanya.

Dalam karya seni rupa yang menggambarkan epicentrum itu, Saiful juga menjelaskan istilah tersebut dapat diartikan sebagai pusat gempa. Di mana hal itu identik dengan momentum dan kekuatan.

Pembuatan dari lukisan satu ini menggunakan teknik campuran. Mulai dari teknik kering, teknik boxi, teknik acrylic, dan sebagainya. Waktu yang dibutuhkan untuk membuat lukisan terbilang cukup lama. Kurang lebih sepekan. Karena di dalamnya ada proses drawing yang menggunakan pensil warna dan spidol. “Kemudian baru dilukis dan finishing pakai ikan ditempel itu,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/