alexametrics
24.6 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Keceriaan Murid Terpancar tatkala Masuk Gerbang

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Lima SMP di Bondowoso sudah menggelar PTM, dua pekan lalu. Para guru pun memberikan materi pelajaran kepada murid dengan tetap mengutamakan protokol kesehatan (prokes). Salah satunya Mohammad Hairul, guru SMPN 1 Bondowoso.
Menurut pria yang akrab disapa Hairul ini, siswa sangat antusias menyambut pembelajaran tatap muka. Pun dengan para guru. Sudah cukup lama guru tak melihat keceriaan peserta didiknya.
“Saya melihat keceriaan di wajah anak-anak ketika mereka masuk gerbang sekolah. Kiranya mereka senang bisa kembali tatap muka di sekolah dengan guru dan teman-temannya,” bebernya.
Hairul menambahkan, dia bersama para guru lainnya memanfaatkan masa uji coba PTM untuk memastikan kondisi siswa kelas 9 yang tak lama lagi akan lulus.
“Masa PTM ini juga kami fungsikan untuk sosialisasi pelaksanaan berbagai kegiatan akhir siswa kelas 9. Seperti halnya ujian praktik, ujian akhir semester (UAS) dan ujian satuan pendidikan (USP),” imbuh guru yang juga gemar menulis buku ini.
Guru alumnus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini mengatakan, selain penerapan prokes yang ketat, para guru juga mengecek kedisiplinan siswa-siswi. “Seperti halnya langsung kami biasakan kembali siswa untuk hormat bendera merah putih di zona kebangsaan halaman sekolah, untuk terus menumbuhkan rasa nasionalisme siswa,” lanjutnya.
Di SMPN 1 Bondowoso, tiap harinya para siswa kelas 9 masuk dengan dua sesi. Sesi pertama pukul 07.30 hingga 09.30. Dengan siswa nomor absen 1 sampai 16. Di sesi kedua pukul 10.00 sampai 12.00, nomor absen 17-32. “Satu kelas maksimal 16 siswa,” ujarnya.
Metode pembelajaran yang diberikan para guru pun tak asal. “Metode pembahasan soal. Materi sudah di-share hari sebelumnya, sehingga saat di kelas tinggal pembahasan bersama,” bebernya.
Ketika disinggung apakah guru juga memberikan pekerjaan rumah (PR) kembali kepada siswa atau menggelar semacam tes harian, hingga les tambahan bagi siswa kelas 9 yang akan beranjak ke SMA, Hairul pun mengaku hanya memfokuskan tiga ujian saja.
“Lebih pada penyampaian bahan-bahan untuk ujian praktik, UAS, dan USP. Masih fokus pada materi siswa di kelas 9, Mas. Sebelumnya saat Zoom Meeting ada PIB (program intensif belajar, Red) untuk kelas 9,” jelas dia.
Sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, Hairul menjabarkan, kini dirinya juga memberikan materi diagnostik. “Saya lebih pada melakukan asesmen diagnostik. Yaitu me-review semua materi saat daring dan menuntaskannya di tatap muka. Sehingga jelas apa yang siswa sudah bisa dan apa yang masih belum. Dan lebih kami tekankan adalah terbentuknya kembali kedekatan emosional guru-siswa,” pungkas Hairul.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Lima SMP di Bondowoso sudah menggelar PTM, dua pekan lalu. Para guru pun memberikan materi pelajaran kepada murid dengan tetap mengutamakan protokol kesehatan (prokes). Salah satunya Mohammad Hairul, guru SMPN 1 Bondowoso.
Menurut pria yang akrab disapa Hairul ini, siswa sangat antusias menyambut pembelajaran tatap muka. Pun dengan para guru. Sudah cukup lama guru tak melihat keceriaan peserta didiknya.
“Saya melihat keceriaan di wajah anak-anak ketika mereka masuk gerbang sekolah. Kiranya mereka senang bisa kembali tatap muka di sekolah dengan guru dan teman-temannya,” bebernya.
Hairul menambahkan, dia bersama para guru lainnya memanfaatkan masa uji coba PTM untuk memastikan kondisi siswa kelas 9 yang tak lama lagi akan lulus.
“Masa PTM ini juga kami fungsikan untuk sosialisasi pelaksanaan berbagai kegiatan akhir siswa kelas 9. Seperti halnya ujian praktik, ujian akhir semester (UAS) dan ujian satuan pendidikan (USP),” imbuh guru yang juga gemar menulis buku ini.
Guru alumnus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini mengatakan, selain penerapan prokes yang ketat, para guru juga mengecek kedisiplinan siswa-siswi. “Seperti halnya langsung kami biasakan kembali siswa untuk hormat bendera merah putih di zona kebangsaan halaman sekolah, untuk terus menumbuhkan rasa nasionalisme siswa,” lanjutnya.
Di SMPN 1 Bondowoso, tiap harinya para siswa kelas 9 masuk dengan dua sesi. Sesi pertama pukul 07.30 hingga 09.30. Dengan siswa nomor absen 1 sampai 16. Di sesi kedua pukul 10.00 sampai 12.00, nomor absen 17-32. “Satu kelas maksimal 16 siswa,” ujarnya.
Metode pembelajaran yang diberikan para guru pun tak asal. “Metode pembahasan soal. Materi sudah di-share hari sebelumnya, sehingga saat di kelas tinggal pembahasan bersama,” bebernya.
Ketika disinggung apakah guru juga memberikan pekerjaan rumah (PR) kembali kepada siswa atau menggelar semacam tes harian, hingga les tambahan bagi siswa kelas 9 yang akan beranjak ke SMA, Hairul pun mengaku hanya memfokuskan tiga ujian saja.
“Lebih pada penyampaian bahan-bahan untuk ujian praktik, UAS, dan USP. Masih fokus pada materi siswa di kelas 9, Mas. Sebelumnya saat Zoom Meeting ada PIB (program intensif belajar, Red) untuk kelas 9,” jelas dia.
Sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, Hairul menjabarkan, kini dirinya juga memberikan materi diagnostik. “Saya lebih pada melakukan asesmen diagnostik. Yaitu me-review semua materi saat daring dan menuntaskannya di tatap muka. Sehingga jelas apa yang siswa sudah bisa dan apa yang masih belum. Dan lebih kami tekankan adalah terbentuknya kembali kedekatan emosional guru-siswa,” pungkas Hairul.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Lima SMP di Bondowoso sudah menggelar PTM, dua pekan lalu. Para guru pun memberikan materi pelajaran kepada murid dengan tetap mengutamakan protokol kesehatan (prokes). Salah satunya Mohammad Hairul, guru SMPN 1 Bondowoso.
Menurut pria yang akrab disapa Hairul ini, siswa sangat antusias menyambut pembelajaran tatap muka. Pun dengan para guru. Sudah cukup lama guru tak melihat keceriaan peserta didiknya.
“Saya melihat keceriaan di wajah anak-anak ketika mereka masuk gerbang sekolah. Kiranya mereka senang bisa kembali tatap muka di sekolah dengan guru dan teman-temannya,” bebernya.
Hairul menambahkan, dia bersama para guru lainnya memanfaatkan masa uji coba PTM untuk memastikan kondisi siswa kelas 9 yang tak lama lagi akan lulus.
“Masa PTM ini juga kami fungsikan untuk sosialisasi pelaksanaan berbagai kegiatan akhir siswa kelas 9. Seperti halnya ujian praktik, ujian akhir semester (UAS) dan ujian satuan pendidikan (USP),” imbuh guru yang juga gemar menulis buku ini.
Guru alumnus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini mengatakan, selain penerapan prokes yang ketat, para guru juga mengecek kedisiplinan siswa-siswi. “Seperti halnya langsung kami biasakan kembali siswa untuk hormat bendera merah putih di zona kebangsaan halaman sekolah, untuk terus menumbuhkan rasa nasionalisme siswa,” lanjutnya.
Di SMPN 1 Bondowoso, tiap harinya para siswa kelas 9 masuk dengan dua sesi. Sesi pertama pukul 07.30 hingga 09.30. Dengan siswa nomor absen 1 sampai 16. Di sesi kedua pukul 10.00 sampai 12.00, nomor absen 17-32. “Satu kelas maksimal 16 siswa,” ujarnya.
Metode pembelajaran yang diberikan para guru pun tak asal. “Metode pembahasan soal. Materi sudah di-share hari sebelumnya, sehingga saat di kelas tinggal pembahasan bersama,” bebernya.
Ketika disinggung apakah guru juga memberikan pekerjaan rumah (PR) kembali kepada siswa atau menggelar semacam tes harian, hingga les tambahan bagi siswa kelas 9 yang akan beranjak ke SMA, Hairul pun mengaku hanya memfokuskan tiga ujian saja.
“Lebih pada penyampaian bahan-bahan untuk ujian praktik, UAS, dan USP. Masih fokus pada materi siswa di kelas 9, Mas. Sebelumnya saat Zoom Meeting ada PIB (program intensif belajar, Red) untuk kelas 9,” jelas dia.
Sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, Hairul menjabarkan, kini dirinya juga memberikan materi diagnostik. “Saya lebih pada melakukan asesmen diagnostik. Yaitu me-review semua materi saat daring dan menuntaskannya di tatap muka. Sehingga jelas apa yang siswa sudah bisa dan apa yang masih belum. Dan lebih kami tekankan adalah terbentuknya kembali kedekatan emosional guru-siswa,” pungkas Hairul.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/