alexametrics
24.1 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Minta Puskesmas Pujer Tak Lagi Jadi Puskesmas Rujukan

Warga Layangkan Surat kepada Bupati

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pascakerusuhan pengambilan paksa jenazah terkonfirmasi positif Covid-19 beberapa hari lalu di Puskesmas Pujer, kini berimbas kepada warga sekitar. Puluhan warga sekitar Puskesmas Pujer membuat surat pernyataan yang tak menginginkan Puskesmas Pujer dijadikan lokasi atau fasilitas kesehatan rujukan pasien Covid-19.

Sebagaimana diketahui, ada lima Puskesmas yang dijadikan puskesmas rujukan Covid-19. Di antaranya Puskesmas Grujugan, Tamanan, Wringin, Prajekan, dan Pujer.

Surat pernyataan keberatan itu ditujukan langsung kepada Bupati Bondowoso KH Salwa Arifin. Total ada 73 orang yang menandatangani kesepakatan surat tersebut. Abdul Majid, salah seorang anggota DPRD Kabupaten Bondowoso yang juga berkediaman di Kecamatan Pujer, membenarkan adanya surat pernyataan dari para warga tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut Majid, masyarakat merasa cemas dan ketakutan karena ternyata ada pasien Covid-19 di Puskesmas Pujer yang sampai meninggal. Selain itu, kejadian kerusuhan beberapa waktu lalu juga membuat warga sekitar syok. “Apalagi setelah ada kejadian pasien yang dijemput paksa. Karenanya, kami meminta kebijakan dari bupati mengenai penunjukkan Puskesmas Pujer jadi puskesmas rujukan Covid-19 ditinjau kembali,” harapnya.

Politisi partai Gerindra ini melanjutkan bahwa kerusuhan kemarin mengganggu ketertiban dan keamanan warga. Dia bersama puluhan warga sepakat agar Puskesmas Pujer dikembalikan menjadi puskesmas yang melayani pasien umum. “Agar tidak dijadikan lagi puskesmas yang merawat pasien Covid-19,” imbuhnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pascakerusuhan pengambilan paksa jenazah terkonfirmasi positif Covid-19 beberapa hari lalu di Puskesmas Pujer, kini berimbas kepada warga sekitar. Puluhan warga sekitar Puskesmas Pujer membuat surat pernyataan yang tak menginginkan Puskesmas Pujer dijadikan lokasi atau fasilitas kesehatan rujukan pasien Covid-19.

Sebagaimana diketahui, ada lima Puskesmas yang dijadikan puskesmas rujukan Covid-19. Di antaranya Puskesmas Grujugan, Tamanan, Wringin, Prajekan, dan Pujer.

Surat pernyataan keberatan itu ditujukan langsung kepada Bupati Bondowoso KH Salwa Arifin. Total ada 73 orang yang menandatangani kesepakatan surat tersebut. Abdul Majid, salah seorang anggota DPRD Kabupaten Bondowoso yang juga berkediaman di Kecamatan Pujer, membenarkan adanya surat pernyataan dari para warga tersebut.

Menurut Majid, masyarakat merasa cemas dan ketakutan karena ternyata ada pasien Covid-19 di Puskesmas Pujer yang sampai meninggal. Selain itu, kejadian kerusuhan beberapa waktu lalu juga membuat warga sekitar syok. “Apalagi setelah ada kejadian pasien yang dijemput paksa. Karenanya, kami meminta kebijakan dari bupati mengenai penunjukkan Puskesmas Pujer jadi puskesmas rujukan Covid-19 ditinjau kembali,” harapnya.

Politisi partai Gerindra ini melanjutkan bahwa kerusuhan kemarin mengganggu ketertiban dan keamanan warga. Dia bersama puluhan warga sepakat agar Puskesmas Pujer dikembalikan menjadi puskesmas yang melayani pasien umum. “Agar tidak dijadikan lagi puskesmas yang merawat pasien Covid-19,” imbuhnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pascakerusuhan pengambilan paksa jenazah terkonfirmasi positif Covid-19 beberapa hari lalu di Puskesmas Pujer, kini berimbas kepada warga sekitar. Puluhan warga sekitar Puskesmas Pujer membuat surat pernyataan yang tak menginginkan Puskesmas Pujer dijadikan lokasi atau fasilitas kesehatan rujukan pasien Covid-19.

Sebagaimana diketahui, ada lima Puskesmas yang dijadikan puskesmas rujukan Covid-19. Di antaranya Puskesmas Grujugan, Tamanan, Wringin, Prajekan, dan Pujer.

Surat pernyataan keberatan itu ditujukan langsung kepada Bupati Bondowoso KH Salwa Arifin. Total ada 73 orang yang menandatangani kesepakatan surat tersebut. Abdul Majid, salah seorang anggota DPRD Kabupaten Bondowoso yang juga berkediaman di Kecamatan Pujer, membenarkan adanya surat pernyataan dari para warga tersebut.

Menurut Majid, masyarakat merasa cemas dan ketakutan karena ternyata ada pasien Covid-19 di Puskesmas Pujer yang sampai meninggal. Selain itu, kejadian kerusuhan beberapa waktu lalu juga membuat warga sekitar syok. “Apalagi setelah ada kejadian pasien yang dijemput paksa. Karenanya, kami meminta kebijakan dari bupati mengenai penunjukkan Puskesmas Pujer jadi puskesmas rujukan Covid-19 ditinjau kembali,” harapnya.

Politisi partai Gerindra ini melanjutkan bahwa kerusuhan kemarin mengganggu ketertiban dan keamanan warga. Dia bersama puluhan warga sepakat agar Puskesmas Pujer dikembalikan menjadi puskesmas yang melayani pasien umum. “Agar tidak dijadikan lagi puskesmas yang merawat pasien Covid-19,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/